Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #12

Interogasi Dari Panglima Pertama

PRANK!!

Ditengah keadaan mendesak yang gawat, aku mengaktifkan sihir peniru dengan stamina yang belum pulih, berusaha keras mengingat aktivasi sihir pembatal Najimi Harui yang kusaksikan beberapa saat lalu, menggunakannya sebagai antisipasi efektif yang langsung membuat lingkaran sihir di depan pecah berhamburan, gagal menembakkan meriam api yang sangat panas, tentu saja dapat menghabisiku seketika.

Orang-orang yang menyaksikan lingkaran sihir besar menahan nafas, para penyihir yang bersembunyi dibalik tameng darurat mulai mengeluarkan batang leher, membatalkan sihir pelindung.

Menghela nafas lega.

Aku yang nyaris saja gagal di detik-detik terakhir karena belum terbiasa dengan kekuatan sihirku sendiri terkulai lemas, bersandar diatas sofa karena kelelahan. Terengah-engah. Menyeka keringat di pelipis.

Benar-benar...

...Kekuatan yang menguras tenaga.

Semakin aneh sihirnya, semakin kuat tenaganya, ternyata 'biaya'-nya semakin besar.

Aku tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika suatu hari nanti aku dipaksa harus meniru sihir agung yang konon harus diaktifkan beberapa penyihir tingkat tinggi sekaligus.

Aku bisa-bisa mati bahkan sebelum selesai meniru.

"Wah~! Hebat sekali kamu, Amuro-kun~! Aku sampai terpana melihatnya! Jadi itu yang namanya sihir peniru, ya~? Ah~! Aku jadi ingin memilikinya!!",

Seolah tak memiliki dosa sama sekali, Orihara Kanae memuji-muji. Membuka kedua matanya lebar-lebar. Bertepuk tangan sendiri ditengah kantor perserikatan yang tiba-tiba lenggang. Menciptakan sensasi canggung yang agak aneh. Mengusap-usap kepalaku yang memang masih bocah. Untuk kemudian melalui satu gerakan Ikidori-san menyeretnya keluar bersama beberapa penyihir kerajaan berseragam putih. Anri Heart pun ikut dibawa. Takut jika terjadi apa-apa--misalnya, Ikidori mengamuk, mematahkan salah satu tulang Oriharah-san, Anri-san bisa segera menyembuhkannya, mencegah kematian salah satu panglima berharga kerajaan hanya gara-gara alasan yang konyol.

Berdehem tiga kali ketika kondisi lebih stabil, akhirnya panglima armada pertama kerajaan, Moris Wesley-lah yang berbincang denganku, memulai sambil agak membungkuk hormat, berkata.

"Maaf, nampaknya saya akan langsung berbicara pada intinya tanpa kehadiran kedua teman saya",

Menggeleng lemah sambil menghela nafas berkali-kali, aku menjawab.

"Tidak masalah...anda bisa langsung bertanya kapanpun anda mau, Moris-san",

Bahkan tanpa kedua temanmu--itu jauh lebih baik daripada harus menghadirkan mereka berdua kemari.

Ditemani kepala serikat dan wakil kepala serikat, Moris Wesley menarik salah satu sofa untuk diletakkan berhadapan denganku. Duduk diatasnya. Menopang dagu dengan kedua telapak tangan, berujar. Memulai interogasi.

"Langsung saja, Amuro-kun",

Aku mengangguk. Menelan ludah.

"Kau berada di pihak siapa?",

Pertanyaan pertama yang langsung menusuk itu langsung merubah total pandanganku terhadap Moris Wesley. Kupikir ia akan bertanya hal-hal yang kecil dengan nada yang sopan dan formal. Namun, menyadari di detik pertama lelaki berambut hitam panjang ini seolah langsung menerjang lawan bicaranya, aku mengatur intonasi suara, menjawab.

"Untuk hal itu, aku tidak bisa memastikan",

Demi mendengar jawabanku yang ambigu, orang-orang serikat petualang dan penyihir kerajaan terperanjat. Demikian pula Claude Vincost dan Najimi Harui. Hampir saja langsung berseru jika tidak mengingat bahwa ini adalah pembicaraan antara panglima Moris Wesley dengan diriku.

Bodoh! Apa yang kau bicarakan di depan Panglima Moris, bocah?!!!

Lihat selengkapnya