Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #25

Pemilik Kekuatan Peniru Terbodoh

Latar belakang sudah berganti ketika aku membuka mata.

Tenda kuning. 

Bantal putih keras.

Semangkuk sup hangat yang diletakkan di sebelah kepala.

Sambil menahan perih di sekujur tubuh, aku berusaha duduk. Tetapi, demi rasa sakit yang mendera di seluruh badan, seketika aku ambruk kembali. Menghantam bantal yang sama sekali tidak nyaman. 

Bertanya-tanya aku dimana.

"Jangan bergerak banyak, Amuro-kun! Jiwamu masih terlalu lemah!"

Suara gadis yang berasal dari belakangku berseru. Memerintah untuk tidak macam-macam.

Membuatku terdiam.

Ternyata aku tidak sendirian di dalam tenda kuning ini.

Merasa mengingat sesuatu di masa lalu, aku akhirnya menoleh sedikit ke belakang, bertanya.

"...Jiwaku...Masih terlalu lemah...?"

Wanita yang tadi memerintah menjawab meski wajahnya belum bisa kulihat.

"Benar." Katanya.

"Karena berlebihan menggunakan sihir dengan fisik yang semakin lemah, akhirnya kekuatan sihir yang hendak kau kendalikan malah balik menyerangmu. Menyerang sel-sel tubuh hingga rusak di mana-mana. Menggerogoti jiwa hingga langsung pingsan seketika."

Ia lalu bertanya balik.

"Memangnya kau tidak mengetahui hal tersebut?"

Aku mengangkat kedua bahu.

"Er... Aku tidak pernah mendengarnya..."

Si wanita menghela nafas pelan. Namun dia berkata.

"...Mungkin kau bisa mendapatkan pengetahuan tentang efek samping penggunaan sihir nanti jika masuk ke Akademi Sihir Omnius yang agak jauh dari ibukota..."

Aku mengernyitkan dahi.

Akademi Sihir... 

...Omnius?

Akan tetapi, belum sempat aku bertanya lagi, pintu masuk tenda yang hanya berupa selembar kain kuning tipis mendadak tersingkap. Dibuka dari luar. 

Memunculkan sosok lelaki tampan rambut merah yang sangat familiar.

"Hei, Anri-chan...~! Bagaimana kondisi Amuro-kun saat ini...~? Apakah ia sudah sadar--Oh, Amuro-kun~!!" Dengan suara yang bernada tinggi, panglima ketiga Orihara Kanae mengangkat kain gorden pintu masuk tenda, melambaikan tangan menyapaku. 

Masuk dengan wajah antusias sambil membawa dua kantung air. Masing-masing diserahkan kepadaku dan wanita yang ada di belakang.

Aku agak terperanjat.

A... Anri-chan?

Segera menolehkan kepala lebih ke belakang. Terbelalak.

Duduk dengan sorot mata lemah, Anri Heart ternyata juga terluka parah. Kedua kakinya diamputasi hingga selutut. Lengannya diperban di beberapa bagian. 

Wanita itu minum perlahan air yang baru saja diberikan dengan raut menahan perih setelah mengucapkan terima kasih kepada panglima ketiga yang kini menggenggam tangan kirinya. Terkejut melihatku sedang memerhatikan wanita tersebut, tersenyum kecut.

"Ada apa, Amuro-kun?"

Aku terdiam bisu.

Tidak tahu hendak berkata apa.

Tiba-tiba merasa malu terhadap wanita yang dulunya berhasil menyembuhkan cederaku yang fatal.

Membuatku ingin segera bangkit menyembuhkan.

Lihat selengkapnya