Gayatri pernah mendengar istilah hidup bagai runtuh. Ia tidak pernah merasakan hal tersebut secara harfiah. Namun, kini ia memahami maknanya. Hidup Gayatri benar-benar runtuh sekarang. Segala rencananya, mimpinya, dan tujuan hidupnya terenggut secara paksa.
Perasaannya berkecamuk. Ada lubang besar yang sangat sakit bersarang di hati. Perempuan itu sesak, tetapi masih bisa bernapas dengan baik. Ia bingung harus bagaimana dengan situasi tak terduga ini.
“Paduka,” panggil Nyai Harini, membuyarkan lamunan Gayatri.
“Mungkin ada yang salah. Saya yakin Kang Mas Arya masih hidup,” ujar Gayatri dengan nada memaksa. “Abimanyu juga pandai berenang dan menyelam, bisa saja dia—”
“Paduka, semua sudah dikonfirmasi.” Nyai Harini memotong ucapan, bukan bermaksud tidak sopan, tetapi untuk menyadarkan posisi Gayatri sekarang.
Kepala Gayatri menggeleng cepat. “Bagas, dia bergabung dengan Angkatan Laut Kemaharajaan. Pasti dia… dia…” perempuan itu kembali tercekat. Napasnya tersengal, sesak, hingga tangannya bergetar hebat.
Kali ini, arah pandangnya tidak fokus. “Kanjeng Ibu, Kanjeng Romo, Eyang Ibu, Romo Sepuh, Ibu Sepuh… semua… mereka…” Gayatri mengusap wajahnya. Ia memejamkan mata begitu rapat.
Perempuan itu berharap semuanya mimpi. Ia ingin ketika matanya terbuka, semua kembali seperti sediakala. Keluarganya masih ada dan akan menyambut kepulangannya. Kemudian, Gayatri juga akan mengajak Kanjeng Ibu serta Ibu Sepuh untuk melihat-lihat busana koleksi terbaru dari Nona Subroto. Seperti yang sudah-sudah, ia juga akan membujuk mereka setidaknya membeli beberapa potong gaun yang cantik dengan corak serasi.
Sayang, harapannya kosong. Begitu matanya terbuka, wajah khawatir Nyai Harini dan Kapten Latif kembali menyapa.
“Paduka, saya ambilkan air hangat biar tenang,” kata Kapten Latif.
Sementara Nyai Harini masih duduk di tempatnya. Ia menghela napas dengan berat sebelum kembali bicara. “Kita semua sama terkejutnya. Dalam beberapa jam, kita baru sampai dan sebelum pesawat mendarat, Paduka Maharani bisa melepas duka sepuas hati.”
Kepala Nyai menunduk sedikit. “Setelah itu, Anda harus tegar dan menunjukkan sisi kuat sebab di luar sana semua orang akan membidik sisi rapuh untuk menjatuhkan Kemaharajaan.”
Usai memberi wejangan, Nyai Harini memilih untuk menyingkir dari hadapan Gayatri. Ia sengaja membiarkan perempuan itu meresapi rasa duka dan kehilangan yang sangat tiba-tiba. Bahkan, Kapten Latif hanya meletakkan segelas air hangat ke meja di depan perempuan tersebut dan menjauh tanpa kata.
Hening. Suara halus mesin pesawat jet menemani. Tatapan Gayatri kini terlempar ke arah jendela bulat di sampingnya. Perempuan itu bisa melihat gumpalan awan dalam gelapnya langit malam. Sinar rembulan yang halus menambah dimensi pada uap air yang menggumpal dan menggantung di antara tanah dan atmosfer.
“Mbakyu, pokoknya jangan lupa bawakan macaron yang seperti waktu itu.” Suara Abimanyu—adik lelakinya—masih terdengar jelas di telinga Gayatri.
Baru kemarin mereka berpisah. Bahkan sebelum datang ke acara peragaan busana, ia sempat menghubungi sang adik. Abimanyu tampak tersenyum bahagia di layar saat panggilan video berlangsung. Tidak ada yang salah, bahkan lautan di belakang pemuda itu tetap memancarkan warna biru yang indah.