Sang Maharani

Sabrina Yunio
Chapter #10

Bab 9: Sisa Kenangan

“Saya pikir, berduka dan jadi Maharani bisa membuat Anda sedikit lebih sederhana dalam berpakaian.” Jayanegara dengan seenaknya mengomentari penampilan Gayatri. 

Bahkan, lelaki itu tidak segan menatap Sang Maharani dari kepala sampai kaki. Meski setelahnya, ia menunduk kecil manakala Gayatri berdehem. Mereka ada di tempat terbuka, di bagian depan gedung Kraton. Ada para punggawa dan juga abdi dalem yang berlalu lalang di sekitar mereka. 

Untungnya, Nyai Harini datang sedikit lebih lama. Wanita itu kemudian membukakan pintu mobil bagian penumpang belakang untuk Gayatri. Ternyata, Jayanegara juga turut menumpang di mobil yang sama. Lelaki tersebut duduk di sebelah Gayatri dengan santai—masih berpikir kalau mereka setara. 

“Raden Mas,” ucap Nyai Harini. “Apa kunjungan ini untuk melihat bagian mana dari puri yang akan diperbaiki?” Tanyanya lebih lanjut. 

“Bukan,” jawab Jayanegara. Ada jeda sejenak. Lelaki itu menoleh ke arah Sang Maharani seraya melanjutkan ucapannya. “Saya harus menunjukkan pada Paduka bagaimana kerusakan di sana dan haruskah Puri Segara dipulihkan.” 

Mendengar itu, Gayatri menoleh. Matanya bersirebak dengan netra milik sang bangsawan. “Maksudnya?” Kening perempuan itu mengerut. 

Jayanegara menunduk kecil, memutus tatapan mereka. “Paduka bisa lihat sendiri setelah sampai.” 

Sejak kejadian bencana, Gayatri memang belum mendapat laporan tentang gambaran kondisi Puri Segara. Istana yang selalu menjadi tempat liburan favorit keluarganya sekaligus di mana semesta merenggut hidup mereka. Gayatri, juga belum sempat melihat televisi maupun membuka sosial media. 

Menurut Nyai Harini, akun sosial media pribadi miliknya sudah dihapus. Kini, seluruh kegiatan Gayatri akan dipublikasikan di akun resmi Keluarga Kemaharajaan. Semua dipegang oleh para staf. Kebebasan Gayatri memakai akunnya dibatasi. Ia tidak akan pernah bisa membuat unggahan seperti saat ia masih menjadi Kanjeng Raden Ajeng Dyah Gayatri. 

“Apa separah itu kondisinya?” Suaranya lemah, seperti berbisik tetapi masih jelas terdengar di telinga Jayanegara dan Nyai Harini.

Dua orang itu terdiam. Mereka memilih bungkam sampai dua jam berlalu. Pemandangan di luar jendela berubah menjadi perkampungan rapi khas pesisir. Namun, semakin jauh mobil melaju ke selatan, rumah-rumah warga yang dulu berdiri kokoh telah rusak. Beberapa menyisakan puing-puing dengan jejak lumpur masih menempel di tembok dan ruas jalan.

Jalanan aspal yang mulus juga berubah menjadi sedikit bergelombang. Ini efek dari terendamnya aspal dengan air asin dari lautan. 

Kali ini, mobil meninggalkan area pemukiman. Lajunya kembali cepat, masuk ke area hutan lebat. Tampak beberapa pohon ada yang tumbang. Jejak lumpur yang jauh lebih tinggi dari tubuh menempel pada batang-batang jejeran pohon. 

“Gerbangnya,” lirih Gayatri. 

Mobil melewati gerbang utama menuju area puri. Sayang, gerbang besi itu sudah roboh. Area halaman dan taman yang biasa rapi menjadi porak-poranda. Tempat itu menjadi sangat asing. Gayatri tidak lagi bisa mengenalinya. 

Kini, mobil mengitari bundaran air mancur menuju bagian depan puri. Hanya saja, kolam air mancur itu sudah rusak parah dan berlumpur. Bangunan puri yang kokoh juga setengahnya rusak, menyisakan puing-puing. Menara timur masih utuh dengan kokoh. Bagian dapur dan garasi mobil juga utuh meski tumpukan perabotan memenuhi sebagian ruang yang kini tampak terbuka. 

Dada Gayatri terasa sesak. Bayangan bagaimana keluarganya tersapu ombak dan ditimpa reruntuhan merayap di kepala. Tangan Gayatri bergetar, matanya tidak bisa fokus. Dukanya yang ia pendam merangkak naik, seperti ingin kembali diratapi.

“Paduka.” Nyai Harini memanggil tatkala mobil berhenti di depan puing-puing. 

Lihat selengkapnya