Setelah itu yang terjadi hanya gelap.
Tak merasakan apa-apa, gadis yang kini sudah tak bernafas mengambang dalam kehampaan seolah dirinya tidak lagi berada dalam dunia nyata.
Tidak ada cahaya. Tidak ada ujung ruang.
Satu-satunya ingatan yang muncul di pikirannya adalah kedua tangan yang membeku oleh sihirnya sendiri dan Akame yang tergeletak tak bernyawa di hadapannya.
Ingatan yang membuat gadis itu ingin menangis sekali lagi, tetapi gagal.
Disini tidak ada suara.
Tidak ada orang.
Bahkan, untuk mengakui keberadaannya sendiri, gadis berambut biru muda itu masih ragu.
Apakah aku...Masih hidup?—begitu ia bertanya.
Tetapi kemudian, ia melihat secercah cahaya yang tiba-tiba menempias wajahnya, membuatnya silau, tak sanggup menatap sinar yang begitu terang.
A...Apa ini?
Cahaya itu menerangi ruang gelap tempat gadis tadi mengambang, memperlihatkan sudut-sudut yang ternyata ada namun terletak agak jauh.
Ruangan itu tidak kosong seperti yang diduga sebelumnya. Ia memiliki bentuk taman yang indah. Bunga-bunga yang bermekaran. Angin yang bertiup sejuk.
Dan...Yang terpenting...
...Gadis itu ternyata tidak sendirian disana.
Kakaknya, Shirayaki Akame telah menunggu dengan senyuman tipis dibalik anak rambut merah yang diterbang angin.
Demi melihat itu Shirayaki Yukki terisak, tak kuat menahan air matanya.
Teringat momen terakhir kakaknya bertarung dengan api putih untuk melindunginya sampai mati.
Kakaknya yang akhirnya ikut membeku bersamanya di ruang uji coba penelitian.
"...A..Aku pulang, Kak Akame...!! Hiks...Hiks..Yukki pulang...!!",
Menyambut dengan tawa lebar, Shirayaki Akame menyapa.
"...Selamat datang kembali...",
"...Yukki-chan",
***
Ledakan hitam baru saja tercipta di ruangan yang tampak kumuh dan berantakan itu. Langit yang dipenuhi sarang laba-laba menunjukkan betapa ia sangat terbengkalai, tak lagi digunakan. Dinding-dindingnya terkelupas seolah baru saja terjadi pertempuran. Lantai yang berdebu mengepulkan polusi, menghalangi pandangan, sementara beberapa orang bertudung hitam terbatuk kencang. Tak ada jendela. Tak ada ventilasi udara. Dalam suasana yang sangat sesak dan tidak menyenangkan itu, seorang pria berambut pirang sepunggung menatap ke tengah ruangan dari pintu yang terbuka. Diam memerhatikan seolah sedang menantikan sesuatu. Sesuatu yang sangat besar.
Bagian tengah ruangan adalah kondisi yang paling parah.
Dengan simbol bintang segi lima simetris yang ditulis langsung dengan darah bangsawan sebagai tumbal, sepuluh penyihir bertudung membentuk formasi ritual terlarang yang sangat berbahaya, sementara dua onggok tubuh diletakkan di pusat bintang yang merah sebagai objek ritual, hendak diutak-atik melalui mekanisme ritual yang magis.
Ritual itu nampaknya berjalan dengan lancar--meski lima penyihir harus kehilangan nyawa, terlalu banyak melakukan kontak dengan kekuatan sihir hitam yang berbahaya. Ledakan yang dihasilkan sudah mereda. Aura negatifnya juga, semakin redup. Tidak perlu ada lagi yang dicemaskan. Lelaki berambut pirang di pintu masuk sendiri tersenyum tipis senang.
Senang bawahannya melaksanakan tugas dengan benar.
Senang melihat kedua eksperimen berharganya berhasil diselamatkan.
Benar.
Tidak tahu apa yang baru saja dilakukan para penyihir itu, tetapi kini Yukki dan Akame kembali bangun. Tersadar bahwa diri mereka masih hidup--atau setidaknya, kembali hidup. Terkejut bukan main melihat si pria pirang ternyata belum mati, refleks mengacungkan tangan, bersiap menyerang, sementara lelaki tersebut menyeringai mengerikan kepada mereka dengan sinis.
Tapi serangan mereka terhenti.
Bukan karena ancaman yang akan datang, tetapi karena mereka baru sadar...
...bahwa ternyata mereka disatukan dalam satu tubuh. Rambut biru muda-merah, bola mata kuning emas dan hijau zamrud.
Kedua gadis itu secara ajaib bisa berbagi kesadaran, berbagi kendali--tetapi dengan kekuatan sihir yang sama-sama utuh dari 'kehidupan sebelumnya' dalam satu tubuh. Yukki menggunakan sihir es, Akame sihir api. Memungkinkan satu tubuh mendapat pasokan kekuatan sihir yang luar biasa dari dua elemen kontras sekaligus di dalam satu waktu.
Persis seperti monster Z-098 yang kekuatannya diperoleh dari gabungan fisik puluhan eksperimen yang dirangkai--namun dengan cara yang agak berbeda.
Akame dan Yukki berontak hebat demi mengetahui hal itu. Tetapi, entah mengapa tubuh mereka tiba-tiba berhenti bergerak, tidak mau dikendalikan oleh pemiliknya. Membuat kedua gadis kebingungan, sementara serabut-serabut benang ungu yang sangat tipis bergerak lincah, melilit kedua tangan dan kakinya, secara ajaib membuatnya terjungkal keras, memaksa kedua jiwa kristal es dan api berhenti melawan, tunduk patuh dalam keadaan tersungkur kepada si pria pirang berjas hitam.
Dari sudut ruangan yang gelap, seorang gadis mungil berambut hitam-ungu yang elok bagai boneka porselen melangkah keluar sambil mengangkat tangan kanan--berpendar cahaya sihir ungu yang aneh, menggerakkan kedua tangan Yukki-Akame melalui jemari-jemarinya ke belakang punggung, memelintirnya sampai patah, membuat gadis dengan dua jiwa menjerit kesakitan--sementara si boneka porselen yang juga memakai jas hitam berlogo putih berujar dengan wajah yang tidak bersalah,
"Hei...Jade...Sepertinya alatmu ini rusak dan tidak mau menurut? Boleh kubunuh lalu kujadikan pasukan bayangan? Dia tampak kuat sekali...",
Lelaki yang dipanggil Jade terkekeh pelan.
"Sayang sekali, Enma-chan...Tetapi Nomor 99 dan 100 adalah satu-satunya eksperimenku yang kuanggap 'berhasil'..."