Kegelapan yang pekat melahap ruangan yang lebih mirip aula daripada tempat penahan. Luasnya yang terbentuk melalui konsep balok bermaterial kuat dikelilingi oleh undakan tinggi yang mengepung bak gedung drama, dengan jeruji-jeruji pengaman berlapis terpasang kokoh, aliran listrik bertenaga tinggi bergemeletuk mengerikan, sementara beberapa petugas eksperimen berjaga, membawa senapan laras panjang di tangan, membukakan kunci ruangan ketika kedua tubuh gadis Nomor 99 dan Nomor 100 dibawa masuk.
Ruangan itu memiliki tiga lapis jeruji bermaterial tinggi, jauh lebih kuat daripada jeruji sel yang digunakan di lantai atas. Lebih tebal dan berat. Lapisan yang terluar adalah jeruji tebal yang berada langsung di depan undakan terendah 'penonton' yang mungkin tujuannya adalah mengamankan mereka supaya tidak dekat-dekat. Lapisan terluar itu terbuat dari logam titanium berkualitas tinggi, sengaja tidak dialiri listrik supaya 'para penonton' tidak berada dalam bahaya. Lapisan kedua merupakan jeruji tembus pandang yang bening layaknya kaca tetapi memiliki ketahanan begitu tinggi layaknya tungsten. Kaca tersebut tidak dialiri oleh listrik tetapi setiap jeruji memiliki duri-duri tajam yang dapat menembus daging dengan mudah apabila berani dekat-dekat. Sementara Lapisan ketiga adalah lapisan yang paling dekat dengan ruang kosong tengah aula. Paling tebal dan gemuk. Berasal dari jenis logam anti-sihir yang sama, tetapi memiliki daya tahan lebih tinggi terhadap ledakan, hantaman dan suhu ekstrem. Rantai yang ditanam ditengah aula tampak sangat besar dan mengerikan. Baru saja Akame dibelenggu lehernya dengan benda tadi, mata rantai yang terlalu berat langsung menarik tubuh gadis itu ke lantai berdebu, berdebam keras disana, baru kemudian para peneliti yang tadinya membopong gadis tersebut mengikatkan rantai ke kaki, dengan susah payah memastikan si Kakak tidak dapat bergerak sama sekali kecuali mereka bebaskan. Apalagi si adik Yukki. Tidak cukup dengan satu borgol tangan dan kaki, para peneliti memberinya lima borgol sekaligus. Membuat gadis polos itu tak berkutik diatas lantai aula yang abu-abu, sedikit berubah warna dari sel mereka sebelumnya.
Untuk sesaat, Akame yang kesadarannya kembali lebih cepat meski lemah berusaha meronta, hendak menggapai pakaian adiknya yang tak jauh dari pandangan tetapi gagal. Borgol yang melilit pergelangan tangan dan kakinya tak mengizinkan bergerak satu senti pun. Sambil bergumam pelan, ia menatap adiknya melalui pandangan yang sayu.
"Yu...Yukki..."
Untuk kemudian seorang petugas menekan tombol merah dari alat yang dibawa, mengakibatkan serangan listrik kuat yang membuat si kakak seketika menjerit kesakitan, kehilangan kesadarannya.
Lampu tanam di langit-langit ruangan yang tinggi berkedip remang. Hawa dingin membuat orang-orang bergidik.
Setelah memastikan kedua aset tidak mampu memberontak lagi dan borgol-borgol mereka terkunci, para peneliti berhati-hati keluar dari tiga lapisan jeruji yang melingkar seolah mengurung seekor hewan, dibantu petugas penjaga lantai membuka pintu, menggunakan kartu tanda pengenal yang disampirkan di dada untuk meminta akses pintu sebelah utara, secara teratur pergi dari ruangan paling dasar gedung. Ruangan uji coba terakhir yang akan menentukan apakah sebuah eksperimen akan dilanjutkan, mulai digunakan sebagai senjata, atau dihentikan saat itu juga, segera 'dibuang', mencoba eksperimen lain.
Ruangan dimana hukum-hukum kemanusiaan tidak lagi berlaku.
Ruangan....yang akan menjadi neraka Yukki dan Akame berikutnya...
***
"Majulah, penyihir aneh",
bergerak dengan kekuatan yang tersisa, aku tidak lagi lari, memutuskan menghadapi Yukki bermata emas secara langsung, hendak mengakhiri pertempuran yang tertunda. Dalam benak, kenangan bersama Yukki-san yang begitu indah sempat membuat tubuhku gemetar. Tetapi, adegan Homuro-san yang dihantam bola api bertubi-tubi dari langit dan Yui yang menangis dalam senyuman tipis sebelum dihanguskan jadi abu membuat darahku semakin mendidih, bernafsu membunuh penyihir di depan seandainya ia tidak berada di dalam tubuh Yukki-san.
Gedung-gedung kota hancur lebur. Jalanan besar berlubang dimana-mana. Lautan api yang mengganas bercampur dengan bongkahan es berserakan melalui keseimbangan kontras. Langit malam gelap kembali diterangi jilatan api yang membakar awan seperti malam pembantaian desa Chiharu. Ratusan lingkaran sihir bersiaga di udara, siap menembak kapanpun pemiliknya mengkehendaki.
Melihatku maju dengan nekat, 'Yukki Bermata Emas' tertawa terpingkal-pingkal, mengirimkan tatapan menghina yang dalam sekali, meremehkan. Turun dari mode terbangnya, gadis tersebut berjalan mendekat dengan kedua tangan yang sudah diselimuti api biru panas.
"Ada apa, bocah? Kau menyerah?",
Tanpa menjawab, aku berhenti ketika jarak antara kami sekitar sepuluh meter. Balik menatap lurus, tidak ragu sedikitpun. Hembusan angin yang membawa panas dan dingin sekaligus membuat kulitku gemetar untuk sejenak, tetapi nafasku pasti dan gerakanku serius.
Kali ini aku yang balas tertawa.
"Tidak, aku tidak menyerah",
Membuat senyuman di wajah kejam 'Yukki Bermata Emas' padam.
"Justru kini aku tahu bagaimana cara mengalahkanmu, Yukki",
Kesal dengan mentalku yang tak kunjung putus asa, Yukki Bermata Emas hampir saja menepuk jidat, geram dengan kebodohan yang dilihatnya di depan mata, bergumam pelan sekali lagi sebelum bersiap menyerang, menatapku tajam.