“Kalian tidak akan menang melawan kelompok itu, bocah. Percayalah padaku”,
Saat itu briefing rencana pertempuran di Gedung serikat masih berlangsung. Dengan tujuan kerajaan dan perserikatan yang lebih jelas, aku memutuskan bergabung dengan mereka untuk sementara waktu. Formasi dibagi tetapi demi mengetahui aku membawa Kekuatan Peniru, para panglima sepakat ikut melarikanku ke ibukota dikawal beberapa prajurit yang membawa surat untuk Master Azaroth, Sang jendral besar kerajaan, bersama tubuh Yukki yang sudah kaku.
Akan tetapi, dalam suasana yang masih tegang, kulihat lelaki gagah berambut pirang pendek itu malah muncul seolah baru saja berteleportasi, melangkah santai di meja rapat seolah sedang menampilkan drama, kemudian ia duduk dengan tidak sopan sekali di hadapan para panglima dan petinggi serikat. Menatapku tajam.
“Jangan ikuti cara mereka, itu hanya bunuh diri.”,
Namun, karena tidak ada seorang pun yang merespon ucapan dan tingkah si lelaki tampan beraura bangsawan ini, kemungkinan besar hanya aku yang bisa melihat sekaligus mendengar ucapannya.
Tunggu.
Tunggu dulu.
Mengapa hanya aku yang bisa melihat lelaki ini?—Aku malah bertanya pada diri sendiri.
Bingung.
Apakah ini ada hubungannya dengan Kekuatan Peniru yang diberikannya padaku?
“Hoi, bocah. Apakah kau mendengarku?”,
Merasa dirinya diacuhkan, akhirnya lelaki yang mengaku sebagai Sang Peniru itu melotot padaku, bertanya dingin.
Aku pun refleks menjawab.
“Te—Tentu saja aku mendengarmu, Tuan--!”,
Kemudian baru teringat bahwa rapat masih berlangsung dan orang-orang penting sedang berbicara. Memaki diriku sendiri di dalam hati mengapa aku begitu ceroboh.
Spontan saja semua orang menoleh, mengernyitkan dahi melihat gelagatku yang aneh, bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi.
Namun, dengan ilham yang turun entah dari mana, aku menjelaskan.
“Te—Tentu saja aku mendengarmu, Moris-san…! Idemu bagus sekali! Sepertinya kita bisa menang dari mereka..!! Um..…Mungkin?”,
Demi mendengar itu para hadirin menghela nafas, menggeleng-gelengkan kepala pelan, memaklumi tingkahku yang masih bocah, melanjutkan pembicaraan.
Moris Wesley sendiri mengangkat kedua sudut bibirnya.
“Hm…Kau memuji kecerdasanku, anak muda? Hahaha…Kau memiliki insting berperang yang bagus…”,
Aku jadi merasa bersalah.
Sebenarnya…Aku daritadi tidak paham apa yang sedang mereka bicarakan.
Akan tetapi, karena Sang Peniru kembali menatapku dengan pandangan yang aneh, aku hendak bersuara lagi—
“—Dalam hati saja”, Lelaki bangsawan tampan memberitahu seolah ia bisa membaca pikiranku.
“Aku ini juga ‘memiliki’ Sihir Telepati, tahu”,
Kalau begitu bilang dari tadi!!—Aku berseru tanpa suara.
Lelaki berambut pirang dan mata biru indah mengangkat bahu.
“Kupikir kau cukup cerdas untuk menyadarinya”,
“Akan tetapi…Sepertinya aku salah, ya?”,
Katakan saja apa maumu kali ini, Tuan Peniru?!
Menukas cepat, aku langsung bertanya ada apa gerangan lelaki ini kembali muncul di hadapanku dengan jubah kebesarannya yang berwarna biru. Tebal dan hangat.
Pria tampan itu berhenti sejenak untuk berpikir. Namun seringainya yang tiba-tiba muncul membuatku berpikir bahwa jawabannya setelah ini pasti tidak sungguh-sungguh.
“Aku ingin kau mencicipi rasanya kematian, Takagi Amuro.”,
Tuh, benar, kan?
…A—Apa maksudmu?! —Aku berseru dalam hati.
Kau sedang bercanda, bukan?!
“Sebagaimana judulnya”, Lelaki itu menegaskan.
“Kau akan kukirim sejenak ke jurang kematian supaya dapat mengatasi persoalan pelik kali ini. Untuk detailnya kau akan segera tahu”,
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat.
Aku menolak!! M-E-N-O-L-A-K!!
Tetapi seringai Sang Peniru tambah lebar.
“Dari awal aku juga tidak meminta persetujuanmu, bodoh”,