Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #27

Interogasi... Lagi.

Aku sendiri kebingungan bagaimana caranya menjawab pertanyaan tersebut. Sama sekali tak bergeming. Membuat suasana tenda pusat komando begitu sunyi hingga gemeletuk api obor terdengar pelan.

Di sebelahku Yukki-san agak terkejut demi mendengar fakta yang diberikan Master Azaroth. Melirikku sekilas. Terbayang beberapa hari lalu di hutan dekat Desa Chiharu diriku tiba-tiba bisa menyerang balik dengan kekuatan sihir api hebat saat ia menyerang dalam kendali kakaknya. Melakukan modifikasi, nyaris membunuhnya.

Membuat gadis berambut biru muda itu mempertanyakan hal serupa bagaimana caranya bocah lugu di desa terpencil seperti itu sekonyong-konyong bisa memiliki Kekuatan Peniru secara ajaib. Memukul mundur seorang anggota Malaikat Hitam sepertinya walau hanya sementara. Meniru sihir orang-orang yang ditemui. Bertarung dengan cara yang sangat mengagumkan.

Aku akhirnya menyadari betapa cerobohnya aku selama ini. 

Berbincang dengan orang yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Menuruti segala perkataannya. Menerima pemberian Kekuatan yang sumbernya sendiri antah-berantah. Tanpa sedikit pun mencurigai atau bertanya siapa lelaki itu sebenarnya.

Yang pasti, ia hanya mengaku sebagai Sang Peniru.

"Aku sendiri... Tidak tahu."

Aku akhirnya mengaku. Berujar pelan, berusaha meyakinkan orang-orang.

Semua orang yang ada di ruangan terperangah.

Membuang muka ke arah sembarang, aku menjelaskan apa yang kutahu.

"Kekuatan itu datang saat aku sedang sekarat di malam Desa Chiharu sedang dihancurkan."

Lilin-lilin berayun pelan. 

Keringat dingin mengalir melalui pelipis.

Master Azaroth beserta para panglima tidak banyak komentar. Menunggu dalam diam supaya aku kembali meneruskan. Sementara penyihir kerajaan yang baru saja datang juga mulai memahami bahwa aku bukan orang biasa. Lebih perhatian. Tidak menganggap bahwa aku sedang membual atau mengarang cerita.

Demi melihat semua orang menatapku, aku menghela nafas pelan, menceritakan apa yang telah kualami selama ini.

"Tiba-tiba saja, saat aku merasa kematianku sudah dekat, aku seolah berada dalam suatu ruangan yang tidak memiliki gravitasi. Tanpa cahaya. Tanpa suara. Sendirian seolah aku berada di alam baka."

"Namun, di saat berikutnya, sekitarku pecah seolah terbuat dari kaca, jatuh berhamburan kebawah sampai kusangka diantaranya akan menghantam tubuhku. Berteriak namun suaraku tidak keluar. Hingga kemudian ruangan itu berputar melalui suatu mekanisme canggih. Bergerak salah satu sisinya untuk melipat kearah lain. Menciptakan pemandangan luar angkasa indah yang biru tua setelah bekerja seolah bangun kubus raksasa. Lantas kutemui seorang lelaki berambut pirang sedang duduk mengambang di ruang kosong."

"Tatapannya begitu tajam dengan warna biru laut yang indah. Postur tubuhnya masih segar sehingga aku tahu umurnya mungkin sekitar dua puluhan. Dengan aura bangsawan yang khas, lelaki itu duduk diatas singgasana merah empuk yang pinggirannya dilapisi emas. Berkilau indah sementara sejumlah batu permata dilekatkan bersama ukiran-ukiran indah di bagian kayunya."

"Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh lelaki tersebut."

Mengingat percakapan singkat di alam antah-berantah, aku mengaku kepada Master Azaroth yang menyimak dengan pandangan mata menyelidik. Mencegahku berkata yang tidak-tidak. Untuk kemudian kugaruk kepala yang tidak gatal.

"Akan tetapi, setelah mengenalkan dirinya sebagai 'Sang Peniru', ia tiba-tiba bertanya kepadaku apakah aku ingin mencicipi kekuatannya..."

"... Hingga di detik berikutnya, aku telah tersadar di dunia nyata. Mendapati diriku nyaris saja dihantam sihir api mematikan yang sudah setengah jalan ke arah kepala. Secara ajaib mengeluarkan sihir api serupa seolah sedang menirunya, membuatnya saling tabrak dengan ledakan besar yang mementalkan tubuh ke belakang, berguling-guling sementara kulit tersayat rumput liar yang tajam."

Aku mengakhiri cerita pendek. Menangkupkan kedua telapak tangan.

"Dan begitulah ceritaku hingga sampai disini, Master Azaroth."

Tidak berniat berbohong untuk hal yang tidak dibutuhkan--meski aku ragu sendiri apakah lelaki di depan yang baru saja menemuiku dapat menerimanya atau tidak. Sementara ketiga panglima saling tatap. Claude Vincost menunduk menatap meja bundar yang berisi peta dunia. 

Yukki-san sendiri tampak mematut-matut dagu sambil mengernyitkan dahi. Masih dalam proses mencerna apa yang baru saja kukatakan. Maklum saja, informasi tadi jelas bukanlah suatu hal yang dapat diterima nalar jika didapatkan dari seorang bocah 10 tahun sepertiku. 

Lihat selengkapnya