Sang Pemetik

Bear Winter
Chapter #7

#7 — Di Balik Jeruji, Ada Cermin

Hari ketujuh Anton di penjara, ia mulai hafal suara langkah sipir.

Langkah berat Pak Surya yang selalu diseret sedikit di kaki kiri. Langkah cepat anak magang yang masih terlihat canggung. Dan langkah santai para tahanan yang pura-pura tidak peduli, padahal masing-masing sedang menghitung hari seperti menghitung sisa saldo.

Anton duduk bersandar di dinding, memandangi langit dari sela jeruji. Ia mulai terbiasa dengan bau lembap dan suara dengkuran bercampur batuk di malam hari. Manusia, ternyata, bisa beradaptasi dengan hampir apa saja—bahkan kehilangan harga diri.

Di blok itu, ada enam orang lain yang mulai sering ia ajak bicara. Tanpa disadari, mereka duduk melingkar setiap sore, seperti forum diskusi tidak resmi. Bedanya, ini bukan ruang seminar. Ini ruang sisa.

Yang pertama, pria bertato yang dulu menyambutnya. Namanya Bram. Ia mencuri motor. “Bukan hobi,” katanya, “cuma profesi sementara.”

Lalu ada Dimas, mahasiswa semester akhir yang membuat website investasi bodong. “Cuma janji manis yang terlalu laris,” katanya enteng.

Ada Rahmat, mantan pegawai bank yang memanipulasi data nasabah.

Ada Jaya, bapak dua anak yang mencuri kabel proyek.

Ada Ucup, tukang parkir yang memalsukan karcis demi setoran lebih.

Dan terakhir, Anton sendiri.

Tujuh orang.

Tujuh cara memetik.

Tujuh cerita yang awalnya tak saling kenal.

“Lucu ya,” kata Dimas suatu sore. “Kita ini kayak representasi Indonesia mini.”

“Mini apanya?” tanya Bram.

“Mini korupsi,” jawab Dimas sambil tertawa.

Tawa mereka pecah, tapi cepat meredup.

Karena di balik candaan itu, ada kebenaran yang tak enak disentuh.

Anton memandangi mereka satu per satu. Ia mulai menyadari benang merah yang tak terlihat. Semua pernah merasa terdesak. Semua pernah merasa tidak adil. Semua pernah membenarkan diri sendiri.

Dan semua akhirnya duduk di sini.

“Kalau boleh jujur,” Anton akhirnya angkat suara, “kalian pernah merasa… sebenarnya kita ini cuma versi kecil dari yang lebih besar?”

Rahmat mengangguk pelan. “Bedanya cuma nominal.”

“Dan akses,” tambah Dimas.

“Dan jaringan,” sambung Bram.

“Kalau kita punya akses ke proyek triliunan, mungkin kita nggak cuma ambil kabel,” Jaya tersenyum pahit.

Anton merasa dadanya sesak. Selama ini ia merasa paling rapi, paling ‘berpendidikan’. Tapi di sini, semua gelar dan gaya hilang.

Yang tersisa cuma pilihan yang pernah diambil.

Suatu malam, listrik di blok sempat mati beberapa menit. Gelap menyelimuti ruangan. Hanya suara napas dan beberapa sumpah serapah terdengar.

Dalam gelap, Anton merasa anehnya lebih jujur.

“Kalian pernah nggak,” katanya pelan, “ngerasa iri sama orang yang hidupnya kelihatan gampang?”

“Hah?” Ucup mengangkat kepala.

“Maksudnya… orang-orang yang kayaknya selalu selamat. Selalu lolos. Selalu aman.”

Rahmat tertawa kecil. “Oh, maksud kamu pejabat?”

Semua kembali tertawa.

“Tapi serius,” lanjut Anton. “Kadang aku mikir, kenapa kita yang ditangkap? Kenapa bukan yang di atas-atas itu?”

Bram menjawab tanpa ragu. “Karena kita nggak cukup kuat.”

“Dalam arti?”

“Dalam arti… kita nggak punya pagar.”

Anton merenung. Pagar. Kekuasaan. Uang. Relasi.

Ia teringat baliho pejabat yang dulu ia lihat dari mobil polisi. Slogan bersih dan amanah.

Ia hampir ingin marah. Tapi kemarahan tidak mengubah fakta bahwa ia tetap bersalah.

Dimas tiba-tiba berkata, “Mungkin ini bukan soal siapa yang lebih jahat.”

Lihat selengkapnya