Sang Maharani

Sabrina Yunio
Chapter #2

Bab 1: Maharani Pertama

Kilatan blitz dari kamera wartawan menyorot langsung pada orang-orang terkenal yang baru saja tiba di sebuah pagelaran busana. Udara musim dingin yang menusuk tidak membuat mereka, jurnalis maupun para orang terkenal menjadi gentar. Mereka saling membutuhkan, simbiosis mutualisme. Ada yang butuh bahan berita, ada pula yang butuh eksposur untuk tetap relevan.

Namun, di antara para undangan yang terdiri dari orang terkenal, ada satu yang amat terganggu dengan sorot kamera. Kanjeng Raden Ajeng Dyah Gayatri, seorang putri dari negara Astasura. Jauh-jauh ia datang ke kota romantis, Paris, demi menghargai undangan sahabatnya yang mengadakan pagelaran ini.

Perempuan dua puluh delapan tahun itu menghela napas berat. Ia menatap ke arah luar jendela mobil sebelum akhirnya menyapa udara dingin. Kontras dengan keengganan dan cemasnya di dalam mobil, kini Gayatri berjalan percaya diri. Ia tersenyum kecil sambil menatap tak berkedip pada kamera-kamera yang membidik penampilannya. Ia sungguh terlatih berada dalam situasi seperti ini. Berdiri di keramaian dan sorot kamera menjadi salah satu pelajaran wajib yang ia dapat sejak masih belia.

Kepercayaan diri perempuan itu semakin melesat sebab malam ini, Gayatri memakai gaun rancangan sang sahabat, Melania Subroto. Gaunnya menjuntai panjang dan sangat pas di tubuh semampainya. Kainnya adalah kombinasi sutra berwarna biru langit, batik kawung berwarna hitam putih, dan songket NTT hitam dengan garis keemasan. Bagian atasnya bertali lebar, menggantung di pundak indah Gayatri.

Perempuan itu benar-benar memancarkan aura kebangsawanannya. Hal ini sangat membantu dalam mempertahankan gelarnya sebagai salah satu bangsawan dengan selera fashion elegan. Kalau boleh sombong, Gayatri pernah beberapa kali disebut dalam majalah mode tentang keluarga kerajaan yang berpengaruh pada gaya dan tren. Namanya sejajar dengan putri bahkan ratu dari kerajaan yang lebih besar dan berpengaruh di dunia.

Usai memperlihatkan beberapa pose, Gayatri melanjutkan perjalanan menuju gedung tempat pagelaran busana diadakan. Ia menyapa beberapa tamu yang kebetulan sedikit menunduk untuk memberi penghormatan kecil padanya.

“Gaun yang fantastik, Tuan Putri,” puji seorang wanita paruh baya berpakaian eksentrik yang sudah lebih dulu duduk di bangku tepat di depan panggung catwalk.

“Terima kasih. Gaun Anda juga luar biasa. Rancangan Nona Subroto memang tidak pernah gagal,” tanggap Gayatri dengan gaya bicara lembut serta sangat sopan.

Ia pun duduk dengan lebih tenang sekarang. Area pagelaran mulai kondusif karena tamu undangan sudah berada di tempatnya masing-masing. Lampu mulai redup, musik pengiring semakin besar volumenya. Lalu, satu per satu model mulai berjalan, memamerkan busana rancangan Melania Subroto, seorang Desainer ternama asal Astasura.

Semua rancangan Nona Subroto selalu mengkombinasikan kain tradisional. Potongannya juga simetris sehingga busana yang dihasilkan terkesan rapi. Kebetulan, Gayatri sudah lama berlangganan busana pada desainer ini, dan ia sampai bersahabat dengan Nona Subroto.

Kini, mata Gayatri terus mengikuti para model yang berjalan di atas panggung catwalk. Fokusnya tertuju pada tiap busana yang dipamerkan. Rasanya puas ketika ia menemukan detail-detail tersembunyi di pakaian-pakaian itu. Senyum kecilnya merekah ketika ia menemukan satu busana yang mungkin akan cocok untuknya.

Namun, tepukan kecil di bahunya membuat konsentrasi Gayatri buyar seketika. Ia ingin marah, hanya saja menahan diri. Sementara di belakangnya, ajudan khusus Kemaharajaan menatapnya dengan tatapan datar tidak terbaca. Lelaki berjas hitam itu sedikit menunduk sebelum mengeluarkan suara, “Mohon maaf Kanjeng Ayu, kita harus kembali.” Bicaranya berbisik, tapi masih terdengar jelas di telinga Gayatri.

“Kembali?” Kening perempuan itu mengernyit. Susah payah ia membiasakan diri dalam keramaian ini, tiba-tiba ajudannya ingin membawanya pergi. Sungguh keterlaluan. “Memang ada masalah apa?”

Lihat selengkapnya