Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #66

Renungan di Bawah Langit

Renungan di Bawah Langit Malam Sukamaju

Di tengah keheningan malam yang menyelimuti Desa Sukamaju, di mana suara jangkrik bersahutan dengan desiran angin pegunungan yang menyejukkan, Shasmira sering kali duduk seorang diri di serambi rumah panggungnya. Ia memandang ke arah taburan bintang yang berkilauan bagaikan berlian di atas hamparan langit malam yang luas. Masa-masa penantian yang panjang, ujian dari berbagai lamaran yang datang silih berganti di masa lalu, serta ujian jarak yang sempat memisahkannya dari Arkan telah mengajarkannya banyak hal tentang hakikat kehidupan yang sesungguhnya.

Shasmira menyadari bahwa manusia sering kali merencanakan jalan hidupnya dengan begitu rinci dan penuh ambisi, namun ketetapan Allah SWT selalu datang dengan cara yang paling misterius, bijaksana, dan indah pada waktunya. Ia belajar bahwa masa-masa penantian bukanlah waktu yang terbuang sia-sia, melainkan sebuah madrasah batin tempat ia menempa kesabaran, memperkuat keikhlasan, dan membersihkan niat di dalam setiap langkah kecilnya.

"Belum tidur, Shas?" suara lembut Nyai Salmah memecah keheningan malam, membuyarkan lamunan putrinya yang tengah menatap langit.

Shasmira menoleh pelan, menyambut senyuman ibunya dengan tatapan hangat. "Belum, Bu. Udara malam ini terasa begitu tenang, membuat Shasmira ingin menikmati keindahannya sebentar lagi."

Nyai Salmah melangkah mendekat, lalu mendudukkan dirinya di kursi bambu di sebelah Shasmira. Beliau merangkul pundak putrinya dengan penuh kasih sayang. "Ibu tahu apa yang sedang ada di dalam pikiranmu, Nduk. Mengingat kembali perjalanan panjang yang telah kalian berdua lewati hingga sampai di titik ini."

"Iya, Bu," balas Shasmira lirih, matanya berkaca-kaca memantulkan cahaya temaram lampu minyak di beranda. "Dulu, saat badai sengketa tanah dan ancaman sindikat datang bertubi-tubi, Shasmira sempat merasa takut. Tapi sekarang, setelah semuanya menjadi terang, Shasmira baru mengerti hikmah di balik setiap air mata dan doa yang dipanjatkan."

"Itulah buah dari kesabaran, Shas," tutur Nyai Salmah bijak sambil membelai kerudung abu-abu putrinya. "Allah tidak pernah tidur. Dia menguji hamba-hamba-Nya bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menaikkan derajat mereka ke tingkat yang lebih mulia."

Di tempat lain di desa yang sama, Arkan pun tengah merenungkan hal yang serupa. Duduk di teras rumahnya sambil menatap langit malam yang dinaungi rasi bintang yang sama, pemuda itu merasa bersyukur yang teramat sangat. Gelar sarjana yang baru saja diraihnya di ibu kota bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab baru untuk membimbing Shasmira dan membangun keluarga yang sakinah di tanah kelahiran mereka tercinta.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, matahari menerbitkan sinarnya dengan begitu hangat di atas atap-atap rumah penduduk Desa Sukamaju. Aktivitas warga kembali berjalan normal dengan penuh semangat. Para petani tampak berbondong-bondong menuju sawah untuk merawat tanaman padi yang mulai menguning, sementara anak-anak santri bergegas riang menuju Madrasah Al-Hikmah.

Shasmira melangkah memasuki ruang kelas madrasah dengan membawa setumpuk buku catatan pelajaran agama. Senyuman manis selalu menghiasi wajahnya, memancarkan ketenangan jiwa yang baru saja ia temukan melalui renungan malamnya.

"Pagi, Ibu Guru Shasmira!" sapa para santri cilik serempak begitu Shasmira melangkah masuk ke dalam ruangan kelas.

"Pagi juga, anak-anakku," jawab Shasmira lembut sambil meletakkan buku di atas meja guru. "Bagaimana hafalan surah pendek kalian minggu ini? Apakah sudah disiapkan dengan baik?"

Di luar kelas, Arkan datang membawa beberapa alat tulis tambahan untuk kebutuhan perpustakaan madrasah. Pemuda itu berdiri sejenak di dekat jendela, memperhatikan bagaimana Shasmira mengajar dengan penuh kesabaran dan kelembutan. Getaran rindu yang sempat tertahan kini berubah menjadi rasa syukur yang mendalam di dada Arkan.

Selesai jam pelajaran pertama, Shasmira keluar dari kelas dan mendapati Arkan sedang merapikan buku-buku di rak perpustakaan kecil. Langkah kakinya terhenti sejenak sebelum ia menyapa sang pemuda dengan senyuman tipis.

"Pagi, Arkan. Tadi malam kamu tidur nyenyak?" tanya Shasmira ramah.

Arkan menoleh, lalu membalas senyuman itu dengan tatapan penuh binar cinta. "Pagi, Shas. Tidur nyenyak sekali, apalagi setelah merenungkan perjalanan panjang yang sudah kita lewati bersama."

"Kamu ini suka sekali merenung seperti filsuf tua saja," goda Shasmira ringan, mencairkan suasana di antara mereka.

"Bukannya filsuf, Shas, tapi seorang lelaki yang sedang bersyukur karena memiliki wanita sabar sepertimu," jawab Arkan tulus, membuat rona merah muda langsung menghiasi pipi Shasmira.

Namun, di tengah kehangatan pagi di madrasah itu, Pak RT tiba-tiba datang menghampiri mereka dengan langkah tergesa-gesa membawa sebuah amplop kecil berselotip merah.

"Nak Arkan, Mbak Shasmira... maaf mengganggu waktu kalian sebentar," ucap Pak RT dengan napas sedikit terengah-engah. "Ada kiriman surat kilat khusus dari kantor pos kabupaten pagi ini, ditujukan langsung ke rumah panggung."

❖ ❖ ❖

Shasmira dan Arkan langsung berpandangan seketika mendengar laporan Pak RT. Kening Arkan berkerut tipis, sementara rasa penasaran bercampur cemas merayap di dada Shasmira.

"Surat dari kantor pos kabupaten, Pak RT? Dari siapa pengirimnya?" tanya Shasmira penasaran sambil menerima amplop tersebut dengan tangan sedikit bergetar.

Pak RT menggeleng pelan. "Kurir pos tadi tidak menuliskan nama pengirim perorangan, melainkan cap resmi dari instansi arsip sejarah dan kebudayaan daerah. Karena menyangkut dokumen keluarga Kyai Ahmad, saya langsung membawanya ke sini."

"Terima kasih banyak atas informasinya, Pak RT," ucap Arkan penuh takzim. "Kami akan segera membukanya bersama Kyai Ahmad nanti siang."

Selepas Pak RT pamit kembali ke kantor desa, Shasmira memandangi amplop coklat tebal di tangannya dengan perasaan campur aduk. "Arkan, jangan-jangan surat ini masih berkaitan dengan dokumen sejarah leluhur yang dulu ditemukan di bawah akar pohon beringin?"

Lihat selengkapnya