Sang Pemetik

Bear Winter
Chapter #1

#1 Anton dan Bunga yang Tumbuh Terlalu Cepat

Anton tidak pernah bercita-cita menjadi pencuri.

Ia bercita-cita menjadi orang yang cukup.

Cukup uangnya.

Cukup sabarnya.

Cukup hidupnya.

Tapi hidup sering kali lebih suka bercanda daripada mendengar cita-cita.

Semua bermula dari angka satu juta rupiah. Jumlah yang menurut iklan-iklan di ponsel Anton terdengar ringan, seperti kapas. Pinjam sekarang, bayar nanti. Bunga rendah. Proses cepat. Tanpa ribet. Tanpa tatap muka. Tanpa malu.

Anton menatap layar ponselnya malam itu dengan perasaan campur aduk. Ibunya terbaring di kamar, batuknya makin sering. Obat habis. Gaji Anton sebagai staf administrasi toko bangunan belum cair. Tanggal muda terasa seperti tanggal tua yang belum tahu diri.

Ia menekan tombol “Ajukan”.

Dua menit kemudian, notifikasi masuk.

Dana cair.

Anton sempat tersenyum. Teknologi memang luar biasa. Manusia bisa mengirim uang lebih cepat daripada mengirim perhatian.

Satu juta rupiah itu habis dalam tiga hari. Untuk obat. Untuk beras. Untuk listrik yang hampir diputus. Anton bernapas lega.

Sampai hari keempat belas.

Tagihan muncul seperti tamu tak diundang yang tahu persis kapan kita sedang lemah. Total yang harus dibayar bukan lagi satu juta. Ada bunga. Ada biaya layanan. Ada biaya administrasi. Ada biaya keterlambatan—meski Anton belum merasa terlambat.

Angkanya menjadi satu juta tujuh ratus lima puluh ribu.

Anton mengernyit.

“Bunganya tumbuh cepat sekali,” gumamnya.

Ibunya yang sedang duduk di kursi kayu hanya menatapnya tanpa benar-benar paham. “Apa, Ton?”

“Tidak, Bu. Bunga digital.”

Ibunya mengangguk, seolah bunga digital itu bisa ditanam di halaman.

Anton mencoba membayar setengahnya. Gajinya akhirnya cair, tapi lebih kecil dari biasanya karena potongan yang tak pernah benar-benar ia pahami. Dunia kerja juga punya bunga yang tumbuh diam-diam.

Dua hari kemudian, pesan masuk lagi.

Segera lunasi tagihan Anda. Kami akan menghubungi kontak darurat.

Anton tidak terlalu khawatir. Ia merasa masih punya waktu. Ia orang baik. Ia tidak pernah menunggak sebelumnya. Ia pikir sistem akan mengerti.

Sistem tidak pernah benar-benar mengerti. Sistem hanya menghitung.

Hari berikutnya, ponselnya bergetar tanpa henti. Nomor tak dikenal. Pesan beruntun. Ancaman yang dikemas dengan bahasa formal tapi beraroma intimidasi.

Data Anda akan kami sebar.

Anton tertawa kecil. “Data apa?”

Beberapa menit kemudian, seorang teman lama mengirim pesan.

Ton, ini kamu?

Terlampir foto wajah Anton yang diedit kasar dengan tulisan merah besar: PENIPU! BURONAN!

Ia menatap layar lama sekali. Foto itu diambil dari media sosialnya. Senyum yang dulu ia unggah dengan bangga kini berubah menjadi bahan olok-olok digital.

Anton tidak marah. Ia hanya terdiam.

Ia baru sadar, di negeri ini yang paling cepat bukan ambulans, melainkan bunga pinjaman.

Sore itu, ia duduk di depan rumah. Tetangganya lewat sambil pura-pura tidak melihat. Mungkin sudah menerima pesan yang sama. Mungkin belum. Di zaman ini, rasa malu bisa dikirim massal.

“Ton, kamu kenapa?” tanya Pak Seno, tukang parkir minimarket di ujung jalan, yang kebetulan lewat.

“Dipetik, Pak,” jawab Anton.

“Dipetik siapa?”

Lihat selengkapnya