Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #74

Prosesi Khidmat

Prosesi Khidmat yang Dihujani Air Mata Bahagia

Matahari pagi di Desa Sukamaju memancarkan cahaya keemasan yang hangat, menembus celah-celah dedaunan pohon mangga di halaman rumah panggung Kyai Ahmad. Suasana hari itu terasa begitu istimewa, dipenuhi oleh semarak dekorasi sederhana namun elegan berupa janur kuning dan kain hias bernuansa putih bersih yang membentang di sepanjang teras depan. Di dalam rumah panggung, persiapan akhir menjelang momen paling sakral dalam hidup Shasmira dan Arkan sedang berlangsung dengan khidmat. Para kerabat, tetangga dekat, serta perwakilan keluarga besar dari kota kabupaten tampak duduk rapi mengenakan pakaian resmi bernuansa Islami.

Di ruang tamu utama, suasana berubah menjadi sangat khidmat ketika para sesepuh desa dan keluarga inti telah menempati kursi masing-masing. Aroma wangi dupa gaharu menyebar lembut ke setiap sudut ruangan, berpadu dengan keheningan penuh rasa hormat yang menyelimuti seluruh orang yang hadir. Di hadapan meja kayu jati utama, ayah Arkan duduk tegak didampingi oleh beberapa kerabat dekatnya, siap menyampaikan maksud mulia yang telah lama dinanti-nantikan oleh kedua belah pihak keluarga besar.

"Mari kita mulai acara pagi hari ini dengan membaca basmalah bersama-sama," ucap Pak RT selaku pemandu acara keluarga dengan suara tenang dan berwibawa.

Seluruh hadirin merespons dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim secara pelan, menciptakan getaran spiritual yang menenangkan jiwa siapa pun yang mendengarnya. Arkan, yang duduk di barisan depan di samping ayahnya, tampak mengenakan pakaian koko putih bersih lengkap dengan peci hitam. Wajahnya memancarkan ketenangan mutlak, meskipun detak jantungnya berdegup kencang menahan rasa haru dan rasa tanggung jawab besar yang sebentar lagi akan ia pikul di hadapan Allah SWT dan keluarga besar sang kiai.

Ayah Arkan menarik napas dalam-dalam, menata perasaannya sebelum berdiri setengah membungkuk untuk memegang mikrofon kecil di atas meja. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, menatap Kyai Ahmad, Nyai Siti, serta Hafizh yang duduk mendampingi dengan senyuman ramah.

"Bismillahirrahmanirrahim," ucap ayah Arkan memulai kalimatnya dengan suara yang tenang, berwibawa, dan sarat akan penghormatan mendalam. Ia menyampaikan maksud kedatangan keluarga besar mereka dengan bahasa yang sangat santun, merendah, namun penuh ketegasan niat baik untuk menyunting Shasmira secara terhormat menjadi bagian dari keluarga besar mereka.

❖ ❖ ❖

Suasana di ruang tamu utama mendadak terasa semakin hening. Setiap telinga terpasang baik-baik mendengarkan setiap untaian kalimat yang disampaikan oleh ayah Arkan. Beliau menceritakan kembali bagaimana perjalanan panjang Arkan merantau, jatuh bangun dalam riset ilmiah di desa, hingga akhirnya menemukan pelabuhan hati yang sesungguhnya pada diri Shasmira—seorang wanita salehah yang teruji kesabaran dan kehormatannya di tengah badai prasangka warga.

"Oleh karena itu, melalui kesempatan yang berbahagia ini," lanjut ayah Arkan dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa haru, "kami hadir secara resmi mewakili keluarga besar untuk meminang Ananda Shasmira binti Kyai Ahmad agar berkenan menerima ikatan suci pernikahan bersama putra kami, Arkan."

Semua mata di ruang tamu kini beralih menatap Kyai Ahmad, sang kepala desa sekaligus ulama yang disegani di Desa Sukamaju. Kyai Ahmad tampak tenang. Ia meletakkan tasbih kayu di atas meja, merapikan letak peci hitamnya, lalu tersenyum teduh menatap ayah Arkan dan seluruh rombongan keluarga besar yang hadir.

"Alhamdulillah... puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT," jawab Kyai Ahmad dengan suara paruh baya yang tenang, berwibawa, dan sangat menenangkan. "Lamaran yang disampaikan dengan niat luhur demi mencari rida Allah tentu saja merupakan kehormatan besar bagi keluarga kami."

Kyai Ahmad, dengan wibawa seorang ulama sekaligus ayah yang sangat menyayangi putrinya, menyambut lamaran tersebut dengan senyuman tulus dan restu yang mengalir dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ia tahu betul liku-liku perjuangan, kesabaran, dan air mata yang telah dilewati oleh Shasmira dan Arkan selama berada di desa ini.

"Dan untuk memberikan jawaban resmi secara adat dan syariat," ucap Kyai Ahmad melanjutkan, "mari kita dengarkan langsung keputusan dari putri kami, Shasmira."

❖ ❖ ❖

Sejenak, suasana ruang tamu menjadi senyap. Semua pandangan tertuju ke arah pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang dalam rumah panggung. Di balik tirai kayu jati yang terukir indah, Shasmira menarik napas panjang untuk menenangkan debar di dadanya. Ia mengenakan jilbab panjang berwarna pastel yang senada dengan gamis sederhananya, memancarkan keanggunan seorang wanita salehah yang menjaga kehormatan diri.

Lihat selengkapnya