Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #45

EP 27. INTEROGASI LAGI

Aku membisu, kebingungan setengah mati mencari jawaban yang tepat. Keheningan yang mencengkeram tenda pusat komando begitu pekat. Gemeletuk obor di sudut-sudut ruangan terdengar meletup nyaring.

Di sampingku, Yukki-san tersentak mendengar penuturan Master Azaroth. Gadis itu melirikku sekilas. Ingatannya pasti terlempar pada pertempuran di hutan dekat Desa Chiharu beberapa hari lalu—momen saat ia yang berada di bawah kendali kakaknya kuhantam balik dengan sihir api yang sudah dimodifikasi. Serangan itu nyaris merenggut nyawanya.

Aku bisa melihat keheranan di mata wanita itu: bagaimana bisa seorang bocah lugu dari desa terpencil sekonyong-konyong membangkitkan Kekuatan Peniru secara ajaib? Bagaimana bisa ia memukul mundur anggota Malaikat Hitam, menirukan sihir musuh yang baru ditemuinya, dan bertarung dengan taktik selincah itu?

Di titik ini, aku baru menyadari betapa cerobohnya diriku selama ini.

Aku dengan mudahnya berbincang dengan sosok asing tak kasat mata, menuruti setiap bisikannya, serta menerima hibah kekuatan yang tak memiliki asal-usul jelas, tak memikirkan siapa sejatinya lelaki tersebut.

Seorang pria yang hanya memperkenalkan dirinya sebagai Sang Peniru.

"Aku sendiri… tidak tahu," Aku mengaku pelan, menundukkan kepala demi meyakinkan mereka bahwa aku tidak sedang bersilat lidah.

Orang-orang di dalam tenda terperangah. Aku memalingkan wajah, melempar pandangan asal seraya membeberkan.

"Kekuatan itu mendatangiku saat diriku sedang sekarat… di malam saat Desa Chiharu diratakan."

Bayangan lilin berayun pelan. Keringat dingin mulai menetes menyusuri pelipis.

Master Azaroth dan para panglima bungkam. Mereka menunggu kelanjutan kisahku dalam diam. Sementara itu, penyihir kerajaan yang baru bergabung mengubah tatapannya—tak lagi memandangku sebagai bocah bual yang mengarang cerita, melainkan sebagai objek misteri yang patut diperhitungkan.

Menerima kepungan tatapan itu, aku mengembuskan napas panjang, melanjutkan.

"Saat merasa maut kian dekat, saya terlempar ke sebuah ruang tanpa gravitasi. Gelap. Hampa. Tanpa suara sedikit pun, seolah sedang melangkah ke alam baka.”

“Namun, di detik berikutnya, ruang itu pecah bagaikan cermin kaca, hancur berhamburan ke arah bawah.”

“Aku sempat berteriak karena takut tertimpa serpihannya tetapi tak ada suara yang keluar dari tenggorokanku. Lalu, ketika rasa takutku belum pudar, ruangan itu berputar secara ajaib—terlipat bagai kubus raksasa—hingga memunculkan hamparan ruang angkasa biru tua yang memesona. Dan di tengah kehampaan itu, seorang pria berambut pirang tampak duduk mengambang."

"Tatapannya begitu tajam dengan binar biru laut yang anggun. Parasnya masih muda, mungkin sekitar dua puluh tahunan tetapi memancarkan aura kebangsawanan yang teramat pekat.”

“Ia duduk santai di atas singgasana megah bertakhta kain beludru merah, lengkap dengan ukiran emas dan hiasan permata yang berkilauan."

Aku menggaruk kepala yang tak gatal, berusaha mengingat detail percakapan di alam aneh tersebut di bawah tatapan menyelidik Master Azaroth.

"Setelah memperkenalkan dirinya sebagai 'Sang Peniru', ia menawarkan kekuatannya padaku… Dan, pada saat berikutnya, aku terbangun kembali di dunia nyata—tepat tatkala sebuah sihir api mematikan menyambar ke arah kepalaku."

"Secara refleks, tubuhku melontarkan sihir api yang persis sama. Dua sihir itu bertabrakan hebat, memicu ledakan dahsyat yang melemparkan tubuh saya ke tanah hingga tergores tajamnya rumput liar."

Aku mengakhiri narasi singkat, menangkupkan kedua telapak tangan.

"Kira-kira begitulah asal-usul kekuatan ini, Master Azaroth. Kuharap kau memercayainya."

Aku tak berniat berbohong meski sejujurnya ragu apakah pengakuan fantastis dari bocah 12 tahun sepertiku ini bisa masuk ke akal sehat mereka.

Tiga panglima saling lempar pandang. Claude Vincost menunduk, menatap dalam-dalam peta dunia yang terbentang di atas meja bundar. Sementara Yukki-san bertopang dagu seraya mengerutkan dahi, berusaha mencerna tiap jengkal informasi yang baru saja ia dengar.

Lihat selengkapnya