Sang Pengamat

Ariaria
Chapter #4

Menjadi Pelayan Di Kota Navy

Yang terjadi berikutnya adalah kedua orangtua Rin Heartbeat membelikan berbagai keperluanku di pasar, memberikanku sebuah tas kulit yang memenuhi punggungku dengan dua tali sampiran yang kuapit di bahu, mengajakku ikut kereta kuda mereka yang memiliki logo kerajaan Voltaire yang putih keemasan. Berangkat ketika matahari memancarkan cahaya jingga. Keluar gerbang kota Raven yang tinggi dan tebal. Menuju padang rumput luas yang hijau berayun ditiup angin. 

Sepanjang perjalanan, Rin Heartbeat yang tinggal segerbong denganku menceritakan masa lalunya yang indah. Dengan kakak-kakak keren yang bisa diandalkan namun selalu cerewet. Dan para pelayan yang begitu menghormatinya. Melakukan apapun ketika ia memerintah. Dari cerita itu pula, aku bisa memahami bahwa gadis berabut perak ini sudah melakukan upacara pemberkatan sihir. Memperoleh elemen yang cukup langka, Cahaya Suci. Membuatku seketika iri, tetapi dapat kusembunyikan dengan lihai di hadapan Rin yang masih asyik bicara.

Tiga hari pun berlalu.

Setelah melewati berbagai macam bukit dan lembah, akhirnya kami sampai di wilayah kekuasaan bangsawan Heartbeat, kota Navy.

Sebagaimana nama yang dimilikinya, kota Navy memiliki akses maritim terbaik yang memudahkan mereka mengimpor barang-barang dari wilayah lain melalui laut. Pelabuhan yang dimiliki mereka merupakan aset besar kerajaan. Mengurus ribuan kapal yang selalu hilir-mudik setiap hari. Membawa penumpang. Memberikan pajak.

Suasana kota juga tidak begitu jauh dengan Raven. 

Bangunan-bangunan bata yang dicat tersusun rapi sepanjang jalan. Lampu tiang besi memberikan penerangan temaram. Berbaris melalui sebuah formasi. Sementara jalan bebatuan dilapisi aspal hitam. Mempermudah perjalanan kendaraan beroda yang semakin ramai digunakan. 

Malam menerkam, aku sampai di kediaman Heartbeat yang begitu besar. Nyaris mengalahkan kediaman keluarga Satoshi yang menjadi Tuan di kota Raven.

Tamannya begitu indah dengan berbagai macam tanaman dibudi-dayakan disana. Buah-buahan juga melimpah, tampak ranum di pohon yang terawat dengan baik. Pagar-pagar besinya tinggi, memancarkan sihir penghalang yang dapat kurasakan ketika menyentuhnya. Jalan setapak menuju pintu masuknya juga dibuat dengan kumpulan krikil yang bagus untuk terapi akupuntur kaki jika tak memakai sepatu. 

Membuka pintu kayu Mahoni yang merah kecokelatan, belasan pelayan langsung menyambut rombongan kami yang datang dengan posisi tubuh membungkuk, memberi salam keselamatan bersama-sama. 

Aku sempat salah tingkah ketika diberi perlakuan seperti itu. Lupa bahwa biasanya aku juga mengalami hal serupa berkali-kali ketika masih menjadi bangsawan. Belum diusir dari rumah.

Tuan Albert Heartbeat, ayah dari Rin, akhirnya memperkenalkanku kepada belasan pelayan dan lima pengawal yang sedang berkumpul sebagai pelayan baru di kediaman. Memohon bantuan dan pengajarannya kepada mereka yang lebih senior. Aku pun dipasrahkan kepada Rick Brown, kepala pelayan yang sudah bertahun-tahun bekerja untuk keluarga Heartbeat, meminta supaya ia mendidikku secepat mungkin sehingga bisa mulai bertugas, yang langsung dibalas dengan anggukan tipis.

Rin pun melambaikan tangannya kepadaku ketika menuju lantai atas tempat kamarnya berada. Sementara aku, digiring menuju salah satu kamar di lantai satu yang memang disediakan untuk para pelayan dan pengawal pribadi keluarga bangsawan.

Dengan profesional, Rick Brown menjelaskan cara kerja pelayan disini sambil berjalan. Sesekali menunjuk bagian-bagian rumah yang akan sering kutempati untuk bekerja. Memberitahu kapan saja boleh beristirahat dan kapan tidak boleh. 

Sebagian besar penjelasannya dapat kupahami dengan mudah. Yang semacam ini bukan masalah bagiku yang terbiasa menghafal sesuatu dengan cepat. Dalam waktu singkat memahami denah rumah Rin Heartbeat secara garis besar, mencoba berjalan-jalan untuk mengamati lebih dekat. Melakukan observasi.

Hingga aku bertemu dengan Rin di lantai dua. Sudah berganti baju tidur yang putih dengan renda halus di ujung pakaiannya. Tersenyum simpul melihatku yang mengamati rumah dari ujung ke ujung bagai mata-mata pihak musuh. Bertanya.

"Bagaimana? Apakah rumahku ini bisa memuaskanmu?"

Aku mengangguk.

"Ya, suasananya lebih tenang dan hangat. Tidak seperti kediamanku di Raven."

Rin Heartbeat memiringkan wajahnya. Membentuk sudut lancip sambil memandangku agak heran.

"Kediamanmu?"

Aku jadi kaget sendiri karena keceplosan.

"Ah, bukan!! Lupakan saja!!"

Lalu mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Be--benar juga! Ngomong-ngomong, kamar Rin-san berada dimana?! Tadi Rick-san belum memberitahuku."

Gadis berambut perak menyipitkan matanya seolah menyelidik. Menyeringai padaku.

"Hee... Kenapa kau bertanya akan hal itu? Ini kamar seorang gadis remaja, lho...?"

Lihat selengkapnya