Sang Maharani

Sabrina Yunio
Chapter #9

Bab 8: Legitimasi

Bunyi kecipak semakin banyak terdengar seiring dengan kaki-kaki bersepatu pantofel menginjak genangan air. Sebagian pakaian mereka yang dibalut jas basah di bagian yang tidak terkena payung. Langkah mereka juga sangat cepat menaiki anak tangga menuju pintu masuk sebuah gedung berlantai dua puluh. 

“Silahkan masuk ke sini,” ujar seorang perempuan muda yang telah menunggu beberapa orang tersebut di dekat pintu. 

Gedung itu tampak sangat sibuk. Semua orang berjalan cepat, seperti dikejar sesuatu. Layar besar di depan lobi juga menayangkan berita tentang pemakaman serta menyorot wajah pemimpin Astasura yang baru. 

“Terima kasih,” tukas salah seorang tamu pada perempuan yang mengantar rombongannya ke sebuah ruang rapat luas. 

Tiga lelaki berbeda usia itu langsung duduk di kursi yang kosong. Sementara lelaki berusia lima puluhan yang ada di depan layar proyektor menyambut dengan rentangan tangan. “Selamat datang, Tuanku!” Serunya.

Lelaki itu mendekat. Ia menunduk kecil ke arah para tamu sebelum terkekeh dan duduk di atas meja. Sopan santun bukanlah hal yang strict untuk lelaki berkumis tipis tersebut. Menunduk pada bangsawan juga bukan sesuatu yang penting baginya, apalagi pada bangsawan kecil seperti para tamu. 

“Kami tidak bisa berlama-lama di sini. Tolong sampaikan apa yang Anda inginkan dari kami.” Tanpa basa-basi Jendral Wirabumi berbicara. Ia tampak gelisah karena masuk ke dalam gedung salah satu pengusaha media di Astasura.

“Sabar, Jendral. Bagaimana kalau kita minum kopi dulu?” Tawar lelaki tidak sopan itu. Ia mengukir seringai di bibir. Matanya menatap remeh pada tiga tamunya.

“Bapak Yarsa, ini bukan saatnya untuk menikmati kopi,” sambung Raden Mas Prabasena. 

“Jika tidak ada yang penting, kami lebih baik pergi.” Raden Mas Surya ikut angkat bicara.

Tiga lelaki, perwakilan anggota Saptaprabhu, berada di dalam gedung milik Bapak Yarsa Hartanto. Hampir semua orang di lingkaran bangsawan, anggota parlemen, bahkan pejabat pemerintah, mengenal sosok ini. Sepak terjangnya di dunia media tidak bisa dianggap sepele. Perusahaan media milik Yarsa merupakan oposisi dari berita dan program acara di media milik negara. 

Pria yang meremehkan para bangsawan ini, secara halus menyatakan bahwa dirinya adalah anti monarki. 

“Baik, jika para Tuan ingin saya langsung to the point.” Pria itu menjentikkan jarinya sekali. Kemudian, layar proyektor menunjukkan foto Sri Maharani Dyah Gayatri. 

“Apa maksudnya ini?” Tanya Jendral Wirabumi penuh kewaspadaan. 

Seringai Yarsa semakin lebar. Ia menatap ke arah layar proyektor seraya berucap, “apa kalian rela dipimpin seorang perempuan muda yang tidak tahu apa-apa?” 

Di tempat berbeda. Tumpukan map terus meninggi di atas meja. Semua isinya tidak benar-benar dipahami oleh Gayatri. Ia duduk di kursi kerja Maharaja dengan bahu terkulai. Kacamatanya melorot sampai hidung dan matanya menatap Nyai Harini dengan memelas.

“Nyai… kenapa saya harus belajar dan menghafal semua?” Perempuan itu terdengar sangat frustasi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. 

Matahari di luar sana bahkan belum mau bersinar—karena mendung dan hujan—tetapi ia tidak bisa menikmati syahdu udara sejuk akibat menumpuknya tugas. Satu map Gayatri buka dan informasi tentang beberapa pejabat negara muncul. 

Lihat selengkapnya