Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #18

Pertahanan Gedung Perserikatan

Tanpa menunggu basa-basi perkenalan, panglima pertama yang memimpin pertahanan langsung mengayunkan kedua tangan.

"SEMUANYA, SERANG!!!",

Ratusan lingkaran sihir bermunculan di langit, jalanan, dan jendela Gedung perserikatan. Detik berikutnya, secara beruntun ratusan jurus menghantam pasukan musuh yang baru saja datang. Di garis belakang pihak penyerang sendiri, ketiga panglima ditambah Ketua perserikatan melancarkan serangan sihir mereka yang sangat kuat. Api, tumbuhan, Cahaya, Kegelapan, kristal—semuanya datang silih ganti, menciptakan dentuman kuat yang menggelegar, mengepulkan debu dan asap. Menghalangi pandangan.

Akan tetapi, seperti yang diduga, gadis kecil yang menjadi target utama pihak kerajaan dan perserikatan gagal untuk dilumpuhkan. Parahnya lagi, ia sama sekali tidak terluka. Langsung dilindungi oleh pasukan bayangannya disekitar, menciptakan barikade hidup sebagai tameng, terhindar dari segala serangan sihir. Pasukan bayangannya memang sempat kehilangan anggota tubuh. Namun, dalam sekejap anggota tubuh yang terpisah itu kembali lagi untuk menyatu dengan yang lain.

Persis seperti bayangan yang berusaha untuk dihancurkan: mustahil.

Terbatuk pelan karena debu yang mengepul, gadis kecil berambut hitam-ungu dengan datar memberi perintah, menggerakan jemari mungil yang dipenuhi serabut ungu,

"Pasukan boneka bayangan...",

"...Habisi mereka!",

Persis perintah itu diturunkan, seratus pasukan bayangan menyerbu Gedung perserikatan yang dilindungi oleh koalisi penyihir kerajaan dan para petualang.

Senjata-senjata hitam teracung. Tongkat-tongkat sihir menciptakan lingkaran aktivasi.

Di detik berikutnya, dentuman kencang terdengar dari mana-mana. Logam anti sihir yang menjadi tameng prajurit garis depan kerajaan memercikkan api begitu dihantam senjata pasukan hitam. Dari garis belakang, Najimi Harui terus memberikan dukungan dengan membatalkan kendali boneka bayangan yang digerakkan melalui sihir. Hanya saja, setiap kali ia membatalkan kendalinya, gadis di garis belakang itu kembali mengaktivasi sihir pengendalian, membuat pasukan bayangan yang tadinya lumpuh kembali bergerak.

Salah satu kelemahan terbesar sihir pembatal wakil kepala perserikatan adalah pada cakupan sasarannya.

Ia hanya bisa membatalkan satu jurus sihir saja setiap kali mencoba mengaktifkan kekuatannya. Sementara gadis kecil psikopat di belakang itu menggunakan satu sihir tunggalnya untuk setiap pasukan bayang yang dimiliki. Dengan kata lain, Kageha Enma sebenarnya sedang mengontrol seratus aktivasi sihirnya sekaligus dalam satu waktu untuk mengendalikan seratus pasukan bayangan secara serentak.

Bagi Najimi Harui, membatalkan seratus aktivasi sihir sekaligus itu sama halnya dengan mati.

Ia tidak akan mampu melakukannya.

"Bertahan!! Jangan biarkan pasukan zirah hitam itu merusak formasi kita!!",

Dengan sihir boneka bayang yang kembali diaktifkan, pasukan Kageha Enma kembali menyerang buas penyihir kerajaan garis depan yang menggunakan pedang dan tameng, membasmi dalam sekali serang. Sama sekali bukan tandingan mereka.

Malam yang tenang itu pun menjadi gaduh.

Ditengah semilir angin yang dingin, jeritan kematian mengisi seolah harmoni yang sedang dimainkan. Lontaran sihir, anak panah hitam dan serabut ungu menggantung seolah melukis pemandangan di langit.

Dalam sekejap, korban pun berjatuhan. Semuanya berasal dari pihak yang bertahan. Sementara dari anggota Malaikat Hitam Nomor 7 sendiri, tidak ada yang berkurang. Kekuatan tempur 'mereka' masih utuh. Seratus pasukan bayangan yang dihujani serangan sihir dalam sekejap bisa sembuh, kembali ke bentuk semula untuk kemudian menyerang lebih keras—karena mereka adalah 'bayangan'. Sementara Ketika pengendalinya di belakang diincar, puluhan dari mereka kompak mundur secepat angin, Menyusun barikade pelindung yang efektif menghalau segala serangan sihir. Memastikan Kageha Enma sama sekali 'tidak dapat disentuh', sementara yang lain terus merengsek maju, membantai lebih banyak lagi penyihir kerajaan dan petualang yang bertahan.

Melihat anggotanya sama sekali tidak mampu menahan pasukan bayangan si Nomor 7, pria berambut hitam yang memimpin pertahanan berseru kepada panglima kedua dan ketiga,

"Kalian...bersiaplah untuk menembus garis belakang musuh! Kita akan lawan Si Nomor Tujuh dari jarak dekat! Hanya itu cara yang bisa kita lakukan sebelum semua pasukan kita terbantai!",

Hanoki Ikidori dan Orihara Kanae mengangguk paham.

"Siap, Moris-san!!",

Mulai menghitung mundur.

Tiga.

Dua.

Satu.

"SERBU!!",

Sihir Api Tingkat Tinggi: Meriam Api Raksasa!!

BUUUUMMM!!

Lihat selengkapnya