Baru sedetik setelah mesin berhenti dengan sempurna, lantai yang terbuka ditengah aula tertutup kembali, dan tangan pria berjas hitam turun dari aba-aba, dalam satu gerakan yang nyaris menyamai angin, Monster Z-098 melesat menuju Akame dan Yukki yang masih belum beranjak membuat jarak, mengayunkan lengan kanannya yang super gemuk, berbentuk tabung dengan diameter dua kaki lebih, sangat tebal dan keras, mustahil untuk dihantam balik dengan serangan biasa, hendak menghabisi Yukki yang ketakutan dalam waktu yang sangat singkat.
BUUUMM!!!
Seolah tersadar dari lamunannya, Akame berseru kencang melihat Yukki yang diincar monster Z-098 masih mematung, tidak berusaha bergerak apalagi melawan seolah hilang kesadaran, melompat lincah menangkap tubuhnya, membawa gadis itu lari sementara tangan kanan Z-098 melalui hantaman besar menabrak lantai aula, membuatnya retak seketika meski dilapisi material luar biasa kuat, dalam sekejap menciptakan atmosfer pertarungan yang para peneliti saja dibuat takut olehnya, mulai berbisik-bisik, khawatir arena pertempuran yang mereka buat itu tidak kuat, akhirnya hancur lebur sehingga hasil eksperimen yang berharga bisa kabur.
Tidak memberikan respon apa-apa, Yukki yang bola mata zamrudnya telah kosong hanya bergumam pelan pada Akame. Suaranya bergetar hebat.
"Kepala yang ditengah itu...Milik lelaki yang tadi berguling di rerumputan......kan, Akame....?",
Tidak mampu menjawab pertanyaan adiknya, Akame berlarian menuju salah satu sudut aula ruangan yang lebih aman, menjaga jarak dengan monster sepuluh kaki yang dibentuk begitu mengerikan. Hampir membuat gadis berambut merah terang itu muntah karena mual melihat makhluk yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Setelah sampai di salah satu sudut terjauh dari aula yang berbentuk persegi panjang dengan tiga lapis jeruji, Akame berniat meninggalkan adiknya disana supaya lebih aman, tidak perlu mendekat ke pertempuran di tengah, biar dia sendiri yang menghadapi monster itu, memikirkan cara untuk mengalahkannya, meski ia adalah 'makam berjalan' bagi kawan-kawan kaburnya sendiri.
Tetapi, untung saja belum melepas adiknya, monster Z-098 lebih dahulu melesatkan lengan kirinya. Lengan tersebut sangat panjang. Memiliki fleksibelitas dan elastisitas diluar nalar yang dapat langsung mencapai Akame dari tengah aula yang berjarak sekitar dua puluh meter. Bentuknya semakin pipih ditambah kecepatannya yang tinggi membuat serangan makhluk itu kini lebih mirip sebuah tusukan tombok super panjang, siap menembus kedua tubuh gadis tersebut dalam sekali serang.
Sihir Api: Rentetan bola api!
BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! BUM!
Dengan satu aktivasi sihir, Akame menembakkan sepuluh bola api sekaligus yang melesat dalam konvoi, meledak di lengan monster Z-098 yang mendekat, menciptakan kepulan debu yang sangat tebal, menghalangi pandangan.
Akame berpikir tidak ada anggota badan makhluk hidup yang dapat bertahan dihantam sepuluh bola api panas secara bertubi-tubi tanpa pelindung logam atau sihir seperti tadi kecuali ia pasti hancur. Akan tetapi, di detik berikutnya sekonyong-konyong tangan panjang yang semakin pipih dan tajam itu sudah sampai di depan wajah gadis berambut merah tersebut, menembus cepat kepulan debu yang tebal, membuat Akame terkejut sekaligus ketakutan.
Hanya saja, demi mengetahui Yukki sedang dibawanya, gadis itu mengernyitkan dahi, mengalirkan sihirnya ke kaki, mencoba menghindar.
Kami...Tidak akan kalah semudah itu!
Sihir Api: Sepatu Api!
Menambahkan kecepatan kaki dengan manipulasi sihir yang ia pasangkan, Akame melempar tubuhnya kencang-kencang ke samping, berhasil selamat membawa Yukki yang masih ketakutan. Hanya saja, tadi ia agak sedikit terlambat, terpaksa menerima serangan cukup dalam di bagian bahu kiri, mencipratkan darah yang langsung mendarat di wajah serta pakaian Yukki. Mengubah raut wajahnya menjadi cemas.
"A-Akame!",
Walau tak terlalu fatal, luka yang menyebabkan pendarahan dan rasa perih itu lebih dari cukup untuk mengacaukan keseimbangan tubuh gadis berambut merah, tanpa sengaja tersandung kakinya kakinya sendiri, jatuh berguling-guling, terpisah sekian meter dari adiknya.
Yang lebih celaka, si adik tidak ikut terlempar terlalu jauh, malah jatuh tepat di dekat monster Z-098 yang sudah mengangkat tangan kanan super besar yang tentunya bertenaga super, bersiap menghabisi gadis berambut biru muda, meremukkannya bagai biskuit kering.