Sang Maharani

Sabrina Yunio
Chapter #13

Bab 12: Pembuktian Diri

Duduk di singgasana yang cukup tinggi membuat Gayatri bisa melihat lebih jelas wajah-wajah baru di dalam kabinet pemerintahan. Seperti apa yang diberitahukan Raden Panji pada Nyai Harini, tidak banyak yang datang. 

“Perdana Menteri, Mahapatih Mada, tidak dapat hadir karena ada rapat dengan Kementerian Luar Negeri.” Raden Mas Panji sebagai Menteri Sekretaris Negara memberi laporan. “Menteri Jaga Buana, Ki Rakyan Sudiro juga berhalangan karena kurang sehat.” 

Gayatri mendengarkan dengan tenang. Pandangannya jatuh pada sosok Jayanegara yang pagi ini dengan berani mengenakan batik parang yang dililitkan ke pinggangnya. Lelaki itu tampak seperti menantang, dan insting perempuan itu mengatakan, sang sepupu jauh adalah satu dari sekian banyak bangsawan yang menentangnya. 

“Baik, terima kasih untuk bapak-bapak yang sudah hadir pagi ini.” Sang Maharani mulai bersuara. Ia menatap ke arah seorang pria berkacamata tebal. “Profesor,” panggilnya pada Kepala Lembaga Waskita Antariksa. Lembaga ini bertugas membaca pergerakan bintang dan memprediksi cuaca.

“Dalem, Paduka.” Sang Profesor, Raden Mas Damar Astronomo, menunduk lebih dalam seraya mengarahkan badannya ke arah singgasana. 

“Menurut informasi yang saya dapatkan, Astasura mempunyai detektor gempa dan tsunami.” Tanpa basa-basi, Gayatri masuk ke dalam pembahasan paling penting. “Mengapa alarm deteksi itu tidak menyala saat bencana terjadi?” 

“Masalah itu segera kami selidiki setelah bencana terjadi. Awalnya, kami pikir, alarm tidak berbunyi sebab gempa terjadi di laut dalam sehingga tidak terasa sampai darat. Namun, kemarin kami menemukan bahwa beberapa alat telah hilang.” Ucapan Raden Mas Damar membuat kedua alis Gayatri bertaut.

“Hilang?” Suaranya sedikit meninggi. 

Kali ini, tatapan perempuan itu beralih pada sosok Jendral Mahesa Agni selaku Menteri Pertahanan. “Bagaimana pasukan militer kita bisa terlewat hal ini?” 

“Paduka, kemungkinan besar hilang di sini adalah terbawa arus lautan dan tenggelam.” Sang Jendral memberikan alasan.

Sang Maharani berdecak kesal. Kedua telapak tangannya mengepal kuat di atas sandaran tangan singgasananya. “Raden Mas Panji, tolong hubungi Ki Rakyan. Jika sakitnya masih bisa membuat dia sadar, minta dia datang ke sini sekarang.” 

Tatapan mata Gayatri begitu tegas. Aura pemimpinnya tiba-tiba menguar, mengintimidasi para lelaki yang mendominasi ruangan konferensi. Sebagai bawahan, Raden Mas Panji langsung mengangguk. Ia segera keluar dari ruangan untuk mengikuti titah Sang Maharani.

Atensi perempuan itu pun beralih ke sosok lain di dalam ruangan. Ia menatapnya tajam, sementara lelaki berkain batik parang itu sedikit menunduk. “Raden Mas Jayanegara,” panggilnya. 

“Dalem, Paduka.” Lelaki itu mengangkat wajahnya sekilas sebelum menunduk lagi. 

“Bagaimana dengan rancangan rehabilitasi Segara Kidul?” Nada bicara perempuan tersebut begitu dingin.

“Saya sudah menggambar sebagiannya. Dalam dua hari, saya akan perlihatkan gambar tersebut dan nantinya meminta koordinasi pada Jendral Mahesa agar mendapat bantuan tenaga guna membangun kembali Segara Kidul. Saya juga akan meminta bertemu dengan Nyai Sari selaku Menteri Ekonomi untuk membahas anggaran biayanya.” Jayanegara seolah sudah mempersiapkan kalimatnya. 

Kerut di kening Gayatri semakin dalam. Perempuan itu sampai takut wajahnya akan lebih cepat keriput akibat hantaman masalah negara. 

“Meminta bertemu menteri tanpa koordinasi dengan Nyai Harini dan Raden Mas Panji?” Seringai terukir di bibir sang Maharani. 

Di tempat duduknya, Jayanegara mengangkat wajah. “Tidak semua hal harus melalui koordinasi bertingkat. Di sini, kita sedang membicarakan soal kecepatan pembangunan ulang agar rakyat tidak semakin lama tinggal di hunian sementara.” Tatapan lelaki itu benar-benar tanpa rasa sungkan. 

Dua pasang netra beradu. Gayatri dengan rasa curiganya. Sementara itu, Jayanegara tampak begitu percaya diri. Lelaki tersebut seperti ingin menunjukkan pada sang Maharani tentang kapabilitasnya dalam mengambil keputusan krusial. 

“Bukankah Anda sendiri yang mendelegasikan saya untuk mengurus dan memimpin proyek ini?” Seringai kecil diperlihatkan Jayanegara. 

Gayatri berdehem. Ia membuang pandangannya ke arah lain. Perempuan itu diam-diam menghela napas berat. Sebelum akhirnya Raden Mas Panji kembali ke ruangan. 

Lihat selengkapnya