Sang Maharani

Sabrina Yunio
Chapter #1

Prolog



Suara musik dari gamelan mengalun lembut, menyatu dengan deburan ombak yang menghantam batu karang. Rangkaian bunga mawar merah, lili kuning, dan sedap malam, menjadi dekorasi yang menghias aula besar Puri Segara, sebuah istana liburan keluarga Kemaharajaan Astasura. 

Di tengah-tengah aula, lima penari yang memakai dodot serta jarik menari dengan gerakan halus. Sementara di sekeliling aula terdapat meja panjang yang penuh dengan tamu undangan. Mereka masih kerabat Keluarga Kemaharajaan. Di ujung bagian tengah meja, duduk seorang wanita tua. Beliau masih terlihat cantik di usia senjanya, dengan senyuman dan mata berbinar. Di kiri dan kanan, keluarganya mendampingi, tampak sama bahagia saat menyaksikan pertunjukan tari.

“Tahun ini, tariannya kompak semua,” bisik salah seorang pemuda tampan yang duduk di barisan sang wanita tua. 

“Mungkin, karena mereka latihannya lebih intens. Takut dapat komplain dari Kanjeng Eyang Ibu,” balas lelaki muda lain berperawakan gagah bagai anggota militer. 

Dua lelaki itu terkikik, mengundang sepasang mata lain melirik tajam ke arah mereka. Namun, keduanya tidak gentar, malah menjulurkan lidah pada sosok lelaki yang sedikit lebih tua dan duduk di sisi berbeda Kanjeng Eyang Ibu. 

Acara ini memang agenda tahunan untuk merayakan ulang tahun Ibu Suri Kemaharajaan Astasura. Keluarga inti dan kerabat dekat lain termasuk sepupu selalu hadir. Namun, tahun ini suasananya sedikit berbeda, sebab Kanjeng Raden Ajeng Dyah Gayatri, cucu perempuan satu-satunya dari Ibu Suri tidak dapat hadir. 

Lihat selengkapnya