Damar dulu percaya pada dua hal: kopi tanpa gula dan perusahaan yang menyebut karyawannya “keluarga”.
Yang pertama masih bisa ia nikmati.
Yang kedua ternyata hanya slogan dengan font menarik.
Ia bekerja di sebuah startup teknologi yang kantornya penuh bean bag warna-warni dan dinding bertuliskan Dream Big. Setiap Senin pagi ada sesi motivasi. Setiap Jumat sore ada pizza gratis. Dan setiap bulan ada target yang diam-diam dinaikkan.
“Di sini kita bukan cuma rekan kerja,” kata CEO mereka suatu kali di panggung kecil dengan lampu temaram, “kita keluarga.”
Semua bertepuk tangan. Termasuk Damar.
Ia lembur tanpa banyak tanya. Ia mengerjakan tugas di luar job desk. Ia membalas email pukul dua pagi dengan rasa bangga. Ia pikir beginilah rasanya menjadi bagian dari sesuatu yang besar.
Sampai suatu pagi, undangan rapat masuk ke emailnya.
Subjeknya singkat: Town Hall – Important Update.
Damar masuk ke ruang Zoom bersama ratusan wajah lain. Sebagian masih mengunyah sarapan. Sebagian tampak setengah sadar.
CEO muncul dengan wajah serius. Tidak ada musik pembuka. Tidak ada lelucon ringan.
“Kondisi ekonomi global sedang menantang,” katanya.
Kalimat itu terdengar seperti pembuka ceramah yang tidak pernah membawa kabar baik.
“Untuk menjaga keberlanjutan perusahaan, kami harus mengambil keputusan sulit.”
Kata kami terdengar berat.
Kata harus terdengar seperti tidak ada pilihan lain.
Nama-nama mulai muncul di layar. Satu per satu. Termasuk nama Damar.
“Terima kasih atas kontribusinya selama ini.”
Rapat selesai dalam dua puluh menit.
Keluarga macam apa yang mengirim surat perpisahan lewat email massal?
Damar menutup laptopnya pelan. Tidak ada tangisan. Tidak ada teriakan. Hanya sunyi yang terasa terlalu luas untuk kamar kosnya yang sempit.
Ia memeriksa saldo rekening. Cukup untuk dua bulan, kalau ia berhenti membeli kopi di luar. Ia tertawa kecil. Dunia memang suka bercanda dengan orang yang baru saja kehilangan pekerjaan.
Siang itu, grup WhatsApp kantor ramai. Ada yang marah. Ada yang pasrah. Ada yang langsung mengubah status LinkedIn menjadi Open to Work seolah itu jimat penolak sial.
Damar tidak menulis apa-apa. Ia hanya membaca.
Malamnya, ia membuka kembali laptop. Bukan untuk mencari lowongan kerja. Ia justru membuka folder lama berisi laporan-laporan klien yang pernah ia tangani.
Ia bagian dari tim data analytics. Tugasnya sederhana: mengolah angka agar terlihat indah di presentasi. Menyusun grafik agar investor merasa aman. Memilih kata agar kerugian terdengar seperti “fase pertumbuhan”.
Damar selalu mengira pekerjaannya netral. Ia hanya memindahkan angka.