Pemandangan malam yang kontras antara kobaran api dan bongkahan es terlihat indah sejauh mata dilanda bencana, diguncang tanah. Puing-puingnya yang berserakan memblokir jalan-jalan, bergabung dengan memandang. Kota yang hancur lebur dalam radius sekian ratus meter tampak layaknya kota mati yang baru saja serpihan es yang mulai mencair, tidak kuat bertahan diterpa api-api yang mulai menjalar, membentuk genangan-genangan.
Setelah drama memalukan yang cukup panjang, akhirnya aku dimarahi habis-habisan oleh Yukki-san yang kini mendapatkan kesadarannya kembali dengan sempurna. Menampar pipiku berkali-kali dengan kekuatan super, menciptakan rasa perih baru yang semakin menyiksa sambil sesekali mencubit. Aku tak berusaha melawan, pasrah menerima hukuman yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup.
Hukuman dari tindakan yang sangat tabu bagiku.
Nasib.
"Ya ampun, kau ini...Meskipun terlihat seperti anak-anak, Amuro-kun ternyata memiliki jiwa om-om yang cukup bermasalah...", Menghentikan hukumannya sementara, Yukki-san mengeluh sambil memijat kening, duduk diatas sebuah bongkahan es sementara aku bersimpuh dibawahnya layaknya seseorang yang sedang diperbudak.
Mendapati diriku dihina demikian, kehormatanku agak memberontak, refleks menyahut,
"Anu...Mungkin Yukki-san harus mendengar alasanku dahulu--",
"--Cabul", Belum selesai berujar, Yukki yang sedang kesal langsung menyela.
"Tu-Tunggu sebentar, Yukki-san--",
"--Cabul",
"Yu--",
"--Cabul",
Hingga aku menyerah, malas meladeni sikapnya yang satu ini, memperbaiki posisi duduk, siap mendengarkan ceramah ronde kedua, membuka kuping lebar-lebar, menarik nafas panjang. Akan tetapi, saat kukira gadis di depan akan memulai dengan bentakan keras atau gumaman dingin menusuk, ia malah memalingkan wajahnya, melalui suara pelan, berkata,
"Karena aku tahu kau rela melakukannya untukku...",
"...Kali ini kumaafkan, Amuro-kun",
Angin malam yang berhembus menerbangkan helai rambut indah biru Shirayaki Yukki yang halus bagai sutra. Wajahnya yang bersinar diterpa cahaya rembulan tampak begitu menawan layaknya seorang putri langit yang sedang berkunjung ke bumi. Ia memalingkan wajah tetapi pipinya terlihat agak merah, untuk suatu alasan lebih hangat daripada sebelumnya.
Untuk sejenak, aku terpukau oleh pesona gadis itu, tetapi kemudian aku mengangkat tangan, meminta interupsi.
"Uhm...maaf sekali sebelumnya, Yukki-san...tetapi, sebenarnya aku melakukan hal itu demi keselamatanku sendiri...--kau tahu, bukan? 'Dirimu Versi Jahat' itu sangat mengerikan dan buas. Jadi, kupikir--",
"--AMURO-KUN BODOH!!"
BLETAK!
Tak membiarkanku menyelesaikan penjelasan, buru-buru Yukki memukul jidatku keras-keras, terpental beberapa meter, mendarat diatas permukaan es dengan sedikit efek dentuman, nyaris pingsan jika seandainya tidak menggunakan sihir es tiruan penyembuh, bangkit perlahan, menatap Yukki mengelus-elus tangan kanannya yang baru saja menghantamku, berujar,
"Ah...Sakit sekali...!",
"Harusnya aku yang mengatakan hal itu!",
Satu jam kemudian.
"Ah, begitu rupanya~! Kau jenius sekali, Amuro-kun! Ternyata lelaki sepertimu juga bisa memahami jiwa seorang gadis, ya~? Mencurigakan sekali~...",
Mendengar cerita bagaimana aku yang lemah nan bocah ini bisa mengalahkan Akame, kakak dari Yukki-san yang sangat kejam, gadis berambut biru muda tertawa-tawa sendiri, menyenggolku dengan bahunya sambil melanjutkan,
"Hei, beritahu dong~ Darimana Amuro-kun bisa mendapatkan informasi seperti itu~? Jangan-jangan...~?!",
Malas menjawabnya, aku memalingkan muka, membuang pandangan.
"A-Aku tidak tahu!",