Sang Maharani

Sabrina Yunio
Chapter #4

Bab 3: Lubang Duka



Di mata Gayatri, Kraton Agung masih sama megahnya. Bangunan luas itu menjulang di tengah-tengah taman istana yang asri. Namun, perasaannya tidak lagi diliputi sukacita seperti tiap kali perempuan itu masuk ke area istana. Bendera Astasura berwarna emas dengan simbol kompas delapan arah tampak dikibarkan setengah tiang di menara barat Kraton. Para Abdi Dalem berlalu lalang menggunakan pakaian serba hitam. 

Semakin dekat mobil dengan pintu depan Kraton, jantung Gayatri berdebar lebih cepat. Matanya kembali terasa panas, seolah air mata mendesak untuk keluar. Kepala perempuan yang kini menjadi orang nomor satu di Astasura mendongak. Ia tidak bisa menumpahkan air mata di depan para bangsawan tinggi yang sudah menunggunya di aula besar.

“Paduka.” Nyai Harini berujar lembut. “Kalau masih butuh waktu, saya bisa ulur waktu untuk Anda.” 

Itu terdengar menggiurkan, tetapi Gayatri menggeleng. 

Ia menatap mata tajam Nyai Harini dengan ekspresi menyedihkan. “Lebih cepat dihadapi, lebih baik,” katanya. 

Gayatri menghirup udara dalam-dalam. Ketika pintu mobil terbuka untuknya, perlahan ia menghembuskannya. Dada perempuan itu yang bergejolak akibat detakan jantung yang bertalu cepat berangsur lebih tenang.

Mata sendu yang ia perlihatkan selama dalam perjalanan dari bandara sampai Kraton Agung langsung berubah. Iris coklatnya menampakkan ketegaran. Langkah kaki Gayatri juga tegas dengan kepala menatap lurus ke depan. 

Semua orang yang berlalu lalang di dekatnya menghentikan langkah. Kepala mereka menunduk, seolah dosa besar mengintai jika berani memandang ke arahnya. Itu adalah perlakuan yang biasanya diterima Maharaja. Ia pun sering melakukannya saat bertemu dengan Maharaja, sang paman. 

Ketegasan langkah perempuan itu hampir saja sirna tatkala tiba di aula utama kraton. Para bangswan tinggi berdiri menatapnya dengan sedikit menunduk. Mereka mengitari delapan peti yang ditutup bendera Astasura.

Semerbak aroma bunga lili dan bunga sedap malam berpadu dengan dupa yang terbakar dan semakin pendek. 

Semuanya terasa semakin nyata. Gayatri benar-benar tidak bermimpi. Apalagi begitu dirinya berdiri tepat di depan peti Maharaja. Wajah pamannya tampak seperti sedang tertidur, tetapi ada lebam di sekitar pelipis.

Menoleh ke peti lainnya, tatapan perempuan itu goyah. Wajah ayahnya tampak babak belur. Entah apa saja yang mengenai tubuh itu ketika bencana menghantam pesisir selatan Astasura.

Lihat selengkapnya