“Apa sebenarnya yang sedang terjadi?” Eyang Resi masuk ke dalam ruangan dengan banyak kursi. Tatapannya nyalang, menyimpan amarah.
“Ada kebocoran rahasia tentang Perjanjian Pernikahan Kerajaan. Sebelumnya, pihak kraton hendak menikahkan Sri Maharani dengan Pangeran Indra Wijaya dari Swarnadwipa. Tapi semuanya belum resmi.” Raden Mas Prabasena menjelaskan.
Sebagai pemimpin Saptaprabhu, ia duduk di bagian kepala meja. Matanya terarah pada para anggota yang telah berkumpul dan duduk di meja persegi panjang di rumahnya.
Rapat mendesak ini harus segera dilaksanakan untuk meredam gejolak akibat berita yang dua jam lalu tersebar dan sudah banyak dibicarakan rakyat seluruh negeri. Mereka mulai takut Kemaharajaan Astasura akan bergabung dengan Kesultanan Swarnadwipa.
Posisi Maharani yang seorang perempuan tentu akan melemahkan posisinya. Wewenang Kemaharajaan bisa saja didominasi oleh pihak negeri tetangga. Kekhawatiran ini sangat berdampak juga dengan kondisi politik di pemerintahan.
“Inilah sebabnya, pemimpin perempuan akan selalu dipertanyakan legitimasinya.” Jendral Wirabumi berceletuk. Ia menatap dingin ke arah Raden Mas Prabasena.
“Lantas, apa jalan keluar untuk masalah ini?” Nyai Sari Wiluya bersuara. “Jika kekhawatiran rakyat terus bergolak, kondisi ekonomi negeri ini akan turut berimbas.”
“Kita harus pilih seorang Maharaja.” Eyang Resi menggebrak meja. “Kita punya beberapa lelaki Wirabuana, termasuk Anda, Jendral.”
Jendral Wirabumi bergeming. Duduknya tegak dan tatapannya teguh saat menatap balik Eyang Resi. “Saya tidak akan ikut dalam pertarungan memperebutkan singgasana. Tetapi, saya setuju untuk mencari kandidat Maharaja dari lelaki Wirabuana lain. Kita butuh seseorang yang muda, cerdas, dan menarik perhatian rakyat.”
“Tapi, bukankah itu tidak adil bagi Sri Maharani?” Raden Ayu Sekarsari angkat bicara. “Urutan dan ketetapan soal garis suksesi sudah melekat pada Paduka Sri Maharani sejak ia dilahirkan,” tambahnya.
“Benar, itu tidak adil dan sedikit keluar dari aturan.” Gusti Adipati Surya Diningrat mengungkapkan apa yang mengganggu pikirannya dari percakapan sore ini.
Di tempat duduknya, Raden Mas Prabasena terdiam. Tatapannya fokus pada vas bunga di tengah meja. Ia menghela napas begitu berat. “Kita punya cara selain menggulingkan posisi Sri Maharani.”
“Cara apa? Menikahkannya dengan salah satu lelaki Wirabuana?” Eyang Resi berdecih.
“Iya, Eyang. Kita bisa carikan calon pendamping dari kalangan Wirabuana.” Sang pemimpin Saptaprabhu mengangguk dengan yakin.
Kini, suara tawa Jendral Wirabumi menggelegar, bergema di ruang makan luas itu. Berpasang-pasang mata lainnya menatap ke arah sang Jendral dengan ekspresi datar.
“Kalian pikir para lelaki Wirabuana mau menjadi bawahan seorang perempuan yang sebelumnya hanya tahu soal berdandan? Yang benar saja, Prabasena. Anda sudah terlalu lama berada di bawah ketiak Gusti Putri Nilam, Ibu Anda yang status sosialnya lebih tinggi dari Anda.” Jendral Wirabuana terbahak lagi, merasa lucu setelah mencemooh Raden Mas Prabasena.
Pria yang masih berkerabat dengan Keluarga Kemaharajaan itu mengepalkan telapak tangannya di bawah meja. Ia geram, sebab bukan sekali ini Jendral Wirabuana mengejek kedudukannya. Ia mungkin menjadi kepala keluarga Sena, salah satu bangsawan terpandang Astasura, tetapi tetap saja ibunya yang seorang putri Maharaja berada di hirarki teratas dalam keluarga.
“Kita buat pemungutan suara. Apakah kita harus mencarikan calon suami untuk Maharani, atau mencari calon Maharaja.” Keputusan itu diambil Raden Mas Prabasena sebab kebuntuan menghampirinya.
***