Bayu mengenal kota dari belakang setang motor.
Ia tahu jalan tikus yang tak tercantum di peta. Ia hafal lampu merah mana yang paling lama. Ia mengerti jenis penumpang dari cara mereka mengetik “di mana, Mas?” di kolom chat.
Ia bukan pemimpi besar. Cita-citanya sederhana: cicilan lunas, bensin cukup, dan istrinya bisa membuka warung kecil di depan rumah.
Motor itu bukan sekadar kendaraan. Itu sumber napas.
Sampai suatu pagi, napas itu ditarik paksa.
Dua orang dari leasing datang saat ia sedang menjemput pesanan sarapan. Mereka membawa map cokelat dan wajah tanpa ekspresi.
“Sudah tiga bulan menunggak, Pak Bayu.”
Bayu mencoba menjelaskan. Order sepi. Tarif turun. Potongan aplikasi naik. Ia bekerja lebih lama, tapi uangnya terasa makin pendek.
“Kami hanya menjalankan prosedur.”
Kalimat itu terdengar seperti mantra yang membuat empati tidak diperlukan.
Motor dibawa pergi.
Bayu berdiri di pinggir jalan, helm masih di tangan. Ponselnya berbunyi—order masuk yang tak bisa ia ambil.
Ia tertawa kecil.
Lucu sekali, pikirnya. Aplikasi selalu bilang, “Kamu mitra kami.”
Tapi mitra macam apa yang bisa diputus dengan satu klik dan satu surat?
Tanpa motor, Bayu kehilangan lebih dari sekadar penghasilan. Ia kehilangan ritme. Ia kehilangan alasan keluar pagi-pagi. Ia kehilangan rasa berguna.
Istrinya mencoba menenangkan.
“Kita cari jalan lain, Mas.”
Jalan lain terdengar bagus. Masalahnya, jalan mana yang tidak berbayar?
Beberapa hari kemudian, seorang kenalan lama menghubunginya. Namanya Rudi. Dulu sesama driver, tapi sekarang terlihat lebih santai. Bajunya rapi. Motornya baru.
“Masih nyari kerja?” tanya Rudi sambil menyeruput kopi.
“Iya. Motor juga sudah nggak ada.”
Rudi mengangguk pelan. “Kalau cuma antar paket, mau?”
Bayu mengernyit. “Paket apa?”
“Biasa. Barang titipan. Nggak lewat aplikasi. Bayarannya lebih gede.”
Bayu diam.
Ia bukan orang yang suka bertanya terlalu jauh. Tapi ia juga bukan orang yang sepenuhnya bodoh.
“Legal?” tanyanya pelan.