"Berani sekali kau...bocah kecil",
Melalui tatapan buas dan seringai mengerikan, Yukki-san yang kini berambut merah dan bermata emas itu bergumam pelan, bangkit sambil mengeluarkan aura panas yang luar biasa membakar, menciptakan kobaran api yang menjilat-jilat di lantai kamar penginapan yang memang terbuat dari kayu, melahap berbagai furnitur penginapan, membuat hawa semakin panas dan menyiksa, akhirnya menjadikanku layaknya patung batu yang tak dapat bergerak. Tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Kekuatan ini...persis seperti yang dahulu kurasakan di malam itu.
Malam ketika desa Chiharu dihanguskan dengan hujan bola api panas.
Aku ingin bergerak melawan. tetapi, energi dan stamina tubuh yang sudah terkuras memaksaku hanya bisa terduduk lemah, pasrah menerima apa yang akan dilakukan oleh Si Penyihir bertopeng kucing yang tidak lagi mengenakan topengnya.
Sambil mengangkat satu telunjuknya--suatu gerakan yang cukup traumatis bagiku, Yukki-san yang berubah sosok menjadi Si penyihir bertopeng kucing bertanya datar, mendesis dalam seringai tajam mengerikan.
"Tadi itu...Kau berusaha membunuh Yukki, kan?",
Sihir Api: Ledakan api
BUUUUMMM!
Dalam satu tembakan, lantai dua penginapan Masamune-san hancur lebur, fondasi-fondasinya patah, atapnya jatuh menimpa lantai terbawah. Api-api menjalar kemana-mana, mencairkan es yang masih menancap, mengubahnya dalam sekejap menjadi api unggun raksasa yang kelewat panas, membuat diriku yang terhempas, mendarat di halaman bawah yang masih berupa permukaan es, ikut terpanggang, tak bisa bergerak sedikitpun dengan luka bakar hingga gosong memenuhi tubuh bagian depan.
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Es: Sentuhan Penyembuh!
Menggunakan penyembuhan singkat, aku berusaha bangkit, mencari keberadaan Si Penyihir Bertopeng dengan penuh waspada.
BUK!
Tetapi celaka, dengan gerakan cepat mirip teleportasinya, ia muncul dihadapanku, menendang dadaku keras-keras hingga kudengar beberapa tulang patah disana, menghempaskannya jauh melintasi halaman, menubruk pagar penginapan yang terbuat dari batu, menghancurkannya--menambah tingkatan remuknya tubuhku yang semakin cedera.
Rasa sakit menjulur ke seluruh tubuh, nafasku sesak berat akibat rusuk yang patah, seketika langsung mengulangi sihir penyembuhan. Berusaha melarikan diri dari penyihir bertopeng yang mengamuk.
"Tak kusangka kau masih hidup setelah menerima ledakan itu, bocah sialan",
Berkata demikian, sekonyong-konyong Yukki berambut merah muncul diatasku tepat, mengirimkan tendangan berputar yang langsung menghancurkan punggungku, memaksanya ambruk ke tanah supaya bisa ia injak sesuka hati.
"Hei, bocah. Darimana kau bisa gunakan sihir milik Yukki, hah? Kau merampasnya? Jawab aku, bodoh", Dibalik tatapannya yang dingin, Penyihir Bertopeng menginjak-injak tubuhku berkali-kali, menendangnya sambil bergumam pelan.
Aku yang tidak memiliki kesempatan menyerang hanya dapat menggunakan sisa-sisa kekuatanku untuk menyembuhkan diri, berusaha bertahan selama mungkin, mengharapkan keajaiban muncul sekali lagi.