Menjelang sepuluh menit istirahat berakhir, di pojok sebelah kanan kafetaria. Sekumpulan murid kelas sebelas dan dua belas sedang bernyanyi membunyikan gitar lagu Bento milik Iwan Fals. Mereka bersenandung ria padahal nada-nada fals dari kuncian yang dipetik seorang pemain gitar tidak seirama dengan apa yang dinyanyikan. Aku tahu itu semua dari Devi karena ia seorang penyanyi muda yang berbakat, telinganya sangat peka terhadap nada-nada yang meleset. Ia melangkah lebih jauh di dunia musik, mungkin aku lima level di bawahnya yang mengambil suara tenor pria saat mengikuti ekskul seni musik waktu SMP kelas satu, kuikuti hanya enam bulan kemudian beralih ke alat musik dan tidak menjadi hasratku untuk mengasah bakat dimusik.
"Hmm, rasanya pengen gua ajarin cara nyanyi dan main musik yang bener dah, fals banget anjir." Celetuk Devi.
"Biasalah mereka itu anak-anak dari juusan IPS soalnya kakak gua kan pernah sekolah di SMA Negeri Harapan. Dia jurusan MIPA, setiap kali dia ke kantin pasti selalu digodian sama anak-anak IPS yang biasanya suka nyanyi-nyanyi tongkrongan di kantin, koridor kelas, kadang kalo lagi tebar pesona ya di lapangan, tapi gak semuanya jelek sih pasti ada lah satu atau dua cowo yang ganteng banget," ucap Regita centil.
"Setuju," celetuk Andin.
Seketika kami melihat sang pemain gitar yang ditutupi oleh teman-temannya, ia bergaya dengan lengan seragam kanan dan kiri yang sengaja digulung agar bicepnya terlihat. Wajahnya putih, alisnya tebal, dan hidungnya mancung. Ia terus memetik gitar dengan cepat seakan membiarkan semua murid perempuan menatapnya dengan penuh nafsu walau sebagian dari mereka ada yang keberisikan akan suara-suara yang mereka hasilkan. Ia duduk di atas meja dengan ketidaksopanannya membuat semua orang segan, namun terlihat familiar di sekolah.
Kami bersembilan terus memandang tingkah laku mereka hingga sisa air sedotan es teh terakhir kami berbunyi. Bersamaan dengan momen yang kutunggu-tunggu, berbarengan dengan wajah Margaret yang menatap, seraya menaikan alis ke atas. Saat di petikan terakhir lagu Bento, pemain gitar itu mulai berhenti, menaikan kepalanya, menatap kami dengan penuh pertanyaan disusul oleh banyak mata yang menyoroti kami. Ia meletakkan gitar akustiknya kemudian mulai menuruni kakinya dari meja. Melangkahkan kaki ke arah kami di ikuti oleh semua murid-murid di kafetaria. Ia datang kemari lalu menggebrak meja kemudian menyingkirkan sisa semangkok mi ayam milik Miya. Ia mengelus-ngelus rambut Miya, semua orang kaget melihat tindakannya. Seketika Regina menepis tangannya. Ia banyak sekali mengeluarkan kata-kata sombong, membicarakan dirinya dan reputasi di sekolah. Sekarang kami bersembilan tahu bahwa Rizal yang dimaksud kepala sekolah adalah manusia sombong dan penuh akan kebencian. Bukan seorang yang dermawan seperti di film-film. Aku melihat wajah Margaret yang geram dengan tangan mengepal yang sudah tidak sabar ingin meninju wajahnya tapi hal itu tidak berjalan dengan semestinya karena Regina menjadi pembuka keributan kami.
"Lu bisa diem gak? Jangan sentuh temen gua," ucap Regina kesal.
"Lu mau gua tampar, hah? Kutu buku!" ucap Rizal yang kemudian menarik kacamata Regina, lalu membantingnya sehingga menimbulkan pecahan kaca dan sahutan dari semua murid.
"Udah yuk cabut! Jangan di ladenin. Orang gila nih. Yuk guys. Bang Aji bayar!" sahut Andin.
Kami bersembilan meninggalkan kafetaria kemudian menuju ke kelas, suasana kafetaria semakin ramai dan memanas. Saat aku dan yang lainnya melangkahkan kaki untuk pergi, tiba-tiba Rizal menghalangiku menggunakan tangan kirinya, teman satu angkatannya hanya melihat dan tertawa. Mereka semua seperti sekumpulan preman sampah yang menghalangi jalan untuk lewat. Semua murid yang mengenakan seragam putih abu-abu hanya bisa melihat dan merekam kejadian tersebut. Tidak ada satupun dari mereka yang bertindak berani, begitu juga dengan pedagang kafetaria yang hanya melihat seperti orang yang tidak tahu apa-apa.
"Minggir," ucapku lembut.