Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Abdullah Muhammad
Chapter #1

Yukki Dan Akame

Bertahun-tahun berlalu, si kembar dalam kurungan putih itu tumbuh semakin besar dan dewasa. Makanan dan minuman yang diberikan oleh orang-orang berjas putih, meskipun ia terkadang kotor dan tidak layak konsumsi, mampu mendukung pertumbuhan dua gadis kecil tersebut, membuat mereka tampak lebih tinggi, dengan kaki-tangan yang lebih panjang. Karena suatu alasan, rambut mereka kini memiliki warna. Si kakak berwarna merah terang sementara yang adik berwarna biru muda. Kini keduanya kembali didatangi oleh orang-orang berjas putih yang membawa seperangkat barang percobaan tanpa lisensi, berniat menjejalkannya pada kedua gadis tak bersalah itu. 

Tetapi, setelah sel dibuka dan 'siksaan neraka' kembali dimulai, tiba-tiba sang kakak berkata, menatap tajam orang-orang berjas putih yang mendekat.

"Hei, kalian butuh kelinci percobaan untuk penelitian kalian, kan?", Si kakak memastikan, sementara Si Adik tidak mengetahui apa yang ia pikirkan atau rencanakan.

Orang-orang berjas putih tentu saja tidak menanggapi pertanyaan itu--yang berarti jawabannya adalah 'iya', sehingga si kakak melanjutkan.

"Kalau begitu, aku saja cukup. Yukki tidak perlu ikut menderita. Biarkan saja ia. Lakukan sesuka kalian pada tubuhku.",

Mendengar hal itu tentu saja si adik yang ternyata bernama Yukki terperanjat, pucat hebat di wajah.

"A-Apa yang kak Akame katakan?!",

Tetapi, untuk sejenak orang-orang berjas putih yang berkunjung ke sel kosong putih tanpa warna saling berdiskusi, kemudian mengangguk pelan, menyetujui usulan si kakak yang bernama Akame, membawa alat-alat mereka kepadanya, bersiap melakukan percobaan-percobaan aneh kepada gadis tersebut, mengeluarkan pisau bedah, gergaji, kapak, suntik jarum panjang dengan cairan misterius dan obat-obatan berbau menyengat, memulai neraka baru yang semakin suram dan gelap. 

Melihat kakaknya yang rela diberi siksaan ganda menggantikan dirinya, Yukki di sebelah meronta-ronta keras, berusaha berontak, memanggil-manggil nama si kakak--bahkan mulai mengumpat orang-orang berjas putih, suatu hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Ikatan persaudaraan yang tumbuh diantara mereka membuat si adik menangis tersedu-sedu, berteriak parau seolah ia turut merasakan penderitaan yang diterima si kakak. Mencoba melepaskan diri dengan mengeluarkan kekuatan sihirnya.

Satu ruangan mendadak turun suhunya hingga minus sekian derajat. Orang-orang kedinginan, beberapa tidak dapat bergerak. Jeruji sel kurungan yang konon dapat menahan kekuatan penyihir istana yang terkenal itu ikut menyusut, bergemeletuk, untuk kemudian patah bagai kayu tua yang rapuh dimakan ribuan rayap. Seisi ruangan tiba-tiba dilapisi permukaan es licin meski tidak ada air. Orang-orang ketakutan, segera memanggil bala bantuan dari alat komunikasi--karena penjaga diluar sel secara ajaib telah membeku tanpa satu serangan langsung apapun yang mengenai mereka, dimakan bongkahan es besar yang ujung-ujungnya lancip bagai mata pedang.

"Lepaskan...", 

Bergumam pelan, rantai tebal yang membelenggu si adik, Yukki, akhirnya pecah berhamburan layaknya kaca, terlepas, berklontangan diatas lantai yang kini telah dilapisi es tipis. Sangat dingin dan biru. Tatapannya tidak lagi polos, tetapi lebih seperti pembunuh berdarah dingin yang baru saja keluar dari kurungan, bersiap menghabisi mangsanya.

"LEPASKAN AKAME!!",

Dengan satu teriakan, bongkahan-bongkahan es besar muncul dari lantai yang beku seolah ia adalah pohon raksasa yang tiba-tiba tumbuh secara instan. ujungnya yang tajam dalam sekejap mencabik-cabik tubuh orang-orang berjas putih yang mengelilingi gadis kecil berambut merah, Akame. Teriakan-teriakan kesakitan memenuhi ruangan yang tadinya sunyi. Darah-darah terciprat, membanjir di beberapa sudut. 

Dalam satu gerakan, Yukki menarik tangan kakaknya yang juga telah bebas dari rantai pembelenggu anti-sihir, berseru,

"Ayo, kak! Kita lari dari sini!",

Tanpa menunggu waktu lagi, Akame pun bangun, agak terkejut melihat kekuatan adiknya yang mampu menghancurkan logam anti-sihir terbaik yang ada di benua, berlarian keluar sel sambil menembaki orang-orang berjas sihir yang datang membawa senjata, menghabisi mereka dengan serangan sihir api yang mampu menembus tubuh, menewaskan seketika--satu hal hal yang dari dulu sangat ia inginkan. Sementara adiknya, Yukki yang berelemen es menoleh ke kanan-kiri, menemukan beberapa anak kecil yang juga dikurung seperti mereka, dengan kekuatan sihirnya menghancurkan jeruji sel yang mengurung sekaligus rantai-rantai yang membelenggu melalui nafas es halus yang membuat rapuh bagian dalam komponen, membebaskan mereka untuk diajak pergi bersama.

"Kalian, ayo cepat pergi!!",

Beberapa anak sempat ketakutan dan trauma, sebagian lain mematung beku, tidak mau lari dari sel, khawatir akan diberikan 'siksaan' yang lebih berat apabila melawan, sementara yang lainnya lagi langsung berhamburan, semangat membebaskan kawan-kawannya.

Menghela nafas pelan, Akame yang memang jago berbicara itu akhirnya menghampiri anak-anak yang ketakutan, meyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja, mengajak mereka bergabung supaya bisa keluar dari neraka ini bersama-sama. Akhirnya mereka mau, bergabung dengan barisan pemberontak, menggunakan sihir dan segala kekuatan yang mereka milikki untuk melawan para peneliti.

Pada malam itu, hampir semua 'aset' milik penelitian berhasil melepaskan diri, memberontak pada orang-orang berjas putih, menggunakan kekuatan hebat yang mereka miliki untuk melawan balik. Lorong-lorong kacau balau oleh pertempuran dahsyat. Mesin-mesin besar dihancurkan dalam sekali serang. Lupakan logam anti-sihir. Lupakan baja tebal bahan utama zirah pengawal raja. Di hadapan 'anak-anak aset', barang tersebut ternyata hanya mainan belaka ketika mereka bekerja sama, menyerang dengan kekuatan penuh, terus merengsek mencari jalan keluar sambil menghabisi setiap orang berjas putih yang terlihat melintas. 

Infrastruktur telah dikuasai, pihak peneliti memutuskan mundur, menghindari potensi meledaknya korban jiwa, berlarian mundur sambil ditembaki sihir-sihir dahsyat--hasil percobaan mereka sendiri kepada anak-anak tersebut. Bentuk sempurna dari ungkapan 'senjata makan tuan'.

Lihat selengkapnya