Wajah elok yang tampak suram itu tersembunyi diantara anak rambut biru muda yang diterbang angin. Semerbak vanila yang lembut berpadu dengan hangatnya kayu cendana mengiringi setiap embusan angin di sekelilingnya. Harumnya begitu tenang, seolah mampu meredakan kegelisahan siapa pun yang berada di dekatnya.
Wajah itu menatap sebuah syal merah yang dijual disebuah butik. Sepasang bola mata zamrud miliknya mengerjap-ngerjap. Berkilau bagai permata memantulkan cahaya.
Agak malu, pemilik bola mata indah itu berusaha menyentuh kain syal merah hangat--tetapi terhalang oleh lapisan kaca toko. Bulu matanya yang hitam lebat dan lentik berkedip kaget, tak menyadari adanya kaca yang menghalangi karena terlalu jernih. Akhirnya menurunkan tangan lagi.
Dibawah cahaya mentari yang cerah memukau, gadis berambut biru berdiri agak lama setelah sebelumnya ia menghampiri salah satu toko, bergerak ke toko lain hingga kemudian seorang wanita yang kebetulan lewat memerhatikan dirinya yang terdiam cukup lama di depan toko butik, menyentuh bahunya. Membuat gadis jelita itu menoleh, melihat wajah wanita asing berambut pink pendek yang tersenyum simpul kepadanya--senyum pertama yang ia terima sepanjang berpetualang di ibukota. Agak terkejut.
Orang-orang berlalu-lalang disekitar. Beberapa penjual di sepanjang jalan pasar besar ibukota saling berebut suara. Berseru kencang-kencang memasarkan produk. Memanggil orang-orang yang lewat. Memamerkan barang beserta promo.
Dibalik senyum yang hangat itu, gadis berambut pink yang tubuhnya ditutupi mantel hijau seperti sebuah seragam bertanya dengan nada persuasif kepada gadis berambut biru muda yang sesekali bola matanya berubah warna menjadi merah tapi indah,
"Selamat siang, nona muda! Saya Najimi Harui dari Perserikatan Petualang--Anda pasti pendatang dari luar, bukan?",
Untuk sejenak. Gadis berambut biru muda kebingungan. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bola matanya berkedip-kedip tapi warnanya stabil dalam hijau yang indah.
Gadis berambut pink yang ramah melanjutkan.
"Apakah anda tertarik bergabung dengan kami, menjadi seorang petualang? Kalau bergabung, setidaknya hidupmu di ibukota akan jauh lebih aman. Kau juga bisa mendapatkan banyak uang dan teman baru. Bagaimana?",
Dicecar dengan berbagai ucapan, gadis berambut biru muda yang tampak jarang bersosialisasi tercekat suaranya di tenggorokan. Tak langsung menjawab. Terlihat sedang berpikir.
Untuk sejenak suasana begitu senyap. Canggung. Membuat wanita bernama Najimi Harui merasa malu dengan tingkahnya yang begitu persuasif. Diam-diam menggerutu dalam hati.
Dalam beberapa saat, gadis yang ditawari terlihat ragu. Tubuhnya tiba-tiba gemetar seolah mengingat sesuatu yang sangat menakutkan. Menunduk agak lama seolah mengumpulkan keberanian untuk memercayai seseorang lagi.
Dalam benaknya muncul banyak senyuman. Banyak tawa...kemudian banyak teriakan. Mayat-mayat. Darah yang menggenang.
Akan tetapi, setelah menatap kearah sepatu dan menggumamkan sesuatu pada dirinya sendiri, gadis jelita bersweeter putih yang masih membawa tas besar--kontras dengan tubuhnya yang mungil--itu mengulurkan tangan.
Bola matanya menyipit tapi ia tampak senang sekali.
"Shi--Shirayaki Yukki", katanya pelan.
Menatap lurus Najimi Harui. Tersenyum tipis.
"Mohon bantuannya...!",
Najimi sempat terpaku. Bukan karena kecantikan gadis itu, melainkan karena senyum kecil yang tampak begitu rapuh, seolah baru pertama kali muncul setelah sekian lama terkubur bertahun-tahun.
Namun gadis berambut pink langsung menyahut.
"Ah, te--tentu saja...! Jangan khawatir!",
Menepuk bahu gadis di depannya.
"Aku akan membantumu disana!",
Kemudian mereka berjalan. Najimi Harui di depan, sementara Shirayaki Yukki mengekor di belakang sambil terus memerhatikan punggungnya, agak was-was. Takut tertinggal atau tersesat.
Mereka menyusuri jalanan yang ramai.
Menaiki kereta kuda.
Berbincang didalam kabin yang kosong--walau sebagian besar adalah ucapan Najimi Harui sendiri.
Lantas sampai di depan sebuah gedung cukup tinggi lima lantai yang pintu masuknya dipenuhi undakan putih sementara disekitarnya tampak dua penyihir berseragam putih yang sedang berjaga dengan senjata tersarung.
Turun dari kereta kuda sambil menengadahkan kepala, Shirayaki tersenyum lebar saat melihat desain bangunan yang begitu elegan meski sederhana. Untuk pertama kalinya, ia akhirnya melihat sebuah tempat yang mungkin bisa ia sebut sebagai 'rumah' barunya.
Bagian dalam gedung kantor perserikatan yang rapi dapat ia intip dari jendela besar yang tembus pandang ke jalanan. Warna krem bercampur cokelat yang diatur secara presisi membuatnya memiliki nuansa antik yang penuh berwibawa. Orang-orang dengan aura misterius. Petugas melayani di beberapa sudut. Kilauan koin emas yang dibayarkan.
Tidak sabar lagi mendaftar, gadis berambut biru muda berseru dengan nada riang yang lucu,
"Harui-chan! Aku masuk duluan, ya?!",
Meninggalkan Harui yang bahkan belum selesai membayar kusir kereta kuda. Bergegas menyusulnya agak buru-buru.
"Tu-Tunggu aku, Yukki-chan! Larimu cepat sekali!",
Hari itu, Shirayaki Yukki akhirnya memiliki teman baru di ibukota.
Teman yang kelak akan menuntunnya menuju jalan yang lebih baik.
Yang tanpa sadar berhasil menyelamatkannya dari kegelapan masa lalu penuh tragedi.
Teman yang membuatnya percaya...
...bahwa kini ia memiliki alasan untuk hidup.
***