Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #15

Di Dalam Ruang Lantai Lima

Lantai lima kantor serikat petualang di ibukota agak berbeda dari empat lantai bawahnya yang memang terlihat seperti kantor: Petugas mondar-mandir, dokumen-dokumen tertumpuk, jendela besar menghadap jalanan. 

Namun, begitu sampai melalui pintu kayu Oak tebal yang dilapisi sihir pelindung, sebuah ruang rapat terpampang megah di hadapanku. 

Meja persegi panjang terbuat dari kaca dengan pinggiran perak berkilau. Kaki-kaki yang menyangga bagian atas berliuk dengan presisi, menciptakan nilai seni. Diatasnya, beberapa gelas keramik kosong telah tersedia lengkap dengan teko berukiran naga merah. Siap diisi dan dihidangkan.

Langit-langit putih bersih. Lampu gantung besar menyala dengan puluhan lilin diletakkan diatasnya. Derap kaki teredam dengan karpet merah hangat. Beberapa lukisan tokoh kerajaan terpasang di dinding yang abu-abu. Ditempias lusinan lentera yang melekat di dinding.

Segera duduk di salah satu kursi sambil mempersilahkan, Panglima Moris yang didampingi dua petinggi serikat berujar.

"Mungkin ini terdengar kurang sopan bagi anda...Tetapi, Amuro-sama...Sejauh mana anda mengenal Shirayaki Yukki...?",

Menelan ludah, aku diam sebentar, kemudian menjawab.

"Meski tidak memercayainya...Tetapi, kudengar Yukki-san dan kakaknya Akame-san dahulu adalah kristal sihir yang diberi jiwa...Diambil dari gua terbengkalai...butuh berbulan-bulan untuk membawa mereka berdua ke permukaan agar bisa diteliti...",

Panglima Moris mengangguk, saling pandang dengan dua penyihir di sebelah kanan-kirinya. Berbicara padaku lagi,

"Kalau begitu pengetahuanmu sudah cukup jauh",

Menajamkan pandangannya lagi.

"Tetapi, biar kuberitahu, Amuro-sama...Penyihir es-api itu telah mengikat kontrak agen rahasia dengan pihak kerajaan Voltaire sekitar setahun yang lalu. Dari informasi yang ia berikan, kami bisa menebak rencana-rencana kelompok Malaikat Hitam selangkah lebih cepat, menyiapkan antisipasi yang berhasil menyelamatkan ibukota sekaligus kerajaan--suatu keuntungan strategis yang terhitung gemilang...",

Aku mengernyitkan dahi.

"Menjadi agen rahasia di kelompok Malaikat Hitam...Bukankah itu dapat membuatnya mudah dicurigai?--Lagipula, Yukki-san adalah petualang di serikat ini, bukan?

Panglima itu menghela nafas sejenak, berkata.

"Itu benar."

Kemudian melanjutkan.

"Oleh sebab itu, harga yang harus dibayar juga sangat mahal. Shirayaki Yukki dengan kesadaran Akame akhirnya terpaksa menawarkan kontrak mata-mata yang serupa kepada kelompok Malaikat Hitam agar kedekatannya dengan pihak kerajaan dan serikat tidak dicurigai oleh anggota Malaikat Hitam yang lain, bersedia membocorkan beberapa informasi serikat dan penyihir kerajaan berikut langkah-langkah mereka, hingga ia bisa leluasa memasuki ibukota, bergabung menjadi petualang bebas bersertifikasi. Jadi, praktis sudah Shirayaki Yukki menjadi mata-mata kedua belah pihak sekaligus.",

Aku mengintervensi dengan kaki gemetar.

"...Mohon maaf, Moris-san...Jika begitu, apakah pihak kerajaan tidak malah dirugikan? Jika dibiarkan di kelompok Malaikat Hitam...Yukki-san akan dipaksa melakukan banyak tugas membunuh-membantai orang, bukan?! Dia akan dipaksa melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan keinginan aslinya, bukan?!! Dia akan sangat menderita, bukan??!! Apakah pihak kerajaan dan serikat tidak pernah memikirkan bagaimana perasaannya ketika harus membunuh orang tak bersalah itu?!! APAKAH KALIAN TIDAK TAHU GARA-GARA ITU YUKKI-SAN HARUS MEMBOMBARDIR DESA CHIHARU SAMPAI TIDAK ADA YANG SELAMAT KECUALI DIRIKU??!! KALIAN SEHARUSNYA BISA MEMBANTUNYA KELUAR DARI KELOMPOK TERSEBUT, BUKAN??!!",

Berteriak parau, aku memukul meja rapat yang terbuat dari kaca tebal, berdiri menatap panglima Moris dengan bola mata merah melotot penuh dengan amarah, tak habis pikir ternyata wanita sepolos Yukki-san telah dimanfaatkan banyak pihak berkepentingan, nyaris saja mengeluarkan kekuatan peniru jika lawan di depan bukan panglima pertama kerajaan yang disegani.

Lihat selengkapnya