Nisa percaya pada dua hal: cahaya yang tepat dan sudut kamera yang jujur.
Sayangnya, dunia lebih menyukai sudut yang menguntungkan.
Ia dikenal sebagai konten kreator “jujur dan membumi”. Bio Instagram-nya berbunyi: Berbagi cerita, berbagi cahaya. Setiap unggahannya dipenuhi filter pastel, musik lembut, dan caption panjang tentang menerima diri sendiri.
Ironisnya, ia jarang benar-benar menerima dirinya.
Awalnya semua terasa sederhana. Ia hanya ingin berbagi keseharian. Kopi pagi. Buku yang dibaca. Obrolan kecil tentang overthinking. Lalu satu videonya viral—tentang betapa mahalnya biaya hidup di kota dan bagaimana ia bertahan dengan pekerjaan lepas.
Komentar membanjir.
“Relate banget.”
“Kak kuat banget.”
“Kita harus saling bantu.”
Angka pengikutnya melonjak.
Angka itu seperti tepuk tangan yang tidak pernah berhenti.
Brand mulai berdatangan. Undangan acara. Tawaran kolaborasi. Nisa belajar cepat bahwa kesedihan yang dikemas cantik lebih mudah dijual daripada kebahagiaan yang biasa saja.
Suatu hari, ia membuat video tentang tetangganya—seorang ibu yang kesulitan membayar biaya sekolah anaknya. Videonya dibuat dramatis. Musik piano pelan. Potongan gambar anak kecil yang tersenyum.
“Kalau teman-teman mau bantu,” katanya sambil menahan air mata yang sudah ia latih di depan cermin, “link donasi ada di bio.”
Donasi mengalir deras.
Awalnya, niatnya memang membantu. Ia mentransfer sebagian besar uang itu ke si ibu. Tapi ketika melihat total donasi yang masuk, jantungnya berdebar bukan karena haru—melainkan karena angka itu lebih besar dari penghasilannya sebulan.
Ia berpikir, wajar kalau ia mengambil sedikit. Untuk biaya produksi. Untuk tenaga. Untuk waktunya.
Sedikit itu terasa tidak berdosa.
Beberapa minggu kemudian, ia membuat kampanye lain. Kali ini tentang renovasi mushola kecil di ujung gang. Videonya lebih rapi. Ceritanya lebih menyentuh. Donasinya lebih besar.
Dan bagian “sedikit”-nya ikut membesar.
Nisa mulai menikmati ritme itu. Membuat cerita. Mengemas empati. Mengatur narasi.
Ia tidak pernah merasa sedang mencuri.
Bukankah ia juga bekerja?
Bukankah ia juga butuh hidup?