Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #37

Master Azaroth

Kemenangan itu datang bersama fajar, namun rasanya sedingin es yang merayapi tulang.

Semua selamat berkat intervensi dari kawasan istana yang dipimpin langsung oleh sang benteng terakhir kerajaan Voltaire, Master Azaroth. Di detik-detik paling kritis—ketika ratusan bola api raksasa tinggal sejengkal lagi membumiharuskan sisa-sisa pasukan sekutu—sang jenderal menghentakkan sihir waktunya: Putar Ulang.

Waktu terpelintir mundur semenit ke belakang. Dalam garis waktu yang terulang itu, Azaroth melesat kilat menghampiri Shirayaki Akame yang baru saja terjerat serabut hitam. Dengan satu tebasan presisi, ia memutus jeratan yang dapat mengekang kendali tubuh—lalu tanpa jeda, tubuh sang jenderal berputar dalam gerakan akrobatik yang teramat rumit, melepaskan gelombang tebasan bertubi-tubi yang mencabik monster boneka bayangan. Mencerai-beraikan anggota tubuhnya dalam sekejap.

Benang-benang pekat yang merajut tubuh monster itu terurai paksa. Di dalamnya, si gadis kecil Kageha Enma menjerit histeris saat sabetan katana memangkas salah satu bagian badannya, memuntahkan darah segar ke udara.

Kemudian, waktu melompat kembali ke masa depan—semenit setelahnya.

Ratusan bola api memudar hampa. Akame terhempas bebas ke tanah. Sementara Si Nomor Tujuh terbelalak tak percaya, ambruk di samping boneka bayangannya yang kini tinggal serpihan busuk. Tubuhnya terkulai di atas tanah yang basah oleh darahnya sendiri.

Bertarung dengan memanipulasi masa lalu.

Itulah kedigdayaan absolut milik Master Azaroth yang membuatnya sangat tak tertandingi.

Begitu mendarat dengan katana terhunus, Azaroth tak berniat memberi ampun. Menyadari musuhnya belum tewas, ia menyusun kuda-kuda baru. Kilatan logam membelah udara, melesat hendak mengeksekusi gadis kecil yang sekarat itu demi mengakhiri penderitaannya—

SAT!

Tapi mata pedang itu hanya menebas udara kosong.

Tubuh Kageha Enma tembus bagai bayangan air.

Sang jenderal bergemung sejenak, langsung menyadari apa yang baru saja terjadi.

Ia menghembuskan napas kekecewaan, menyarungkan katananya dengan denting halus saat mendarat. Matanya yang tajam melirik ke ujung jalan tempat udara bergetar samar.

"Sihir ilusi, ya...?" gumamnya dingin.

Jubah putih kebesarannya—dengan ukiran bintang emas tiga di kedua bahu—terkibar megah disapu angin pagi yang menggigit. Kabut abu-abu dari sisa debu pertempuran semalaman perlahan terangkat. Di atas sana, langit mulai memutih, menyiramkan pendar mentari yang hangat.

Dari kejauhan, sorak-sorai pasukan penyihir yang tersisa membahana.

***

Pasukan berkuda dari pusat ibukota tiba bergelombang, membawa hiruk-pikuk baru: merawat korban terluka, mendirikan tenda-tenda darurat, dan menyalakan perapian logistik.

Namun, di satu titik perkemahan, keceriaan itu mati.

Claude Vincost bersama ketiga panglimanya berlutut panik mengelilingi sesosok gadis berambut merah muda yang tak lagi bernapas. Dengan mata berkaca-kaca, mereka membentak tim medis yang baru datang, menuntut keajaiban.

Namun, tiga penyembuh elit Kerajaan yang diterjunkan hanya bisa tertunduk. Sihir pemulih mereka tak merespons. Jantung gadis itu telah membisu; napasnya menguap habis. Dengan rasa bersalah yang berat, para penyembuh menggeleng pelan kepada empat pria yang bersimpuh itu.

Keheningan yang mencekam mendadak merayapi area. Pilu mencengkeram dada. Tangisan pun pecah.

Pagi itu mereka memang menang: Shirayaki Yukki berhasil dipertahankan, dan invasi musuh dipukul mundur. Namun, harga yang tertinggal di atas tanah terlalu mahal untuk dirayakan.

Aku berdiri mengepalkan jemari di sudut tenda medis.

Ingin rasanya aku melempar mantra Anugerah Jiwa untuk membangkitkan Najimi Harui, sama seperti saat aku menarik Shirayaki Bersaudari dari garis kematian—tetapi, kenyataan pahit lebih dulu menghantamku.

Sang Peniru yang tadi sempat meminjamkan kekuatannya telah menariknya kembali. pinjaman 0,001% ingatan itu sudah disedot dari tubuhku saat aku pingsan. Begitu mendengarnya, seketika lututku lemas. Dengan napas memburu, aku memprotes keputusan itu di dalam benakku. Mengirimkan gelombang bentakan yang keras kepada pria tak kasat mata.

Ke… Kenapa?!—ungkapku.

Padahal kau sendiri tahu disini ada banyak korban—!

Karena kau terlalu lemah. Jawabnya, dingin.

Ia menatapku datar.

Jika tidak segera kucabut saat kau pingsan tadi, jiwamu yang ringkih itu sudah menguap dari raga.

Lihat selengkapnya