"Perguruan Hoshigiri sangat jauh, Amuro-kun. Perjalanannya juga berbahaya. Kau tidak mungkin melakukan itu sendirian apalagi kau masih berumur sepuluh tahun, nak. Kau butuh seorang pendamping untuk bergerak kesana."
Sesuai dengan pengalaman petualang-nya yang tajam, Claude Vincost memberikan nasehat kepadaku saat kukatakan padanya akan berangkat ke Perguruan Hoshigiri--meski belum tahu dengan jelas dimana ia berada.
Maka pagi itu, raut wajahnya langsung berubah cemas. Tidak ingin diriku membahayakan diri sendiri ditengah konflik yang sedang melanda kerajaan. Meminta untuk tidak pergi kemana-mana supaya dapat dilindungi oleh para kesatria sihir dan petualang serikat.
Kesibukan mulai terlihat di pagi yang cerah, ratusan penyihir kerajaan bergotong royong memperbaiki wilayah perkotaan yang rusak. Mengangkut puing-puing. Mengaduk adonan semen. Memasang bata melalui kekuatan sihir. Membakarnya supaya cepat menyatu melalui api. Sementara sisanya merawat korban yang masih terluka di dalam tenda. Mengobati. Membagi makanan dengan rata.
Duduk diatas puing yang cukup besar, aku sebenarnya tidak setuju dengan sikap Claude Vincost yang terlihat agak mengekang. Walaupun, jika niat ini kulontarkan ke Yukki-san, aku yakin ia juga akan mengatakan hal yang sama--toh, dia juga seorang petualang.
Aku terkesiap.
Tunggu, kalau Yukki juga seorang petualang, mengapa ia tidak kuajak bersamaku saja?
Kita bisa berangkat bersama ke pegunungan Narkhaz, bukan?
"Bagaimana kalau kau berangkat bersama Yukki saja, Amuro-kun?"
Belum sempat aku bertanya, ternyata kepala perserikatan petualang itu lebih dahulu berkata. Membetulkan posisi kacamata kotaknya yang baru saja diganti karena sebelumnya jatuh terinjak, tersenyum tipis.
Aku menelan ludah. Bertanya balik.
"Memangnya... Hal itu bisa dilakukan? Yukki-san... Akan menetap disini supaya bisa dilindungi dari Malaikat Hitam, bukan?"
Claude Vincost melambaikan tangannya santai.
"Itu adalah perkara mudah bagiku, Amuro-kun. Fufufu... Aku tinggal mengelabui semua orang seolah Yukki sedang melaksanakan misi ke kerajaan tetangga, bukan?"
"Yang begitu memangnya boleh?"
"Tentu saja boleh..."
"TI-DAK-BOLEH!"
Dari balik punggungku, Shirayaki Yukki sekonyong-konyong muncul dengan syal merah yang terkibar disibak angin. Kedua pipinya mengembang. Alisnya berkedut. Urat di kepalanya menegang. Ia tadi baru saja membantu tim logistik di belakang untuk membagikan jatah sarapan lalu selesai, datang membawa dua mangkuk sup daging kelinci yang merupakan jatahku dan pria agak gendut di sebelah dengan satu taplak kayu lebar yang dibawa dengan hati-hati agar tidak tumpah.
Demi melihat ekspresi itu Claude Vincost gagap bicaranya, menggaruk kepala yang tidak gatal. Tertawa kecil.
"Ah, Yukki-chan... Ayolah... Kau butuh sejumlah uang untuk melunasi penginapan yang belum kau bayar berbulan-bulan, bukan? Kami dari perserikatan dengan senang hati akan membantumu--"
"--Kalian ingin menjadikan Amuro-kun sebagai petualang, bukan?" Menyela cepat dengan tatapan menyelidik, Yukki-san menyerahkan mangkuk berisi daging kelinci kepadaku, lalu memberikan yang milik Claude-san dengan cara lebih kasar.
Menyadari niat awalnya sudah terbaca si penyihir es, Claude Vincost tersenyum kecut.
"Ah, ketahuan, ya...?"
"Gr... Dasar tukang eksploitasi manusia!"
Shirayaki Yukki berseru. Lantas memelukku erat-erat seperti guling berjalan.
"Lihat! Amuro-kun itu masih anak-anak, tahu...! Dia tidak mungkin dibiarkan begitu saja menyeberang ke kerajaan sebelah, bukan?!"
Kepala Perserikatan mengangguk kecil. Membuang tatapannya ke sembarang arah.
"Uh... Benar juga, sih..."