Sang Maharani

Sabrina Yunio
Chapter #14

Bab 13: Cara Licik

“Anda tidak boleh turun dari tempat tidur. Pergelangan kaki Anda terkilir dan tungkai bawah Anda retak, Paduka.” Nyai Harini berjalan cepat, menghampiri Gayatri yang hendak turun dari tempat tidur.

“Tapi sebentar lagi saya harus berpidato di depan rakyat. Sekarang hari terakhir masa berkabung.” Sang Maharani tidak mau mendengar. “Laporan dari Raden Mas Panji juga harus saya terima sendiri.”

Bahu Nyai Harini terkulai. “Raden Mas Prabasena baru saja mampir. Beliau mengirim pesan mandat dari Saptaprabhu yang menunjuk Raden Mas Jayanegara sebagai pemegang suksesi setelah Anda. Selain proyek rehabilitasi, beliau juga akan memegang peranan dalam urusan negara. Selagi Anda cedera, beberapa tugas dan laporan akan diterima oleh Raden Mas Jayanegara.” 

“Orang-orang itu sudah keterlaluan!” Emosi sang Maharani meledak. “Panggil Jayanegara kesini.” Tidak ada embel-embel gelar kebangsawanan saat Gayatri menyebut nama saingannya.

“Paduka, beliau tidak bisa masuk seenaknya ke dalam kediaman Anda.” Nyai Harini mengingatkan.

Sebelah alis Gayatri terangkat. “Dia secara teknis adalah Gusti Pangeran Adipati Anom yang baru bukan?” 

Kepala Nyai Harini menunduk dalam. “Sepertinya begitu, Paduka.” 

“Berarti dia boleh masuk atau saya yang keluar dan berjalan walau kesakitan.” Perempuan tersebut mengancam asistennya. 

“Baik, Paduka.” Dengan cepat Nyai Harini menanggapi. Ia keluar dari kamar setelah meletakkan teh jahe di atas nakas samping ranjang. 

Sendiri di kamarnya, Gayatri kembali memukul bantal untuk menyalurkan rasa kesal. “Kenapa tidak ada kursi roda?” 

Perempuan itu menyayangkan kondisi kakinya. Namun, orang-orang di kraton menentangnya duduk di kursi roda. Nyai Harini bilang, hal itu sama saja mempertontonkan kelemahan. 

“Omong kosong semuanya,” gumam Gayatri, masih kesal. 

Beberapa menit setelah emosinya reda, pintu kamar diketuk. Daun pintunya yang berat terdorong ke dalam dan sosok Jayanegara muncul. Hari ini, lelaki itu kembali melilitkan batik parang di bagian luar celana kainnya. 

Tidak ada gestur menunduk. Jayanegara masuk ke dalam setelah menutup pintunya rapat. Ia pun dengan santai membelakangi Gayatri, memperlihatkan sebagaimana terompet perang telah lelaki itu tiup begitu kencang. 

“Suara ledakan apa yang kemarin membuat Mahoni ketakutan?” Tanyanya langsung ke inti. 

Sang bangsawan tidak segera menjawab. Ia duduk di pinggir ranjang, bukan di kursi yang telah disediakan. “Itu suara senapan angin dari Akademi Mangkuluhur. Mereka sedang ada persiapan untuk Pekan Olahraga Siswa Antar Bangsa se-Nusantara. Anda tahu, Akademi Mangkuluhur tidak pernah mau kalah dengan sekolah kerajaan lain.” 

Lihat selengkapnya