Lima orang berjas hitam itu tampak ketakutan ketika bersimpuh diatas permadani merah yang begitu dingin dan berdebu. Menelan ludah dalam-dalam. Berdegup jantung lebih kencang. Pucat wajahnya. Gemetar kulitnya. Sementara di depan, seseorang yang dipanggil Sang Raja berdiri dari singgasana. Berjalan menghampiri kelima anggota yang sebelumnya dikirim untuk suatu misi. Terlihat marah karena tujuan yang diemban sepertinya tidak berhasil.
Shirayaki Yukki si penyihir es gagal dibawa kembali.
"Hei..."
Sosok dibalik jubah hitam megah mendesis pelan. Suaranya yang begitu mengintimidasi seketika membuat lilin padam. Angin dingin berhembus kencang, menebar debu.
"... Kenapa kalian kembali?"
Entah apa yang dilakukan si Raja, tiba-tiba saja salah satu anggota yang dikirim, Kageha Enma, menjerit kesakitan sambil memegang tangan kanan mungilnya. Meski enggan, tangan tak bersalah itu memelintir dirinya sendiri seolah diperintah seseorang. Padahal tidak ada sihir. Tidak ada aktivasi yang sedang menyelimuti.
"MO--MOHON MAAFKAN KAMI YANG MULIA!! BANYAK HAL YANG TERJADI DILUAR DUGAAN KAMI SAAT BERTUGAS!!"
Kemudian bersujud sambil menahan rasa sakit. Sementara keempat orang lain yang ada di dekatnya tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menunggu waktu sampai mereka juga disiksa, mengalami hal yang sama dengan si kecil Enma. Menunduk kearah permadani tebal sambil mengepalkan tangan. Kesal terhadap diri sendiri mengapa bisa gagal padahal kekuatan musuh lebih terbatas dan lemah daripada mereka.
Yang mulia hanya mendecakkan lidah dingin demi mendengar alasan Kageha Enma. Mengarahkan tangan kanannya pada si gadis kecil, menyahut.
"Huh... Baiklah, aku mengerti..."
"--Kau pikir aku akan berkata seperti itu?"
"ARRRGHH!!!"
Meningkatkan eskalasi siksaannya, Sang Raja memainkan jemari telunjuk, memutus tangan kanan Kageha Enma hingga menggelinding diatas karpet hangat, memuncratkan darah merah segar tak terbendung yang begitu menyakitkan dan membangkitkan trauma, membuat gadis berambut ungu-hitam seketika ambruk, memegangi bahu yang sudah buntung dan mengucurkan darah. Berteriak kencang namun tidak ada yang memedulikannya.
Sedetik setelahnya, tangan kiri gadis tersebut ikut bergerak sendiri. Memelintir kearah sudut yang mustahil untuk ditempuh gerakan sendi. Memutusnya setelah berputar dengan kecepatan yang sungguh mengerikan. Hingga si gadis kecil akhirnya tergeletak tak berdaya. Mencium lantai kastil kerajaan yang dipenuhi kegelapan dan aura kematian. Mencium bau anyir dari darah yang menggenang, meminumnya secara tidak sengaja.
"Ah~ Yang Mulia mungkin tidak tahu, ya...~? Sebenarnya, penyebab utama kami gagal merebut Yukki-chan yang manis kembali hanyalah satu...~"
Tidak tega melihat 'adik manisnya' terus-terusan disiksa, anggota Malaikat Hitam nomor delapan, Utsusemi Ringo yang memiliki rambut perak pendek memutuskan bicara, mencoba mengelak dari amukan sang pemimpin kelompok.
Akan tetapi, Raja yang terlanjur diselubungi kesal sama sekali tidak tertarik dengan pancingan tersebut. Mengalihkan tangan kanannya pada Utsusemi Ringo yang kini malah ketakutan. Bangkit dari posisi bersimpuh, membungkuk berkali-kali sambil menggaruk kepala.
"Oh, kau juga mulai berani beralasan di hadapanku, Utsusemi?"
Mulai menggunakan 'kekuatan'-nya. Membuat si lelaki berambut perak seketika merasakan organ dalamnya pecah. Batuk-batuk darah kental. Meringis kesakitan namun ia tidak berhenti menjelaskan pada Sang Raja, berujar,
"Mungkin Yang Mulia tidak akan menyangkanya..."
"... Tapi salah seorang bocah dari pihak kerajaan ada yang memiliki salah satu Kekuatan legendaris, Sihir Peniru. Karena itulah kami kewalahan kemarin."