Kami berhasil terselamatkan karena bantuan dari kawasan istana yang dipimpin langsung oleh sang jenderal Voltaire, Master Azaroth.
Di detik-detik terakhir dimana ratusan bola api sudah setengah jalan untuk meluluh-lantakkan pasukan sekutu yang tersisa, ia melepaskan salah satu jurus sihir waktunya, Putar Ulang, untuk memutar balik waktu ke masa lalu hingga semenit ke belakang, melesat kepada Shirayaki Akame yang saat itu baru saja terkena serabut hitam, menebas untuk melepaskannya, lantas tanpa jeda sedikitpun melakukan akrobatik yang sangat rumit, melepaskan tebasan-tebasan lanjutan yang segera mencabik tubuh monster boneka bayangan bahkan sebelum ia sempat bergerak.
Mencerai-beraikan benang-benang pekat yang digunakan untuk merajutnya. Membuat si gadis kecil Kageha Enma menjerit kesakitan, ikut terkena beberapa tebasan yang menyasar tubuhnya.
Termuntah darah.
Lalu kembali ke masa depan semenit berikutnya.
Mendapati ratusan bola api menghilang.
Shirayaki Akame terlepas, jatuh ke tanah.
Sementara Si Nomor Tujuh melongo tidak percaya, ambruk bersama boneka bayangannya yang sudah tidak berupa. Terkulai di jalanan sementara beberapa luka di tubuhnya terus mengucurkan darah.
'Bertarung dengan kembali ke masa lalu'.
Itulah kekuatan sang benteng terakhir kerajaan Voltaire yang tidak terkalahkan.
Mendarat dengan katana masih terhunus, Master Azaroth yang tidak ingin musuhnya terlalu lama menderita sebelum mati segera mendirikan kuda-kuda baru, melesat sekali lagi untuk menghabisi si gadis kecil yang sudah tidak tertolong, hendak menebas batang lehernya demi mempercepat kematian--
SAT!
--Akan tetapi tubuh gadis itu hanya terlewat begitu mata pedang katana melintas, membuat sang jenderal terdiam untuk beberapa saat, kemudian paham apa yang sedang terjadi.
Menghembuskan nafas kecewa. Menyarungkan pedangnya sambil mendarat. Melempar pandangan ke ujung jalan yang seolah bergetar udaranya dengan pola mencurigakan.
Bergumam.
"Sihir ilusi, ya...?"
Jubah putih kerajaan dengan bintang emas tiga di kedua bahu terkibar bersama angin pagi yang dingin. Debu yang tercipta dari pertempuran semalaman membuat kabut abu-abu disekitar area gedung. Langit-langit mulai cerah kembali. Mentari bersinar hangat.
Dari kejauhan, sorak-sorai pasukan penyihir yang tersisa terdengar menggema penuh kebahagiaan. Pasukan berkuda yang baru saja menyusul dari pusat ibukota begitu berisik mendekat, melakukan pengobatan darurat terhadap korban yang terluka. Mendirikan tenda. Menyiapkan makan.
Sementara Claude Vincost bersama ketiga panglima tetap panik. Bersimpuh di hadapan seorang gadis berambut pink yang tak lagi bergerak. Tampak sedih, berkaca-kaca. Memanggil tenaga medis yang baru datang dengan agak marah, berharap semuanya belum terlambat.
Akan tetapi, meski tiga penyembuh elit mencoba membantu, segalanya sia-sia. Wanita itu tetap tidak terselamatkan. Jantungnya telah berhenti. Nafasnya sudah lenyap. Dengan penuh rasa bersalah, ketiga penyembuh itu akhirnya menggelengkan kepala kepada empat pria yang mengelilingi korban penuh luka. Meminta mereka merelakan kepergian gadis wakil kepala serikat. Membuat suasana mendadak hening. Pilu. Lalu air mata mengalir.
Pagi itu mereka mungkin menang.
Shirayaki Yukki gagal direbut kembali, musuh yang datang berhasil dipukul mundur.
Akan tetapi, harga yang harus dibayar sepertinya mahal.
Mahal sekali.
***
Ingin sekali sebenarnya aku menghidupkan kembali Najimi Harui yang sudah tewas dengan cara yang sama ketika menghidupkan Shirayaki Bersaudari: Anugerah Jiwa. Akan tetapi, demi mengetahui Sang Peniru telah mencabut kembali pinjaman 0,001% ingatan kekuatannya dariku, badanku langsung lemas, bertanya kesal mengapa ia melakukannya.
Namun, lelaki itu dengan datar menjawab singkat.
"Kau terlalu lemah."
Itu saja.
"Jika tidak segera kuambil lagi saat kau pingsan barusan, bukan mustahil kau sudah benar-benar pindah alam sekarang. Menyusul para korban jiwa ke tempat yang mereka sebut sebagai 'dunia setelah kematian'"
Lantas lelaki berambut pirang tersebut pergi. Menghilang dari pandangan secara ajaib.
Membuatku bungkam seribu bahasa. Tidak dapat mengelak atau membantah.
Benar juga. Pikirku.