Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #23

Pertempuran habis-habisan

Tubuh Kageha Enma yang diselubungi bayangan pekat terlihat gemetar. 

Ia jelas kesakitan. 

Akan tetapi, dengan jutaan serabut hitam yang merajut badannnya sendiri yang kecil hingga penuh membuatnya dapat mengabaikan segala rasa sakit, tetap mengontrol kendali kekuatannya melalui jemari yang masih berfungsi, menenggelamkan dirinya sendiri diantara benang-benang hitam yang pekat.

Serabut-serabut yang tidak mampu diserap medan anti-sihir itu perlahan membangun ulang tubuh Si Nomor Tujuh.

Mula-mula ia menciptakan kaki, tangan, lalu beralih ke kepala bermata hitam yang menyimpan tubuh si gadis. Dengan badan gemuk setinggi gedung serikat lima lantai seandainya masih berdiri. Menoleh kebawah, memandangku dan Yukki yang mulai kini berhitung. 

Dari dalam monster bayangan raksasa yang begitu besar dan tinggi, Kageha Enma yang menolak untuk menyerah berseru penuh amarah. Kedua mata gelap anak kecilnya yang polos melotot hebat. Menyiratkan benci dan dendam.

Jemarinya gesit mengendalikan ribuan senar hitam.

"AKU SAMA SEKALI TIDAK AKAN...MELANGGAR JANJI PADA IBU!!!"

Sihir Boneka Bayangan Tingkat Tinggi: Boneka Tempur Raksasa!!

Begitu selesai tercipta, monster boneka hitam yang gemuk dan berat itu langsung mengirimkan pukulan kedua tangan yang mengarah kepadaku dan Yukki selaku penyihir paling depan.

Tak sempat merespon dengan baik, aku segera memasang tembok berlian dengan meniru sihir kepala serikat sementara Yukki-san melapisi dengan dinding es indahnya yang bertumpuk-tumpuk.

BLAAAR!! BLAAAR!!!

Akan tetapi, diluar persangkaan kami berdua, boneka bayangan yang sejenak cukup imut itu ternyata memiliki kekuatan pukulan yang sangat dahsyat. Mampu menghancurkan tembok berlian dan pelindung es yang bersama-sama kubuat dengan Yukki. Menonjok kami berdua mentah-mentah hingga terlempar ke langit. Merasakan sakit yang luar biasa hebat. Termuntah darah sejenak. Untuk kemudian bersiap melakukan sihir es Sentuhan Penyembuh.

"A--Amuro-kun! Matikan medan anti-sihirnya!!" Yukki-san berseru bersama saudarinya, Akame.

Aku mengangguk.

PLOP!

Melalui satu perintah di pikiran, medan ungu muda raksasa yang memenuhi daratan kawasan gedung serikat kulenyapkan bersamaan dengan satu ayunan kecil. Membuat kedua belah pihak mampu melancarkan serangan sihir masing-masing kembali. Menciptakan pertempuran yang lebih sengit. Lebih mematikan.

Detik itu juga, aku mempersiapkan diri untuk skenario terburuk: pertarungan terbuka. Semua orang lawan satu.

"SEMUANYA, SEGERA HENTIKAN GADIS ITU!!"

Sihir Peniru: Tiruan Sihir Boneka Bayangan: Bangkitkan Mayat...Seratus kali!!

Sihir Es: Sentuhan Penyembuh!!

Melayang mengudara bersama gadis yang memiliki dua kesadaran, aku menandai setiap lokasi bangkai pasukan bayangan Kageha Enma yang sudah tak bergerak, memfokuskan pikiran sambil mengalirkan energi sihir, meniru balik cara si pengendali, mengambil alih pasukan bayangannya yang berjumlah seratus melalui seratus aktivasi sihir sekaligus, mencegahnya dikendalikan lagi oleh pihak musuh, memberikan ruang dan waktu yang sangat berharga bagi seluruh pasukan kerajaan serta perserikatan untuk menyerang musuh. Sementara Yukki-san di sebelah menyembuhkan diriku bersamanya dalam waktu singkat. Langsung berubah wujud menjadi Akame. Berambut merah. Mata kuning emas.

"Dari sini biar aku yang menyelesaikan. Woi, bocah! Mundurlah sana!!" Dengan nada kasarnya, Akame yang kini menguasai tubuh Yukki melakukan akrobatik indah di langit, sekonyong-konyong melaju dengan kecepatan tinggi, melesat kembali kearah boneka bayangan raksasa yang baru saja menghempaskan tubuhnya. Menyelubungi kedua tangan dengan api biru yang berkobar. Tersenyum lebar.

"Siapkan dirimu mulai sekarang, boneka jelek!!"

Sihir Api: Tinjuan Api Biru!!

BUUUM!!

Mengandalkan kekuatan otot beserta gaya dorongnya yang dipecepat di detik-detik terakhir, Akame yang meluncur lurus di udara langsung menyasar kepala monster boneka bayangan yang menjadi tempat persembunyian Kageha Enma--akan tetapi gadis itu sudah menebaknya. Menghalangi serangan frontal dengan kedua tangan sebagai tameng. Mengalami ledakan biru dahsyat yang begitu berisik. Terdorong mundur beberapa meter seketika--membuat jalan ibukota rusak.

Tangan yang digunakan sebagai pelindung rusak dengan serabut-serabut putus tidak beraturan. Akan tetapi, dalam sekejap ia tersambung kembali, merajut diri. Hingga di detik berikutnya tampak baik-baik saja seolah tak pernah dilukai.

Persis seperti seratus pasukan bayangan berzirah hitam yang dihadapi koalisi kerajaan-serikat sebelumnya.

Namun kali ini dalam versi raksasa.

"Jadi begitu..."

Gadis berambut ungu-hitam yang terluka parah di dalam tubuh monster boneka bayang menyeringai lebar.

"...kau berencana menyabotase pasukanku dengan cara mengendalikannya melalui kekuatan peniru, ya...?"

Jemari-jemarinya menari lebih cepat.

"NAIF SEKALI!!!"

Sihir Boneka Bayangan: Kendali Paksa...Seratus kali!!

"ARKKGH!!"

"A...A--APA YANG TERJADI?!!"

"HEI, JANGAN SERANG AKU---KYAAA!!!!"

Melalui jaring-jaring lebat yang kembali ditebar di langit, Kageha Enma mulai mencari boneka-bonekanya yang baru. Menyerbu pasukan penyihir kerajaan dan serikat yang terpecah-pecah, mengikat mereka satu demi satu melalui serabut senar hitam yang sangat kuat dan kokoh. Mematahkan kaki. Menghancurkan fungsi sendi.

Menciptakan pasukan bayangan barunya.

Dengan puluhan penyihir berhasil diambil alih, Si Nomor Tujuh mengadu-domba antar anggota pihak lawannya. Membabi buta di balik garis pertahanan musuh. Sementara dirinya sendiri kembali maju dengan fisik boneka bayangan raksasa yang dikendalikan. Menyerang balik Akame yang masih mengambang di udara, hendak menepuknya melalui dua telapak tangan, menghabisi nyawa gadis itu layaknya nyamuk.

Lihat selengkapnya