Anton tidak pernah menyukai suara mesin hitung.
Bunyi “ceklek-ceklek” itu selalu terdengar seperti seseorang yang menertawakan hidupnya. Di kantor koperasi tempat ia bekerja dulu, suara itu adalah musik sehari-hari. Angka masuk, angka keluar, cicilan macet, denda berjalan, dan orang-orang yang datang dengan wajah setengah putus asa.
Anton bukan orang jahat.
Setidaknya ia selalu meyakinkan dirinya begitu.
Ia hanya “mengambil” sedikit dari orang-orang yang menurutnya tak akan merasa kehilangan. Pembulatan angka. Potongan administrasi yang tak pernah tercatat jelas. Uang kembalian yang sengaja diperlambat agar orang lupa. Kecil. Nyaris tak terlihat.
Seperti semut.
Dan siapa yang peduli pada semut?
Masalahnya, semut kalau dikumpulkan jadi sarang.
Dan sarang bisa robohkan dinding.
Hari itu, Anton berdiri di depan cermin kamar kosnya yang sempit. Rambutnya mulai memutih di sisi pelipis. Usianya belum empat puluh, tapi hidupnya sudah terasa seperti laporan keuangan yang selalu minus.
Ia bukan pencuri karena lapar.
Ia pencuri karena merasa selalu kurang.
Kurang dihargai.
Kurang dipuji.
Kurang berhasil dibanding teman-temannya yang kini memamerkan mobil baru dan foto liburan luar negeri.
Di media sosial, semua orang tampak kaya. Semua orang tampak “berhasil”. Semua orang seperti sedang memetik sesuatu dari hidup—uang, cinta, kesempatan.
Anton merasa ia hanya penonton.
Dan penonton lama-lama ingin ikut naik panggung.
Di kantor, ia duduk paling pojok. Bukan karena rendah hati, tapi karena dari sudut itu ia bisa melihat layar semua orang. Ia tahu siapa yang ceroboh, siapa yang mudah lupa, siapa yang terlalu percaya sistem.
Sistem.
Kata yang selalu ia jadikan kambing hitam.
“Sistemnya yang lemah, bukan saya yang jahat.”
Kalimat itu sudah seperti doa baginya.
Hari itu, seorang ibu datang. Wajahnya lelah. Tangan kasarnya memegang map plastik tipis.
“Mas, cicilan saya telat tiga hari. Bisa ditoleransi, ya?”
Anton menatapnya lama. Ia tahu aturan. Ia tahu angka. Ia tahu bunga yang berjalan.
Dan ia tahu bahwa tiga hari telat berarti denda yang cukup untuk menambah saldo pribadinya sedikit.
“Ibu tahu aturannya,” jawabnya halus. “Kalau telat, ya kena denda.”
“Bisa dibantu, Mas… Saya baru dapat kerjaan lagi.”
Anton tersenyum tipis. Senyum yang sering ia pakai untuk menenangkan sekaligus mengintimidasi.
“Semua orang juga punya alasan, Bu.”
Ia mengetik cepat. Angka muncul. Denda ditambahkan.
Ibu itu mengangguk pelan. Mungkin malu. Mungkin pasrah. Mungkin terlalu lelah untuk melawan.
Saat ibu itu pergi, Anton melihat punggungnya yang membungkuk.
Ia sempat merasa tidak enak.
Hanya sebentar.
Lalu ia membuka ponselnya dan melihat notifikasi diskon sepatu yang sudah lama ia incar.
Hidup ini keras, pikirnya.
Kalau bukan kita yang memetik, ya kita yang dipetik.
Masalahnya, Anton lupa satu hal.
Orang yang terlalu sering memetik tanpa melihat sekitar, suatu hari akan dipetik juga.
Audit datang tanpa aba-aba.
Pria berjas rapi duduk di ruang rapat kecil. Berkas-berkas ditumpuk. Laporan dibuka satu per satu.
Anton merasa tenggorokannya kering.
“Kami menemukan selisih yang berulang,” kata auditor itu tenang.
Selisih.
Kata yang dulu ia anggap kecil.
Kini terdengar seperti vonis.
“Bisa dijelaskan?”
Anton mencoba tersenyum. Ia sudah menyiapkan berbagai kemungkinan. Ia pintar merangkai alasan.
“Kesalahan input mungkin, Pak. Sistem kami sering—”
“Kesalahan yang selalu menguntungkan rekening yang sama?”
Kalimat itu memukul lebih keras daripada tamparan.