Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #67

Belajar Pasrah dan Menyerahkan

Belajar Pasrah dan Menyerahkan Segalanya pada Sang Pemilik Waktu

Matahari sore di Desa Sukamaju memancarkan bias cahaya keemasan yang perlahan meredup di balik punggung bukit. Di teras belakang rumah panggung, di dekat deretan pot bunga melati yang harumnya menguar lembut terbawa angin, Shasmira duduk sendiri dengan sebuah buku catatan harian di pangkuannya. Lembaran-lembaran kertas di hadapannya mencatat perjalanan panjang batin seorang perempuan muda yang belajar memaknai arti sabar dan ikhlas secara hakiki.

Selama berminggu-minggu menahan rindu di tengah kesunyian desa, Shasmira mengalami transformasi spiritual yang mendalam. Ia menyadari bahwa rasa cemas yang sempat menghinggapi hatinya di masa lalu muncul karena ia mencoba mengendalikan masa depannya sendiri, merasa seolah segala alur kehidupan harus berjalan sesuai dengan perhitungan rasionalis manusia.

"Astaghfirullahal'azim..." gumam Shasmira lirih, menutup buku catatannya perlahan lalu menengadah menatap langit senja yang mulai dihiasi bintang-bintang kejora.

Ia teringat pada hari-hari awal ketika Arkan harus berangkat ke kota besar untuk merampungkan urusan riset nasional. Saat itu, dadanya kerap sesak oleh ketidakpastian, dihantui rasa takut akan jarak, waktu, dan segala kemungkinan buruk yang bisa memisahkan mereka. Namun, waktu telah mengajarkannya sebuah kebijaksanaan batin yang jauh lebih agung.

Kini, ia melepaskan beban kekhawatiran itu sepenuhnya. Shasmira belajar untuk menyerahkan segalanya kepada Sang Pemilik Waktu. Ia meyakini bahwa jika Arkan memang benar-benar takdir terbaik yang dituliskan untuknya, sejauh apa pun jarak memisahkan dan sebesar apa pun ombak ujian yang menerpa, takdir itu pasti akan menemukan jalannya untuk pulang ke pelukan desa. Sebaliknya, ia juga belajar untuk ikhlas menerima apa pun ketetapan terbaik dari-Nya dengan dada yang lapang.

"Shas, sedang merenung apa sendirian di sini?" suara lembut Siti membuyarkan lamunan putrinya, saat sang ibu datang membawa secangkir teh hangat.

Shasmira tersenyum simpul, menyambut cangkir teh dari tangan ibunya. "Tidak apa-apa, Ibu. Shas hanya sedang menikmati ketenangan sore dan mencoba meresapi makna tawakal yang sesungguhnya."

Siti duduk di kursi sebelah, menatap putrinya dengan pandangan penuh kelembutan dan kebanggaan seorang ibu. "Ibu melihat perubahan besar dalam dirimu, Nak. Kau tampak jauh lebih tenang, lebih bercahaya, dan penuh kepasrahan yang indah."

"Iya, Bu. Dulu Shas selalu ingin segalanya cepat selesai sesuai kehendak hati. Sekarang Shas sadar, Allah memiliki skenario waktu yang jauh lebih sempurna daripada rencana manusia," jawab Shasmira mantap, memancarkan ketenangan jiwa yang luar biasa.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, kesibukan di Madrasah Al-Hikmah kembali menggeliat sejak fajar menyingsing. Shasmira melangkah ringan menyusuri koridor kelas menuju perpustakaan, membawa setumpuk buku referensi literatur Islam klasik yang baru saja dirapikannya.

Setiap langkah kakinya kini terasa tidak lagi terbebani oleh rasa cemas. Transformasi spiritual yang ia alami mengubah cara pandangnya dalam menghadapi setiap masalah, termasuk dinamika persiapan pernikahan dan tugas-tugas keagamaan di madrasah.

"Pagi, Shasmira! Wah, sepertinya aura hari ini berbeda sekali. Wajahmu tampak sangat damai," sapa Aminah riang begitu ia keluar dari ruang guru membawa daftar hadir santri.

Shasmira tersenyum hangat, menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu perpustakaan. "Pagi juga, Aminah. Alhamdulillah, rasanya beban di pundakku jauh berkurang setelah aku belajar benar-benar menyerahkan segala urusan kepada Allah."

Aminah mengerjap-ngerjap takjub, lalu tersenyum usil. "Wah, jangan-jangan karena surat kabar dari kota yang dikirimkan Arkan kemarin ya? Makanya hatimu jadi setenang air telaga."

"Bukan sekadar karena surat itu, Min," tanggap Shasmira lembut sambil tertawa kecil. "Tapi karena aku baru menyadari bahwa cemas berlebihan tidak akan mengubah takdir, melainkan hanya menyiksa diri sendiri. Kita cukup ikhtiar maksimal, selebihnya biarkan Sang Pemilik Waktu yang mengatur jalannya."

"Kau benar sekali, Shas. Kadang kita terlalu sibuk memikirkan hasil akhir sampai lupa menikmati proses tawakal itu sendiri," aku Aminah bijak, merenungkan perkataan sahabat karibnya.

Di tengah percakapan ringan tersebut, Kyai Ahmad melangkah mendekat dari arah ruang kepala madrasah, membawa map dokumen berwarna biru di tangannya. Sang kiai menatap putrinya dengan senyuman arif yang menyiratkan rasa bangga yang mendalam.

"Shasmira, Aminah, kalian sedang membicarakan apa pagi ini tampak begitu serius?" sapa Kyai Ahmad ramah.

"Ah, tidak, Ayah. Shas hanya sedang menceritakan bagaimana rasanya belajar ikhlas dan pasrah sepenuhnya kepada ketetapan Allah," jawab Shasmira takzim, mencium punggung tangan ayahnya.

Kyai Ahmad mengangguk penuh apresiasi. "Itulah buah dari ilmu hakiki, Nak. Orang yang bertawakal kepada Allah tidak akan pernah merasa kehilangan arah, karena ia tahu bahwa setiap detik hidupnya berada dalam genggaman kasih sayang-Nya."

Percakapan singkat di koridor madrasah itu semakin meneguhkan kedewasaan berpikir Shasmira, mempersiapkannya menghadapi apa pun takdir yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.

❖ ❖ ❖

Sementara itu, di pusat kota metropolitan yang bising, Arkan baru saja menyelesaikan sesi evaluasi terakhir bersama dewan direksi lembaga riset pendidikan nasional. Meskipun ruang rapat ber-AC itu dipenuhi ketegangan birokrasi, pemuda desa tersebut tampak duduk dengan tenang dan penuh percaya diri.

"Arkan, presentasi dan hasil akhir riset integrasi pesantren yang kau pimpin benar-benar melampaui ekspektasi kami," puji pimpinan sidang rapat dengan nada kagum. "Model kurikulum ini akan segera kita sahkan menjadi standar nasional."

Lihat selengkapnya