Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #72

Sore Haru

Sore Haru di Serambi yang Menjadi Saksi

Matahari sore di Desa Sukamaju memancarkan bias cahaya jingga keemasan yang perlahan meredup di balik punggung deretan bukit hijau. Suasana desa menjelang maghrib terasa begitu tenang, diiringi suara angin sepoi-sepoi yang mengayun lembut pelepah daun kelapa serta gemericik air irigasi yang mengalir jernih di tepi jalan. Di halaman depan rumah panggung Kyai Ahmad, aroma harum bunga melati yang ditanam di dalam pot-pot tanah liat menguar di udara, menciptakan nuansa kedamaian yang menyelimuti seluruh kompleks pesantren.

Shasmira yang sedang merapikan tanaman di halaman, terpaku saat melihat sosok pria yang sangat ia kenal berjalan mendekat dari arah gerbang utama madrasah. Debar jantungnya tidak lagi sekencang saat Arkan pertama kali datang bertahun-tahun lalu; kali ini, debar itu terasa damai dan penuh kepastian, selaras dengan kematangan spiritual yang telah ia tempa melalui kesabaran dan doa-doa panjang di sepertiga malam.

"Masya Allah..." gumam Shasmira lirih, jemarinya yang memegang gembor kecil perlahan berhenti bergerak. Ia menatap sosok Arkan yang mengenakan kemeja koko putih bersih, jaket katun gelap, serta peci hitam rapi di kepalanya.

Langkah kaki Arkan terhenti di ambang halaman rumah panggung. Pemuda itu membawa sebuah ransel di punggungnya, menandakan perjalanan jauh yang baru saja ia tempuh dari stasiun kota besar. Wajahnya tampak sedikit lelah, namun sepasang matanya memancarkan binar kebahagiaan yang luar biasa terang, seolah seluruh beban dunia yang sempat menghimpit pundaknya telah tuntas terbayar lunas.

Ketika Arkan sampai di hadapan serambi rumah, Kyai Ahmad sudah berdiri di sana, menyambut dengan senyum lebar yang penuh makna. Arkan segera menyalami sang Kyai dengan takzim, mencium punggung tangan ayah Shasmira dengan penuh penghormatan yang mendalam, lalu beralih menatap Shasmira yang berdiri beberapa langkah di dekat pot bunga melati.

Mata mereka bertemu dalam hening yang syahdu—sebuah pertemuan sore yang penuh haru dan syukur yang mendalam. Tidak ada lagi jarak ratusan kilometer yang memisahkan, tidak ada lagi rasa cemas tentang ketidakpastian masa depan. Yang tersisa hanyalah kejujuran perasaan yang kini menemukan muaranya di tanah kelahiran mereka.

"Selamat datang kembali di Sukamaju, Nak Arkan," sapa Kyai Ahmad ramah dengan suara baritonnya yang menenangkan jiwa. "Kulihat kepulanganmu kali ini membawa ketenangan yang berbeda dari sebelumnya."

"Alhamdulillah, Kiai. Semua berkat doa dan bimbingan Kiai selama ini," jawab Arkan takzim.

Shasmira melangkah mendekat perlahan, menjaga jarak sopan namun membiarkan senyuman tulus merekah di bibirnya. Perasaan haru menyelimuti rongga dadanya, menyaksikan bagaimana perjuangan panjang yang mereka lalui akhirnya berbuah manis di hadapan Sang Pencipta.

❖ ❖ ❖

Suasana di serambi rumah panggung mendadak terasa begitu sakral dan intim. Siti, ibu Shasmira, menyusul keluar dari ruang tengah membawa nampan berisi teko teh hangat dan beberapa cangkir porselen putih, menyambut kedatangan calon menantunya dengan mata berkaca-kaca penuh kasih sayang.

"Mari silakan duduk dulu, Arkan. Kau pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh dari kota," ujar Siti lembut, meletakkan nampan di atas meja rotan kecil di serambi.

"Terima kasih banyak, Nyai," balas Arkan sopan, lalu mengambil tempat duduk di kursi rotan berhadapan langsung dengan Kyai Ahmad, sementara Shasmira berdiri dengan anggun di dekat tiang penyangga serambi kayu tersebut.

Arkan menarik napas dalam-dalam, merapikan duduknya, lalu memandang bergantian ke arah Kyai Ahmad dan Shasmira. Ada getaran emosi yang tertahan di balik suaranya ketika ia mulai membuka percakapan sore itu.

"Kiai... Shas," ucap Arkan dengan nada suara yang parau namun tegas. "Aku sudah menepati janjiku."

Shasmira menunduk sejenak, merasakan buliran air mata kehangatan mendesak pelupuk matanya mendengar kalimat tersebut.

"Aku pulang bukan sebagai pemuda yang penuh keraguan, tapi sebagai laki-laki yang siap menanggung amanah di hadapan Allah dan Ayahmu," lanjut Arkan, menatap lurus penuh kepastian kepada Kyai Ahmad.

Kyai Ahmad mengangguk arif, senyuman bijaknya tidak pernah lepas dari bibir sepuhnya. "Ayah mendengar kabar keberhasilan riset nasionalmu dari laporan kementerian kemarin, Arkan. Dan yang lebih penting dari itu semua, Ayah melihat keteguhan hatimu tidak pernah berubah sejak hari pertama kau menginjakkan kaki di pesantren ini."

"Alhamdulillah, semua berkas persetujuan akhir sudah rampung dan disahkan tanpa ada kendala berarti," tambah Arkan dengan nada penuh rasa syukur yang mendalam. "Kini, tidak ada lagi alasan bagi saya untuk menunda niat suci ini."

Shasmira tidak mampu berkata-kata. Air mata kebahagiaan jatuh tanpa ia sadari, membasahi pipinya yang bersih dari riasan berlebihan. Di tempat mereka memulai segalanya—di serambi kayu yang menjadi saksi bisu penantian, diskusi panjang, dan doa-doa malam—keduanya tahu bahwa masa depan yang mereka impikan kini berada benar-benar dalam genggaman rida Ilahi.

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala barat, menyisakan bias cahaya kemerahan di langit Desa Sukamaju. Adzan maghrib berkumandang merdu bersahutan dari menara surau madrasah dan masjid-masjid desa, memecah keheningan sore dan mengingatkan setiap penduduk untuk segera menghentikan aktivitas duniawi demi menghadap Sang Pencipta.

Lihat selengkapnya