Tubuh Kageha Enma yang diselubungi bayangan pekat gemetar hebat. Rasa sakit jelas menggerogotinya. Akan tetapi, jutaan serabut hitam dengan cepat merajut kembali fisik penyihir tersebut yang mungil. Tanpa memedulikan rasa sakit, jemarinya yang masih utuh terus menari, menenggelamkan kesadaran di antara jalinan benang-benang hitam.
Serabut-serabut yang kebal terhadap medan anti-sihir perlahan membangun ulang wujud Si Nomor Tujuh. Mula-mula tercipta sepasang kaki dan tangan raksasa, lalu menyambung ke kepala berkulit gelap yang menjadi tempat persembunyian si gadis hingga terbentuklah sesosok boneka gemuk setinggi gedung perserikatan lima lantai. Monster itu menoleh ke bawah, menatap tajam ke arahku dan Yukki-san.
Dari kedalaman dada boneka bayangan raksasa, Enma berseru penuh amarah. Mata anak kecilnya yang polos melotot hebat, menyiratkan benci dan dendam yang pekat. Jemarinya gesit mengendalikan ribuan senar hitam.
“Aku… sama sekali tidak akan melanggar janji pada Ibu!”
Sihir Boneka Bayangan Tingkat Tinggi: Boneka Tempur Raksasa!
Begitu tercipta dengan sempurna, monster boneka hitam yang berat langsung mengayunkan kedua tinjunya, meremukkan udara menuju ke arahku dan Yukki-san—dua penyihir di garis terdepan.
“Yu—Yukki-san!”
“Aku paham!”
Tanpa sempat bersiap sepenuhnya, aku segera meniru sihir kepala perserikatan untuk memicu dinding berlian, sementara Yukki-san melapisinya dengan tumpukan benteng es yang kokoh. Berharap gabungan jurus itu mampu menahan serangan musuh—
BLAAAR! BLAAAR!
—Tapi luar dugaan kami berdua, pukulan boneka yang wujudnya sepintas menggemaskan itu ternyata menyimpan daya hancur yang luar biasa. Pelindung berlian dan benteng es kami hancur lebur. Hantaman mentah melontarkan kami berdua ke udara.
Dadaku remuk, darah kental menyembur dari mulutku. Dalam keadaan melayang tak berdaya, Shirayaki Yukki berseru.
“A—Amuro-kun!” Panggilnya, dengan tubuh yang sama cederanya denganku. “Matikan medan anti-sihirnya!”
Aku mengangguk cepat—kami harus menggunakan sihir penyembuhan untuk memulihkan diri.
Dengan satu letupan niat di kepala, medan ungu muda raksasa yang membentang di daratan melenyap seketika bersamaan dengan satu ayunan tanganku. Kemampuan sihir kedua belah pihak pulih penuh, memicu babak baru pertempuran yang jauh lebih brutal dan mematikan.
Sihir Es: Sentuhan Penyembuh!
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Es: Sentuhan Penyembuh!
Aku dan Yukki menyembuhkan diri sambil mempersiapkan diri menghadapi skenario terburuk: pertarungan terbuka.
Seruanku pun pecah.
“Semuanya, hentikan gadis itu sekarang!”
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Boneka Bayangan — Bangkitkan Mayat!
Sambil melayang di udara bersama gadis yang memiliki dua kesadaran, aku menandai setiap lokasi sisa-sisa pasukan bayangan Enma yang lumpuh. Aku memfokuskan mana, mengalirkan energi sihir, lalu membajak kendali seratus pasukan bayangannya sekaligus.
Aksiku berhasil mengunci pergerakan mereka, memberi celah berharga bagi seluruh pasukan kerajaan dan perserikatan untuk melancarkan serangan. Mematikan ancaman besar yang sebelumnya melanda para penyihir Voltaire.
Di sampingku, Yukki-san bertukar posisi dengan kakaknya, Akame-san, yang telah berdamai dengan diriku. Rambutnya berubah merah menyala, matanya berkilat kuning keemasan. Begitu mengambil alih tubuh fisik, wanita itu langsung membentak dengan nada kasarnya yang khas.
“Dari sini biar aku yang urus! Woi, Bocah! Mundur sana!”
Gadis itu melakukan akrobatik indah di udara. Melesat dengan kecepatan tinggi menuju kepala monster bayangan yang baru saja memukul. Kedua tangannya diselubungi kobaran api biru yang menyala terang dalam bara.
Ia tersenyum lebar.
“Siapkan dirimu sekarang, boneka jelek!”
Sihir Api: Tinjuan Api Biru!
BUUUM!
Mengandalkan kekuatan otot beserta dorongan gaya berat yang dipercepat di detik-detik terakhir, Akame meluncur lurus menyasar kepala monster. Namun, meski gerakannya sudah secepat dan segesit itu, Enma ternyata sudah mengantisipasinya.
Kedua lengan raksasa boneka terangkat, berperan sebagai tameng darurat. Ledakan api biru itu membahana di lengan tersebut, menghempaskan monster boneka bayangan beberapa meter ke belakang hingga menghancurkan permukaan jalan ibu kota. Kemudian ia padam.
Lengan monster yang digunakan sebagai pelindung terkoyak parah dengan serabut-serabut yang putus tak beraturan. Hanya saja, dalam hitungan detik, serabut itu merajut diri kembali, utuh tanpa celah seolah tak pernah dilukai sebelumnya. Persis sekali seperti pasukan bayangan berzirah hitam—tapi kali ini dalam skala raksasa.
“Jadi… Begitu, ya…” Suara gadis berambut ungu-hitam yang terluka parah bergema, diiringi seringai lebar. “… Kau menyabotase pasukanku menggunakan kekuatan peniru?”
“… Menarik.”