Hembusan angin bertiup lembut, menimang rumput setinggi mata kaki yang menari ke kiri dan ke kanan. Daun-daun hijau berguguran, melayang bebas bersama kelopak dandelion putih yang merekah.
Di atas sana, angkasa terbentang membiru bagai samudra tanpa tepi. Awan-awan mengambang tenang, dilingkupi pendar matahari hangat yang seolah tak pernah mengenal kata malam. Tak ada bukit, tak ada gunung—hanya hamparan daratan rata yang dikepung benteng rimba lebat secara melingkar.
Di tengah surga terpencil itu, sepasang saudari terbaring santai. Canda tawa berderai pelan di antara mereka.
Gadis pertama memiliki rambut biru muda sehalus sutra, tergerai menyapu helai-helai rumput dan semerbak kelopak bunga. Di sisinya, sang kakak tampil dengan rambut merah menyala yang terikat simpul putih, berkilau bak permata rubi di kegelapan. Manik mata mereka—hijau zamrud dan kuning keemasan—tampak begitu jelita di bawah bingkai bulu mata hitam nan tebal.
Keduanya mendadak bungkam ketika menyadari kehadiran pihak ketiga. Mereka beranjak duduk, melemparkan pandangan penuh rasa ingin tahu.
Bukan sosok dewasa yang berdiri di sana. Hanya seorang remaja laki-laki dengan tinggi tak lebih dari seratus lima puluh sentimeter. Matanya merah menyala, sementara rambut hitamnya yang pendek tampak sedikit acak-acakan, membingkai parasnya yang putih bersih.
Dengan langkah mantap, sosok itu mendekat, memecah keheningan damai kedua gadis tersebut.
“Maafkan aku… Akame-san, Yukki-san…”
Mendengar penyesalan itu, dua manifestasi inti kristal sihir api dan es tersebut hanya bergeming. Kecerahan iris mata mereka berkilat indah bak permata jernih.
Aku—yang baru saja berhasil menembus ‘dinding penderitaan’ Shirayaki Bersaudari dan mengecap siksaan yang jauh lebih mengerikan dari kematian—berkata lirih.
“Apakah kalian berkenan…” Suaraku tertahan. “… Hidup di dunia nyata sekali lagi?”