Malam itu begitu gelap. Tetapi, tak seperti biasanya, ia terlihat begitu terang seolah ada seseorang yang menyalakan obor ditengah angkasa sana, menyinari segalanya. Cahaya rembulan begitu redup, kalah telak dengan benda-benda terang yang memenuhi langit, terbang membelah udara, mendarat telak ke bangunan sebuah desa terpencil yang terletak jauh dari kehidupan kota, meledak, menghancurkannya dalam sekali tabrak, terbakar hebat hingga memanggang semua orang yang berlindung didalamnya, menewaskannya dalam hitungan detik.
Jalanan begitu ramai oleh orang yang berlarian. Kayu-kayu terbakar jatuh dari segala arah, memblokir beberapa jalur. Anak-anak menangis, beberapa orang menjerit kesakitan, sementara yang lain sudah tak bernyawa, tewas dengan keadaan tubuh gosong, atau malah sudah menjadi abu. Dibantai tanpa belas kasih oleh kekuatan tak tertandingi yang tiba-tiba saja mendatangi desa.
Dari langit yang gelap namun dipenuhi lingkaran sihir merah, seorang gadis muda bergaun merah terbang menggunakan suatu sihir. Rambutnya merah terang dan ia mengenakan topeng kucing putih yang dapat menyembunyikan identitasnya dengan baik. Sebuah jas hitam berlogo putih aneh yang ia kenakan ikut terbang dengan angin kencang yang bertiup dari ketinggian, berkibar bersama anak rambut merah yang indah. Ia mengangkat kedua tangannya, menjaga aktivasi sihir supaya terus berjalan, dengan dingin menatap kebawah, menonton dalam diam satu-persatu orang mati di tangannya.
Ada yang tewas seketika diterjang api. Ada yang kehilangan anggota tubuh karena reruntuhan kayu yang membara. Yang tersisa hanya bisa terjebak di dalam rumah-rumah yang terbakar, menghirup asap hingga napas terakhir.
Sungguh pemandangan yang tragis.
Akan tetapi, seolah telah kehilangan perasaan, wanita itu tidak iba sama sekali. Tidak menyesali perbuatannya. Tetap menembakkan bola api kepada desa Chiharu yang sama sekali tidak bersalah.
Hanya saja, untuk beberapa detik, bola mata emas gadis itu yang tersemubunyi dibalik topeng kucing berubah menjadi zamrud hijau, berkaca-kaca lembab, mengalirkan air mata, membuat serangan sempat terhenti sejenak, lalu lanjut lagi.
Dengan nada agak kesal, wanita bertopeng itu berkata pada dirinya sendiri,
"Tunggulah, Yukki",
"Biarkan aku yang menyelesaikan tugas kotor ini",
"Apapun yang terjadi...",
"...Aku akan selalu melindungimu",
***
"Cara cepat untuk menjadi kuat?",
Saat itu angin bertiup kencang, membawa semerbak bunga diantara padang rumput liar yang membentang sejauh mata memandang. Langit berwarna biru cerah. Awan tipis terukir di angkasa seolah seseorang menggoreskannya disana melalui kuas raksasa yang dibasahi tinta putih abu-abu.
Sambil duduk santai diatas batu besar yang untuk suatu alasan terdampar di lembah tempat pelatihan beladiriku dilaksanakan, Homuro-san yang sedang memasuki mode istirahat berpikir agak lama setelah mendengarkan pertanyaanku yang agak absurd.
Namun ia kemudian menjawab.
"Tidak ada",
Dengan tatapan yang serius dan mantap.
"Perbanyak latihan. Hanya itulah yang dapat kau lakukan untuk menjadi lebih kuat",
Membuatku, seorang bocah sepuluh tahun yang baru saja dikalahkan oleh kawanku sendiri, Yui Chiharu dalam pertempuran jarak dekat, kehilangan semangat. Bahuku merosot dan aku langsung mencakar-cakar tanah, sangat putus asa. Membayangkan betapa menyebalkannya wajah gadis itu saat melihatku tak mampu berdiri lagi setelah menerima serangannya.
"Astaga, Amuro-kun", Demikian ia memanggil dengan nada mengejek tadi pagi saat pelatihan duel satu lawan satu dilaksanakan dan aku kalah.
Aku hanya tergeletak di tanah, tidak kuat berdiri lagi setelah menerima serangan beruntun. Akan tetapi, seolah tidak puas dengan serangan fisik, ternyata Yui Chiharu, si anak kepala desa sekaligus tokoh ahli beladiri yang dihormati mengirimkan serangan batin.
"Apakah kau benar-benar lelaki~? Sepertinya aku harus memastikannya sendiri habis ini dengan mata kepalaku...~",