Bab 5
Arman dan Rasa Bosan yang Mahal
Arman tidak pernah benar-benar kekurangan.
Sejak kecil, ia terbiasa dengan rumah besar, mobil yang diganti sebelum rusak, dan percakapan makan malam tentang proyek, tender, dan “orang dalam”. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa dunia adalah papan catur, dan ayahnya tahu cara menggerakkan bidak.
Ayahnya pejabat. Ibunya aktif di organisasi sosial. Foto keluarga mereka sering muncul di koran lokal—tersenyum, rapi, penuh citra kepedulian.
Arman sekolah di luar negeri. Pulang dengan gelar yang terdengar mengesankan dan kebiasaan minum kopi mahal tanpa benar-benar tahu rasanya.
Semua tersedia.
Dan justru itu masalahnya.
Rasa bosan Arman tidak pernah kecil. Ia bosan dengan kemudahan. Bosan dengan pujian yang datang bahkan sebelum ia melakukan apa-apa. Bosan dengan kalimat, “Ah, kamu kan anak Pak itu.”
Ia ingin merasa hidup.
Awalnya, ia menyalurkan kebosanannya lewat hal-hal biasa: balapan mobil malam hari, pesta yang terlalu terang, teman-teman yang terlalu ramai. Tapi semua itu terasa sebentar. Sensasinya cepat habis.
Suatu malam, saat nongkrong di rooftop hotel bersama beberapa kenalan, seseorang bercerita tentang sistem keamanan butik mewah yang baru saja dipasang.
“Katanya nggak mungkin ditembus,” kata temannya sambil tertawa.
Arman tersenyum.
Kata “nggak mungkin” selalu terdengar seperti tantangan.
Beberapa hari kemudian, ia berdiri di depan butik itu. Bukan untuk berbelanja. Ia hanya mengamati. Kamera di sudut ruangan. Alarm di pintu belakang. Jadwal satpam yang terlalu rutin.
Ia tidak butuh uang dari tas-tas mahal itu. Ia hanya ingin membuktikan bahwa ia bisa.
Ia menyusun rencana dengan tenang. Seperti mengerjakan proyek kuliah. Ia bahkan merasa lebih bersemangat daripada saat membantu kampanye ayahnya.
Malam itu, ia masuk lewat akses servis. Sistem alarm mati selama beberapa menit—cukup untuk mengambil satu barang kecil yang harganya setara gaji tahunan Bayu.
Ia keluar tanpa jejak.
Tidak ada sirene. Tidak ada teriakan. Hanya detak jantung yang terasa lebih nyata dari biasanya.
Di kamar apartemennya, ia menatap tas itu lama sekali.
Bukan tasnya yang ia nikmati. Tapi fakta bahwa ia berhasil.
Ia tertawa kecil.
Ternyata yang paling mahal bukan barangnya.