Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #36

Pemilik Kekuatan Peniru Terbodoh

Latar pemandangan sudah berganti sewaktu mata ini terbuka.

Atap tenda bernuansa kuning. Bantal putih yang keras dan kaku. Serta semangkuk sup hangat yang mengepul di samping kepala.

Menahan perih yang menggerogoti sekujur tubuh, aku bersusah payah mencoba duduk. Namun, sengatan rasa sakit memotong gerakan itu secara paksa. Tubuhku ambruk kembali, menghantam bantal yang sama sekali tak nyaman. Melontarkan pertanyaan kepada diri sendiri.

Di mana aku?

“Jangan banyak bergerak, Amuro-kun! Jiwamu masih terlalu lemah!”

Suara seorang gadis bergema dari arah belakang—sebuah nada perintah yang tegas agar aku tak berbuat gegabah.

Aku mematung.

Ternyata aku tak sendirian di dalam tenda kuning ini.

Samar-samar mengingat sesuatu dari masa lalu, aku memiringkan kepala sedikit ke belakang. “... Jiwaku… masih terlalu lemah…?”

“Benar,” sahut suara itu, meski aku belum bisa melihat parasnya. “Kau terlalu memaksakan sihir dalam kondisi fisik yang rapuh. Akibatnya, aliran energi yang hendak kau kendalikan justru berbalik menyerangmu. Merusak sel-sel tubuh dan menggerogoti jiwa hingga kau hilang kesadaran.”

Ia menghela napas pelan sebelum bertanya kembali, “Memangnya kau tidak tahu soal itu?”

Aku menggidikkan bahu samar. “Er… aku tidak pernah mendengarnya…”

“... Mungkin kau bisa mempelajari efek samping penggunaan sihir seperti ini kelak jika kau masuk ke Akademi Sihir Omnius di luar ibu kota.”

Bola mataku mengerjap.

Akademi Sihir… Omnius?

Sebelum sempat aku melontarkan pertanyaan berikutnya, kain kuning yang berfungsi sebagai pintu tenda mendadak tersingkap dari luar. Memunculkan sosok pemuda berambut merah dengan paras tampan yang teramat familiar.

“Hei, Anri-chan~! Bagaimana keadaan Amuro-kun sekarang~? Apakah dia sudah sadar—oh, Amuro-kun~!!”

Dengan nada tinggi yang riang, Panglima Armada Ketiga, Orihara Kanae, menyibak tirai tenda dan melambaikan tangan. Ia masuk membawa dua kantong air, menyerahkannya satu kepadaku dan satu lagi pada gadis di belakangku.

Aku terperanjat. Mengulang lagi nama yang baru saja ia panggil.

A… Anri-chan?

Seketika aku memutar kepala lebih jauh ke belakang. Mataku terbelalak lebar.

Duduk bersandar dengan sorot mata yang redup, Anri Heart ternyata menderita luka yang teramat parah. Kedua kakinya diamputasi hingga batas lutut. Lengannya terbalut perban di sana-sini. Begitu menyedihkan.

Gadis itu menenggak air secara perlahan, menyembunyikan guratan perih di wajah setelah mengucapkan terima kasih kepada sang panglima—yang kini menggenggam erat tangan kirinya.

Saat menyadari aku sedang menatapnya tanpa kata-kata, Anri hanya bisa menyunggingkan senyum kecut. Bertanya lembut.

“Ada apa, Amuro-kun?”

Aku membisu. Tenggorokanku mengering, tak tahu harus bertindak apa. Rasa bersalah bergulung hebat di dalam diriku—gadis ini dulu pernah menyembuhkan lukaku yang fatal—tetapi kini ia terbaring hancur. Begitu lemah tak berdaya.

Naluriku mendesak untuk segera bangkit menyembuhkannya.

“A—Anri-san, kaki Anda!” Aku berseru, ingin memaksa diriku sedikit lebih jauh.

Lihat selengkapnya