Sang Maharani

Sabrina Yunio
Chapter #8

Bab 7: Parade Duka

Jalanan Kota Astakarta Raya jauh lebih ramai dari biasanya. Para penduduk dari kota lain berdatangan dan berbaris rapi di sepanjang trotoar jalan utama. Tali barikade panjang menjadi pembatas jalanan dan tempat orang-orang berdiri. 

Polisi dan tentara turun ke jalan untuk mengamankan. Protofon mereka terdengar sibuk, saling menginformasikan pada tim di titik-titik tertentu. Hari ini, hari pemakaman Keluarga Kemaharajaan. Tampaknya seperti sebuah parade besar, tetapi tradisi memang mengharuskan hal ini terjadi. 

Di antara keramaian, para wartawan berdiri sambil menyiapkan kamera. Drone juga mulai diterbangkan oleh stasiun televisi nasional. Siaran langsung prosesi pemakaman akan disiarkan ke seluruh dunia.

Berbeda dari hiruk pikuk di luar sana, Gayatri duduk di depan meja rias. Wajahnya pucat, bagian bawah matanya menghitam. Ia lelah menahan duka sekaligus harus berpikir mengenai tanggung jawab besar selepas prosesi pemakaman. Ketakutan menghantuinya sebab ia akan resmi menginjak belantara politik sebentar lagi. 

Derit pintu yang terbuka mengalihkan atensinya. Sosok Nyai Harini muncul dengan membawa kotak rias berukuran kecil. Melalui pantulan kaca, Gayatri baru sadar ternyata bukan dirinya sendiri yang berantakan. Nyai Harini mungkin lebih lelah sebab ia langsung mengerjakan tanggung jawab untuk lima orang sekaligus. Seluruh Asisten Pengurus Kraton turut menjadi korban, termasuk Sang Kepala Pengurus. 

Wajah Nyai Harini jauh lebih tirus daripada beberapa hari lalu. Suaranya juga sedikit serak. Mungkin, sebentar lagi tumbang jika terus memaksakan diri. 

“Paduka,” lirih Nyai Harini. Ia berjalan sambil menunduk kecil, mendekat ke arah Sang Maharani. 

“Nyai, boleh saya minta sesuatu?” Gayatri berbalik dan menatap ke arah asistennya itu.

“Apa yang Anda butuhkan?” Tanyanya. 

Alih-alih menjawab, Gayatri malah menggeser posisi duduknya. Ia memberikan ruang yang cukup untuk Nyai Harini duduk. “Kita rias wajah sama-sama.”

Tentu saja, wanita empat puluh tahun itu terkejut. Secara refleks ia makin menunduk. “Tidak bisa. Saya bukan orang yang setara hingga boleh duduk sejajar dengan Paduka.” 

Penolakan itu tidak membuat Sang Maharani menyerah. Ia beranjak, berjalan ke arah pintu kamar dan menutupnya rapat. Jadi, abdi dalem lain di luar sana tidak bisa melihat sembarangan apa yang terjadi di dalam.

Perempuan itu kembali duduk dengan menyisakan ruang bagi Nyai Harini. Kemudian, ia berkata, “ini permintaan terakhir saya, sebelum tugas dan kedudukan Maharani benar-benar harus saya jalankan. Anggap saja hari ini, hari terakhir saya sebagai Kanjeng Raden Ajeng Dyah Gayatri.”

Kepala Nyai Harini sedikit terangkat. Ia menatap ragu ke arah Gayatri. Senyum hangat menyambutnya dan wanita itu mengalah. Ia duduk di sebelah Sang Kanjeng Ayu, bukan Maharani. 

Lihat selengkapnya