Sang Pengamat

Ariaria
Chapter #2

Bangsawan Yang Menggelandang

Hanya butuh satu hari untuk kemudian aku menggelandang di tengah kota. Tanpa jubah kebesaran. Tanpa seragam para bangsawan. Compang-camping layaknya warga kelas menengah kebawah lainnya karena pakaianku yang melekat di tubuh saat diusir sudah kujual ke salah seorang pedagang.

Tiap hari makanku hanya dua kali. Sepotong roti dan segelas air. Lebih dari itu aku tidak mampu. Dengan fisik yang kecil dan lemah, tidak ada orang yang mau mempekerjakanku—bahkan untuk suatu hal yang sangat remeh. Mendaftar sebagai petualang yang bekerja lepas juga ditolak. Diusir seketika oleh petugas karena dikira orang gila.

Akhirnya beginilah kehidupanku diluar kediaman bangsawan Satoshi: mengais-ngais tong sampah di pinggir jalan, mencari barang yang bisa dijual kembali, menukarnya kepada para bangsawan setelah dibersihkan sejenak dari debu, kemudian mencari makan dengannya untuk menyambung hidup.

Membuatku sangat menyesal mengapa dahulu aku pernah menolak makan sampai habis di meja makan keluarga.

"Kehidupan itu... Ternyata seperti ini, ya...?"

Aku yang masih bocah sepuluh tahun bertanya pelan kepada diri sendiri. Linglung ditengah pasar yang begitu ramai. Menatap orang-orang yang asyik berbelanja. Membeli berbagai macam kebutuhan sesuai yang mereka inginkan. Tertawa bahagia dengan pakaian yang lebih bagus dariku. Membuatku malu pada diri sendiri. Perlahan pergi menjauh karena tidak kuat menahan pengaruh buruk sosial yang mendera. Mencari salah satu gang sempit kota yang gelap dan lembab.

Beristirahat disana setelah memperoleh satu keping koin tembaga seharian untuk makan malam nanti.

Berjongkok pelan.

Menundukkan kepala seraya memeluk kedua lutut yang gemetar karena lapar.

Terisak.

Menitikkan air mata.

Kejam sekali nasib hidup yang harus kualami.

Tidak memiliki sihir

Dibuang keluarga.

Hidup menggelandang.

Padahal aku masih kecil... tetapi semesta seolah begitu tega kepadaku.

Memberikan ujian yang mungkin orang dewasa sendiri tidak akan mampu melewatinya.

Sebulan penuh aku bertahan dengan kondisi seperti ini... aku sepertinya sudah mencapai batasku. Jika dibiarkan, mungkin aku bisa jadi gila sungguhan.

Apa sebaiknya... aku mati saja?

"Jangan mencoba memberontak, bodoh! Kau akan merepotkan kami jika ketahuan disini!"

Disaat rasa paranoid masih menghantui diri, tiba-tiba sebuah suara kasar terdengar dari dalam gang sempit yang gelap.

Membuatku menoleh. Penasaran.

Akan tetapi, belum sempat bangkit, suara itu muncul lagi. Hanya saja kali ini pemiliknya adalah seorang wanita. Berseru kencang.

"TOLONG! TOLONG AKU—"

BUK!

Sebuah suara pukulan berhasil memutus seruan barusan, membungkamnya rapat-rapat.

Demi mendengar hal itu, aku terkejut hebat. Melupakan kesedihanku sejenak. Bergerak menghampiri asal suara yang sepertinya tidak beres. Melangkah pelan-pelan dalam senyap. Mengedarkan pandangan.

Ternyata, dalam salah satu belokan yang berakhir buntu, sekelompok pria garang berjumlah tiga orang sedang menyekap gadis cantik remaja.

Rambutnya putih perak dengan sebuah pita hitam di salah satu sudut. Bola matanya hijau. Kulitnya putih bersih bagai keramik.

Dengan bahu gemetar dan sorot mata ketakutan, gadis itu meronta-ronta melawan ikatan tali tambang cokelat yang mengunci kedua tangan dan kakinya. Mulut kecil yang tadi berteriak ikut dibekap menggunakan perban hitam.

Menyaksikan gadis berambut perak tak dapat melawan atau berteriak, tiga pria dewasa tertawa lebar. Memegangi perut.

"HAHAHAHA! Dengan begini kita akan kaya raya!!"

Membuatku seketika memahami apa yang sedang terjadi.

Penculikan.

Perbudakan ilegal.

Hal seperti ini bukan hal yang aneh di kota Raven yang masih minim penjagaan.

Pemerintahan masih terlalu miskin untuk membayar ribuan pasukan penyihir untuk mengamankan setiap sudut wilayah kekuasaannya supaya bebas dari praktik kejahatan.

Aku menghela nafas.

Gemetar.

Mulai berhitung.

Musuh berjumlah tiga orang. Dengan kekuatan fisik yang jelas lebih jauh diatasku.

Kondisi tempat cukup sempit, membuatku mungkin tidak akan mudah dikepung begitu saja.

Salah satu anggota tampak menggunakan penutup mata yang kuduga adalah bekas luka permanen yang merenggut penglihatan. Ia memiliki tubuh yang paling besar dan tinggi. Kedua lelaki di dekatnya cenderung lebih kurus, akan tetapi sebuah belati tajam yang panjangnya tidak akan lebih dari lima belas senti tersarung di punggungnya. Kapanpun siap dihunus, digunakan menyerang. Salah seorang diantara mereka memiliki memar di tangan kanan. Dibalut dengan perban kotor.

Aku mendecikkan lidah kesal.

Dengan kondisi yang seperti ini, meski ada beberapa celah, sepertinya aku tidak akan berhasil mengalahkan ketiga orang di depan, apalagi menyelamatkan wanita yang diikat itu. Mempertaruhkan nyawa hanya untuk seseorang yang tak dikenal.

Untuk apa aku melakukannya?

Tanyaku pada diri sendiri, kemudian memerhatikan pakaian si gadis dari tembok tempat bersembunyi.

Pakaian yang sangat khas.

Pakaian seorang bangsawan kerajaan yang mungkin datang dari kota lain.

Demi melihatnya menggunakan pakaian tersebut, dalam diriku timbul rasa iri yang langsung membeludak.

Membayangkan gadis sepertinya bisa tumbuh dalam lingkungan yang menyenangkan.

Lihat selengkapnya