Hujan turun cukup deras ketika iringan mobil Kemaharajaan tiba di Kraton Agung. Seorang abdi dalem berlari kecil membawa payung untuk menyambut sang Maharani. Ia membukakan pintu mobil dan dengan sergap memayungi pimpinan negerinya. Abdi dalem lain juga melakukan hal serupa pada Jayanegara dan Nyai Harini.
“Kita harus pasang semacam kanopi supaya tidak repot begini.” Gayatri mengibas pakaiannya. Ia menatap ke arah air hujan yang jatuh dan sedikit membasahi tangga undakan ke area dalam gedung utama kraton.
“Apa Paduka ingin saya rancangkan bagian depan kraton dengan kanopi supaya tetap tidak menyalahi aturan bangunan bersejarah?” Jayanegara menanggapi itu.
Alis Gayatri meninggi sebelah. Ia menatap lelaki mencurigakan di depannya dengan seksama. Iya, Jayanegara sungguh mencurigakan sejak tadi.
Sebelumnya lelaki itu banyak sekali melontarkan sarkasme dan tidak sopan padanya. Namun, hari ini, ia seperti mendukung penuh sosok Gayatri. Ia seperti sengaja memamerkan keterbukaannya soal sosok perempuan yang juga bisa memimpin negara.
Bukankah seharusnya lelaki itu menjadi saingan dalam perebutan takhta?
“Saya tunggu minggu depan hasil rancangannya.” Sang Maharani menanggapi dengan serius.
Gayatri melenggang masuk lebih dalam ke gedung. Sementara Jayanegara dan Nyai Harini terus mengekor. Baru beberapa langkah, seorang abdi dalem yang merupakan asisten Nyai Harini menghampiri.
“Permisi Paduka.” Abdi dalem itu menunduk dalam dengan dua telapak tangan bertumpuk di atas perutnya. “Ada tamu dari Kesultanan Swarnadwipa.”
“Dari negeri sebelah?” Kening Gayatri mengernyit.
“Juga, Raden Mas Panji menunggu di ruang makan.” Abdi dalem itu menyampaikan lanjutan berita.
Gayatri menaikkan sebelah alisnya lagi. Ia menatap ke arah abdi dalem yang masih menunduk. “Minta Raden Mas Panji untuk menunggu lebih lama.” Kemudian, tatapannya beralih pada Jayanegara. “Tunggu saya di ruang makan.”
Setelahnya, sang Maharani melenggang menuju aula pertemuan, tempat biasa petinggi Kemaharajaan menjamu tamu dari kerajaan lain. Ditemani Nyai Harini, Gayatri melangkah pasti, membuat ketukan sepatunya bergema di lantai yang dingin.
“Sri Maharani Dyah Gayatri telah tiba!” Punggawa di depan pintu berseru lantang.
Pintu ruang pertemuan terbuka. Deretan kursi kayu dengan ukiran rumit terpampang. Seseorang yang menduduki salah satunya berdiri. Kepalanya menunduk dalam ketika Gayatri masuk ke ruangan.
“Selamat siang, Paduka.” Sapa lelaki yang usianya sepantaran dengan Gayatri.
Setelah menyapa, kepala lelaki itu terangkat. Ia tersenyum kecil manakala sang Maharani memberikan gestur agar tamu itu duduk kembali.
Mengikuti aturan, Gayatri duduk di bagian kepala meja panjang. Ia menatap lurus ke arah sang tamu yang dikenalnya sebagai Pangeran Indra Wijaya, Putera Mahkota Kesultanan Swarnadwipa.
“Suatu kehormatan mendapat kunjungan dari Pangeran Indra Wijaya.” Gayatri tersenyum kecil. Ia duduk tegak, mempertahankan postur wibawa yang dipelajarinya berulang kali dalam kelas etika.