Sang Maharani

Sabrina Yunio
Chapter #6

Bab 5: Hari Berkabung

Suara ketukan sepatu di lantai yang basah menggema. Aroma garam dari air laut menusuk hidung. Tetesan air di beberapa titik menjadi musik pengiring setiap langkah yang diambil Gayatri di dalam lorong temaram.

Udara dingin menusuk tubuhnya yang hanya dilapisi lilitan kain jarik. Ia menggigil dan memeluk tubuhnya sendiri untuk menghangatkan diri. Rambutnya yang basah menambah parah suhu tubuhnya yang semakin turun.

Kali ini, lantai berbatu yang lembab itu terasa semakin licin. Air mulai menggenang di sekitar mata kaki. Semakin jauh Gayatri berjalan, air itu kian tinggi. Dari mata kaki menuju lutut, kemudian paha, pinggang, dan tiba-tiba, kaki Gayatri seperti ditarik ke bawah. Air menenggelamkannya.

Perempuan itu meronta. Mulutnya terbuka mencari udara, tetapi air malah masuk memenuhi paru-parunya. Ia tidak bisa bernapas dan dadanya terasa seperti terbakar. Matanya terbuka lebar di dalam air yang gelap, dingin, dan menyesakkan. Seketika, semuanya gelap. Namun, sesuatu menarik tangannya ke atas dan udara masuk lagi ke dadanya. Mata Gayatri terbuka dan hidungnya menarik napas dalam lalu terengah.

Kini, tidak ada lagi lorong maupun air yang menenggelamkan. Indera penglihatannya menangkap langit-langit kayu yang sangat familiar. Tubuhnya tidak lagi basah dan dingin. Ia merasakan empuk dari ranjang yang terasa tidak asing.

 “Paduka,” suara lirih itu menyadarkannya. Semua yang terjadi barusan hanyalah mimpi.

Perlahan, Gayatri mencoba untuk duduk. Kepalanya masih berat, tapi rasanya sudah lebih mendingan. Ia menoleh dan mendapati Nyai Harini duduk di tepi ranjang dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Paduka sudah merasa lebih baik?” Tanya wanita itu lagi.

Gayatri mengangguk kecil. Kesadarannya sudah hampir sepenuhnya kembali. Kali ini, ia melihat tangan kirinya diinfus. Senyum nanar terulas di bibirnya. Gayatri yakin kalau tampilan dirinya sekarang sangat memprihatinkan.

“Pemimpin macam apa yang lemah seperti ini,” gumam perempuan itu. Ia miris dan mengasihani diri.

“Paduka Maharani juga manusia. Terlebih harus menghadapi situasi seperti sekarang.” Nyai Harini bersuara lagi. “Saya akan ambilkan ramuan jamu dari Dokter Kemaharajaan. Mohon Paduka istirahat lebih lama untuk memulihkan diri.”

Nyai Harini berdiri sambil menunduk. Ia mulai berjalan mundur untuk keluar dari kamar, tetapi Gayatri menyebut namanya. “Nyai.” Langkah mundur itu terhenti.

“Ada hal lain yang diperlukan, Paduka?” Wanita yang sudah mengabdi di Kraton sejak belasan tahun usianya itu menunduk makin dalam.

Gayatri terdiam sejenak. Kepalanya yang masih berat berpikir, mengingat kejadian terakhir sebelum ketidaksadaran merenggutnya. Lalu, suara yang berseru sayup itu terdengar lagi.

Paduka Maharani!”

Lihat selengkapnya