“Kembali lagi dengan Tera, kita akan membahas teori konspirasi tentang takhta yang didapatkan setelah hampir semua Keluarga Kemaharajaan tersapu ombak. Apakah seharusnya Sang Puteri juga termasuk di dalamnya? Siapa yang paling diuntungkan dari tragedi ini di Kraton Agung Astasura?
Suara seorang pembuat konten misteri terdengar dari komputer salah seorang yang duduk di kubikel. Beberapa orang tampak mendekat dan menonton satu layar bersamaan.
“Menurut kabar yang beredar, ada musuh yang meletakkan alat pembuat tsunami. Bayangkan, tidak ada gempa atau apapun tapi tiba-tiba ombak besar menggulung Puri Segara. Hal yang mencurigakan lagi, bencana ini terjadi tepat di hari ulang tahun Ibu Suri yang biasa diadakan di Puri Segara dan semua anggota keluarga ada di sana. Mungkinkah Sang Puteri yang kini menjadi Sri Maharani terjebak dalam situasi ini?”
Orang di dalam layar memicingkan mata. Tangannya bertumpu di dagu, membuat gestur misterius yang disukai para pemirsanya.
Sementara para penonton yang sekarang berkumpul di depan layar saling memandang. Pertanyaan penuh misteri itu membuka percakapan orang-orang di sana.
“Mana ada alat seperti itu?” Bantah seorang pria berkemeja batik.
“Sekarang jaman canggih. Negara kita saja punya alat manipulasi cuaca.” Lain lagi dengan seorang perempuan yang memakai kemeja bunga-bunga warna biru muda.
“Kalau memang tujuannya menghapus semua Keluarga Kemaharajaan, bukankah yang diuntungkan keluarga bangsawan yang dekat dengan takhta? Itu berarti…” pria lain yang baru ikut berkumpul menolehkan kepalanya. Atensi pria tersebut jatuh pada ruangan dengan tembok kaca transparan. Di sana, sosok pria yang menjadi atasan mereka sedang sibuk di meja gambarnya.
“Pak Jaya nggak mungkin begitu. Buktinya, dia masih di sini, kerja sama kita.” Si perempuan menggelengkan kepala.
“Kita sibuk sampai lembur begini karena kebagian proyek dari Kemaharajaan. Setiap hari Pak Jaya baru ke kantor setelah dari kraton.” Si pemilik meja kerja mengungkapkan apa yang tertahan di kepalanya.
Sementara itu, lelaki di dalam ruangan terlihat begitu serius menyelesaikan gambar. Beberapa kali ia berkacak pinggang dan mundur beberapa langkah untuk memastikan rancangannya digambar dengan baik.
Sayup-sayup ia mendengar diskusi dan suara pembuat konten di luar. Ia memegang pensilnya erat. Entah mengapa, ada kemarahan yang memercik setelah mendengar asumsi yang kian liar dari orang-orang di luar sana.
Belum reda emosinya, ponsel lelaki itu berdering di atas meja kerja. Ia segera menjawab panggilan yang masuk. “Ya, dengan Jayanegara.”
Lelaki berparas rupawan itu mengangguk kecil. “Baik, saya kesana.”
Begitu sambungan terputus, ia menggulung kertas gambarnya dan memasukkannya ke dalam tabung gambar. Langkahnya pun tergesa keluar ruangan. Namun, sebelum benar-benar jauh, ia sempat berhenti melangkah di dekat kubikel karyawannya.
“Pak Arul, mohon selesaikan draft yang saya minta. Tolong kirim hasilnya lewat surat elektronik sebelum jam enam sore.” Lelaki itu menatap datar para karyawan lain juga. “Selain itu, membicarakan hal-hal tidak berdasar mengenai Keluarga Kemaharajaan bisa membuat kalian dipidana.”
Setelah berkata demikian, Jayanegara melenggang keluar dari kantor arsitektur miliknya di lantai dua puluh lima sebuah gedung perkantoran. Ia meninggalkan para pegawai yang tiba-tiba mengatupkan bibir karena baru sadar jika sejak tadi bos mereka mendengar semuanya.
Agaknya jagad maya memang sedang gempar dengan berbagai teori. Ketika Jayanegara membawa sendiri mobilnya ke jalanan, ia melihat layar-layar besar di persimpangan menampilkan foto Gayatri. Ada juga video-video saat perempuan itu mendatangi berbagai acara fashion sekaligus pesta setelahnya yang gemerlap.
“Media BEBAS,” gumam Jayanegara manakala melihat logo di layar.
Kekacauan ini semakin santer sebab dalam dua hari Gayatri akan memberikan pidato pertama sebagai Maharani. Sejak kemarin, kraton juga sibuk mempersiapkan jamuan untuk para pejabat juga bangsawan. Entah apa rencana perempuan itu, sebab skala jamuan tampak lebih megah. Gayatri sampai rela menahan sakit di kakinya agar bisa mondar-mandir mengawasi segala persiapan.
“Dasar keras kepala,” lelaki itu menggumam lagi saat kemarin melihat perempuan itu tertatih di sekitar kraton.
“Seberapa relevan Astasura dalam kepemimpinan seorang Maharani? Pertanyaan itu terus terngiang di kepala saya sejak beliau menduduki singgasana kosong. Seseorang yang tidak dipersiapkan mengurus negara tapi maju sebagai pemimpin, bukankah itu sebuah taruhan beresiko? Negara tetap stabil karena orang-orang di dalam kabinet bisa mengatasinya. Tetapi, bagaimana kebijakan beliau jika sudah aktif di atas takhta? Belum lagi soal pernikahan kerajaan di mana beliau merupakan tunangan Putera Mahkota Kesultanan Swarnadwipa.”
Lagu yang terputar di radio berubah menjadi sebuah narasi dari penyiarnya. Jayanegara menghela napas berat. Ia mematikan radio itu. Mobilnya terus melaju hingga belok dan masuk ke gerbang tinggi rumah megah berbentuk joglo. Lelaki itu segera memarkir mobil di depan teras dan masuk ke dalam dengan terburu-buru.
“Pam—” Jayanegara menghentikan ucapannya. Mata lelaki itu menatap pada keramaian di ruang tamu rumahnya.
Para bangsawan berpengaruh tampak berkumpul. Beberapa anggota Saptaprabhu ada di sana. Sang Paman menyeruak di antara mereka, tersenyum sumringah dan merangkul keponakannya dengan rasa bangga.
“Selamat Raden Mas, mulai besok Anda bisa mulai menempati Kraton Agung.” Jendral Wirabumi bersuara. Ia mendekat, menunduk kecil di depan sang lelaki.