Kelulusan yang Menghapus Segala Lelah---
Pagi hari di kampus universitas ibu kota menyingsing dengan sorot matahari yang menembus celah-celah gedung bertingkat, membawa serta hawa hangat yang menyengat dan ritme kesibukan akademis yang luar biasa tinggi. Di dalam ruang sidang tertutup lantai tiga gedung fakultas humaniora, suasana terasa begitu senyap dan tegang. Arkan duduk tegak di kursi sakral di hadapan meja panjang tempat tiga orang dosen penguji senior duduk dengan ekspresi serius. Di atas meja di hadapannya terletak bundel tebal skripsi antropologi yang merangkum hasil penelitian lapangannya selama berbulan-bulan di Desa Sukamaju. Seluruh tenaga, pikiran, dan tetesan keringat yang ia curahkan di tanah perantauan kini bermuara pada detik-detik penentuan yang sangat menentukan masa depannya.
Pertanyaan demi pertanyaan tajam dilontarkan secara bergantian oleh para penguji, menguji ketajaman metodologi, keakuratan data empiris, hingga relevansi riset pelestarian adat pedesaan yang ia angkat. Arkan menjawab setiap argumen dengan kepala tegak, suara yang tenang, dan penguasaan materi yang sangat mendalam, memadukan ilmu akademis moderen dengan kearifan lokal yang ia saksikan langsung dari kehidupan masyarakat lereng bukit. Setelah berjam-jam melalui sesi tanya jawab yang menguras pikiran, Arkan diminta menunggu di luar ruangan sidang. Waktu terasa berjalan sangat lambat, detak jantungnya bergemuruh seiring bayangan perjuangan panjang yang telah ia lalui di tanah perantauan.
"Silakan tunggu di luar sebentar, Saudara Arkan. Dewan penguji akan melaksanakan sidang pleno tertutup untuk menentukan hasil akhir ujian komprehensif Anda," ucap ketua sidang dengan nada datar namun tegas, mempersilakan Arkan meninggalkan ruangan.
Arkan melangkah keluar perlahan, menutup pintu kayu berat di belakangnya, lalu berdiri bersandar pada dinding koridor kampus yang sepi. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan debaran di dadanya yang terasa begitu kencang. Pikirannya melayang jauh menembus jarak ribuan kilometer, menerobos batas kota metropolitan kembali ke udara sejuk Desa Sukamaju, membayangkan wajah Shasmira yang senantiasa menanti di bawah naungan pohon sawo tua.
"Semoga Allah memberikan hasil yang terbaik setelah sekian banyak ujian kesabaran ini," gumam Arkan pelan pada dirinya sendiri, merapal doa di dalam hati sambil menatap ujung sepatunya yang berdebu.
❖ ❖ ❖
Waktu berjalan merayap di lorong kampus yang sunyi. Setiap detik yang berdetak di jam tangan Arkan terasa seperti beban berat yang menguji ketahanan mentalnya setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan finansial, malam-malam panjang tanpa tidur di kamar indekos sempit, serta kerinduan mendalam yang menekan batinnya. Di ujung koridor, Bayu muncul berjalan cepat sambil membawa dua botol air mineral dingin, lalu menyodorkan salah satunya kepada sahabat setianya itu dengan senyuman lebar penuh optimisme.
"Minumlah dulu, Arkan. Wajahmu pucat pasi karena terlalu tegang menunggu di luar," sapa Bayu ramah, mencoba mencairkan ketegangan yang menyelimuti udara di sekitar mereka.
Arkan menerima botol air mineral tersebut, membuka tutupnya, lalu meneguknya perlahan untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. "Terima kasih, Bayu. Rasanya penantian sepuluh menit di luar sana jauh lebih menegangkan dibandingkan seluruh proses ujian sidang di dalam tadi."
Bayu tertawa kecil, menepuk pundak Arkan dengan penuh keakraban. "Itu wajar sekali, kawan. Semua jerih payahmu selama bertahun-tahun di kampus ini dipertaruhkan di dalam ruangan itu. Tapi aku sangat yakin, riset lapangan tentang Desa Sukamaju yang kamu tulis dengan hati pasti membuahkan hasil yang memuaskan."
"Aku hanya menyerahkan semuanya kepada Yang Kuasa, Bayu. Apapun keputusan dewan penguji nanti, aku ikhlas menerimanya," jawab Arkan mantap, meskipun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang besar.
Tidak lama kemudian, pintu ruang sidang utama berderit pelan, terbuka dari dalam. Seorang staf administrasi fakultas melongok keluar, memanggil nama Arkan untuk segera masuk kembali ke dalam ruangan guna mendengarkan pengumuman resmi hasil sidang pleno tertutup. Arkan menarik napas panjang untuk terakhir kalinya, membenahi letak jas almamaternya, lalu melangkah masuk dengan langkah tegap dan penuh keyakinan.
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam ruang sidang terasa jauh lebih hangat dibanding sebelumnya. Ketika pintu ruang sidang kembali terbuka dan ketua sidang memanggilnya masuk, senyuman tipis tersungging di bibir para dosen. Ketiga dosen penguji yang tadinya memasang wajah serius dan kritis kini tampak menyambut kehadiran Arkan dengan tatapan penuh apresiasi dan kebanggaan seorang pendidik melihat mahasiswasekaligus peneliti mudanya sukses mencapai garis akhir.
Arkan berdiri tegak di tengah ruangan, merapatkan kedua tangan di depan dada sebagai bentuk penghormatan takzim kepada para guru besar di hadapannya.