Sang Pemetik

Bear Winter
Chapter #8

#8 — Rencana yang Terlalu Sederhana

Ide berubah selalu terdengar indah saat perut kenyang dan pintu terkunci dari luar.

Masalahnya, perubahan sering kali lapar.

Seminggu setelah percakapan tentang “menjadi penanam”, tujuh orang itu mulai membicarakannya dengan lebih serius. Bukan lagi sekadar bahan candaan sore.

“Kita butuh rencana,” kata Dimas, duduk bersila seperti sedang presentasi skripsi.

“Kita ini di penjara, bukan di coworking space,” Bram menimpali.

“Justru karena itu. Kalau di luar nanti, kita sudah punya gambaran.”

Anton memperhatikan mereka. Ada sesuatu yang berbeda di wajah masing-masing. Bukan optimisme berlebihan, tapi semacam kebutuhan untuk percaya bahwa hidup tidak selesai di sini.

“Kalau kita mau bikin usaha bareng,” Rahmat mulai berpikir keras, “harus sesuatu yang legal, transparan, dan nggak ribet izin.”

“Warung?” usul Jaya.

“Sudah banyak.”

“Laundry?”

“Modalnya lumayan.”

“Bengkel kecil?” Bram mengangkat bahu.

“Masalahnya,” Ucup menyela, “kita ini dikenal sebagai mantan narapidana. Orang mau percaya?”

Hening.

Itu pertanyaan yang lebih berat dari modal.

Anton menghela napas. “Mungkin bukan langsung usaha besar. Mungkin mulai dari sesuatu yang bikin orang lihat kita sebagai manusia dulu.”

“Contohnya?”

Anton berpikir. Ia teringat ibunya yang dulu sering bilang, orang desa tidak menilai dari masa lalu, tapi dari perilaku sehari-hari.

“Komunitas kecil. Edukasi soal keuangan. Biar orang nggak gampang ketipu kayak korban Dimas.”

“Woy!” Dimas protes, tapi tersenyum.

“Serius. Banyak orang kejebak karena nggak ngerti. Aku ngerti sistem koperasi. Rahmat ngerti bank. Kamu ngerti digital. Kita bisa pakai itu buat bantu orang.”

Bram mengangguk pelan. “Jadi kita bantu orang supaya nggak jadi kayak kita?”

“Iya,” Anton menjawab mantap.

Jaya terkekeh. “Ironis banget ya. Mantan penipu ngajarin orang biar nggak ketipu.”

“Justru itu nilai jualnya,” kata Dimas. “Kita tahu trik-triknya.”

Mereka saling pandang.

Rencana itu terdengar sederhana.

Terlalu sederhana mungkin.

Namun di dunia yang rumit, sesuatu yang sederhana sering kali terasa paling jujur.

Malam itu Anton sulit tidur lagi. Tapi bukan karena cemas.

Ia memikirkan hidup setelah bebas. Ia sadar cap “mantan narapidana” tidak mudah hilang. Masyarakat sering memaafkan dosa besar di layar televisi, tapi sulit memaafkan kesalahan kecil di lingkungan sendiri.

Ia membayangkan kembali ke kota. Tetangga yang berbisik. Keluarga yang malu. Lowongan kerja yang tiba-tiba “sudah terisi”.

Apakah ia cukup kuat?

Ia teringat satu hal yang pernah dikatakan Bram saat mereka bercanda.

“Penjara itu bukan cuma bangunan. Kadang orang keluar dari sini, tapi tetap dipenjara pikiran orang lain.”

Kalimat itu menghantui.

Anton tidak ingin selamanya hidup sebagai “yang pernah tertangkap”.

Ia ingin dikenal sebagai “yang pernah salah, tapi belajar”.

Tapi apakah masyarakat memberi ruang untuk itu?

Beberapa hari kemudian, kabar beredar bahwa salah satu tahanan akan bebas lebih dulu karena masa tahanannya pendek.

Lihat selengkapnya