Sang Maharani

Sabrina Yunio
Chapter #7

Bab 6: Saingan

Suasana di ruang Maharaja, sekarang menjadi ruang Maharani, terasa kaku. Di kursi panjang kayu dengan ukiran bunga matahari, perempuan itu duduk tegak. Di depannya, sosok Raden Mas Jayanegara duduk dengan kepala sedikit menunduk. 

Jujur saja, ini sangat aneh. Sebelumnya, lelaki di hadapan Gayatri tersebut selalu memandang matanya dengan tatapan tajam setiap kali mereka bicara di beberapa kesempatan. Penilaian Gayatri tentang sepupu jauhnya itu adalah Jayanegara sangat tidak asyik. 

Namun, di pertemuan ini, ia merasa dirinyalah yang jauh dari kata asyik. Kini, semua orang harus menunduk dan tidak boleh melakukan kontak mata dengannya. Ia seperti orang paling agung di Astasura, walau realitanya juga manusia biasa seperti mereka. 

“Apa Paduka Maharani sudah merasa lebih baik?” Tanya Jayanegara dengan suara rendah dan dalam. 

Sambil mengernyit Gayatri bertanya, “bagaimana kamu tau?” Tidak ada yang mengetahui ia sempat tidak sadarkan diri kecuali beberapa abdi dalem dan, “kamu yang pegang proyek pemulihan?” Kali ini mata perempuan itu terbelalak.

“Benar. Tetapi, kalau Paduka masih perlu istirahat, saya bisa kembali besok.” Jayanegara mencuri pandang sekilas ke arah Gayatri, sebelum akhirnya menunduk kembali.

Sang Maharani menarik napas dengan dalam. Duduknya menjadi lebih santai dengan bersandar dan dua tangannya bersedekap di dada. Bangsawan tertinggi Astasura itu tidak langsung menjawab. Atensinya beralih ke lukisan Maharaja XIV, kakeknya, yang digantung di atas singgasana. 

“Kamu pasti tau, sampai hari berkabung usai saya tidak punya banyak waktu luang.” Gayatri kemudian memandang sebagian dahi Jayanegara. “Laporkan saja apa yang penting atau apa ada sesuatu yang perlu saya setujui?” 

Sejenak, Jayanegara tidak bersuara. Lelaki yang hanya setahun lebih tua darinya tersebut malah merogoh saku beskap hitamnya. Sebuah kotak beludru berwarna merah dengan pinggiran emas kini ada di tangannya. 

“Ini kami temukan di kamar mendiang Gusti Pangeran Adipati Anom.” Menggunakan dua tangannya, Jayanegara meletakkan kotak kecil tersebut ke atas meja di hadapan mereka.

Tidak sulit untuk menebak itu kotak apa. Gayatri sangat mengenalinya. Itu berisi cincin emas putih bertahta ruby merah. Perempuan itu sendiri yang memilihkannya untuk sang sepupu. Iya, Sang Putra Mahkota berencana untuk melamar kekasih rahasianya—tidak benar-benar rahasia karena keluarga sudah tahu. 

Rasanya, perempuan itu seperti dihantam realita lainnya. Rasa duka ini tentu saja tidak dirasakannya sendiri. Ada seorang perempuan di luar sana yang pasti menangis pilu akibat kehilangan. Namun, Gayatri terlalu sibuk dan melupakan satu orang lainnya. 

“Raden Mas Jayanegara,” panggil Gayatri. 

“Paduka,” gumamnya. Ia mengerjapkan mata sambil menunduk.

Kalau boleh mengomel, perempuan itu ingin menyuruh lelaki di depannya berhenti menunduk. Ia lelah melihat posisi kepala sepupu jauhnya itu. Oh, kepala semua orang yang bertemu dan bicara padanya juga.

Haruskah Gayatri menghapus aturan menunduk secara berlebihan ini?

Lihat selengkapnya