Seluruh rakyat Astasura tampak bersemangat melihat ke layar ponsel, tablet, dan televisi. Mereka meninggalkan sejenak segala aktivitas, menunggu sosok pemimpin baru membuat pidato kenegaraan pertamanya. Banyak dari mereka penasaran, seperti apa isi pidato pemimpin perempuan pertama Astasura.
Di jalanan, para pasukan militer telah menyebar untuk mengamankan area menuju Kraton Agung. Mobil-mobil para pejabat dan bangsawan mulai mengantre untuk masuk ke dalam setelah melalui pemeriksaan ketat.
Sementara sang pemeran utama berada di kediamannya. Ia mematut diri di depan cermin. Hari ini, Gayatri mengikat setengah rambutnya. Tiara kecil berbentuk bunga matahari menghias kepalanya. Sebagian rambutnya menjuntai, menutup punggung.
Dalam acara formal ini, ia memakai janggan berbahan beludru berwarna merah marun. Bros lambang Astasura—kompas delapan arah—tersemat di bagian kancing teratas pakaiannya. Ia juga memakai kain batik parang sebagai bawahan yang telah dimodifikasi menjadi rok mengembang, menjuntai hingga bawah mata kakinya.
Riasan sederhana mempercantik wajah Gayatri. Tidak ada perhiasan yang dipakai, sebab masa berkabung baru berakhir. Hal ini juga menjadi bagian dari sebagaimana Gayatri masih berduka bersama rakyat pesisir selatan yang telah kehilangan segalanya.
“Paduka, para tamu undangan sudah mulai memasuki aula,” lapor Nyai Harini.
Sang asisten memakai kebaya kutu baru berwarna hitam. Kaki jenjang semampainya ia balut dengan kain batik mega mendung dengan dasar kain berwarna hitam. Telinga kanannya disumpal penyuara telinga dengan kabel terhubung ke protofon. Semua staf kraton juga memakai perangkat ini untuk saling terhubung dengan Tim Media Kemaharajaan.
Di meja riasnya, Gayatri menghembuskan napas perlahan untuk menenangkan diri. Secarik kertas berisi pidato hari ini ada di tangannya, tampak kusut karena terlalu sering dibaca. Perempuan itu menatap pantulan wajah Nyai Harini di belakangnya.
“Saya penasaran pertunjukan apa yang akan disuguhkan para lawan,” gumam perempuan itu sambil mengukir seringai kecil.
“Kami belum bisa memastikan seperti apa, tetapi pasukan pengamanan sudah siap dengan segala kemungkinan,” sang asisten yang sebentar lagi akan diangkat sebagai Kepala Pengurus Kraton Agung, menunduk dalam.
Setelah posisi Gayatri kukuh, maka tugas Nyai Harini selesai sebagai asisten sang Maharani. Ia akan memimpin para abdi dalem, sementara Gayatri akan bekerja lebih banyak bersama Penasihat Kemaharajaan yang akan segera ditunjuk sebagai asistennya.
“Baik, mari kita mulai pertarungannya.” Gayatri beranjak. Ia melangkah dibantu tongkat.
Perempuan tersebut menahan rasa sakit di kakinya. Meski di balik rok, pergelangan kakinya sudah bengkak, ia tidak peduli. Kesakitan itu tidak sepadan dengan penghinaan yang akan diterimanya jika tidak berdiri tegak untuk mempertahankan posisinya.
Dahulu, mungkin perempuan itu tidak memikirkan soal takhta. Namun, berada di atasnya sekarang adalah kewajiban. Semesta menjauhkannya dari bencana sebab garis takdir telah memilihnya sebagai pemimpin Astasura.
Gayatri memang sempat ragu, tapi beberapa waktu lalu, ia menerima kedatangan Profesor Damar Astronomo. Kepala Lembaga Waskita Antariksa Astasura itu menjelaskan tentang fenomena rasi bintang yang dilihatnya beberapa minggu sebelum bencana terjadi.
“Terkadang bintang memberitahukan rencana masa depan semesta. Itulah mengapa, di satu malam saya tidak sengaja menatap langit dan mendapati pola aneh dalam barisan bintang berkelip. Saat saya membaca lebih dalam soal pola susunan bintang, apa yang saya lihat di malam itu adalah Rasi Athelina yang jarang terlihat. Rasi itu dikenal sebagai Tiga Bintang Ibu. Ketika susunannya sejajar dengan Rasi Crux Selatan, cahaya biru keputihan memancar terang. Ini pertanda tentang datangnya pemimpin perempuan yang akan membawa Astasura ke dalam kejayaan yang lebih dari sebelumnya.”
Ucapan sang profesor kala itu menyentak diri Gayatri. Ia sadar bahwa dirinya terlahir untuk mengemban apa yang telah ditinggalkan keluarganya. Perempuan itu harus menjadi pemimpin perempuan pertama di Astasura.
Seiring dengan ingatan yang berputar, langkah Gayatri semakin dekat dengan pintu aula agung. Ketukan pada sepatu dan tongkatnya menggema saat bertemu lantai marmer kraton yang dingin. Saat langkahnya berhenti di depan pintu jati tinggi, seorang punggawa berseru.
“Mari sambut, Paduka Sri Maharani Dyah Gayatri, Pemimpin ke-lima belas Kemaharajaan Astasura!” Pintu itu terbuka.